MAFIA KEMBAR

MAFIA KEMBAR
CARI MASALAH


__ADS_3

Di sebuah ruangan yang minim pencahayaan 7 orang anggota klan Hercules di ikat di kursi penyiksaan yang tertanam di lantai. Seperti perintah Ryan, tidak ada yang berani menyentuhnya. Kondisi mereka masih sama seperti ketika pertama kali di tangkap.


Ryan berjalan mendekati pemimpin gerombolan itu. Orang itu terlihat ketakutan ketika Ryan datang mendekatinya. Wajah dingin dan tenang milik Ryan membuat nyalinya menciut.


"Beny! Nama yang bagus," ucap Ryan setelah membaca KTP milik pemimpin gerombolan itu.


"Siapa kamu sebenarnya? Kenapa di sini banyak sekali lambang klan Goritzma? Apa hubungan kamu dengannya?" Seseorang yang ternyata bernama Beny itu merasa penasaran.


"Aku memang anggota Goritzma. Kenapa?" Ryan mendekatkan wajahnya di wajah Beny.


"Kenapa mereka memanggil kamu Tuan Muda?"


"Karena aku masih muda," jawab Ryan asal.


Jawaban Ryan yang tidak sesuai dengan apa yang dia inginkan membuat Beny menutup mulutnya dan enggan bertanya lagi. Mafia kelas kakap seperti Goritzma memang pandai dalam menyimpan rahasia. Identitas Ryan benar-benar di jaga.


"Apa yang kamu inginkan?" tanya Beny.


"Membunuh kalian semua!"


Ucapan Ryan yang tenang membuat wajah mereka memucat. Wajah Ryan memang nyaris tanpa ekspresi dan sangat sulit di tebak lawannya. Senyum polosnya menyembunyikan kekejaman yang ada di dalam dirinya.


"Tidak! Ku mohon lepaskan kami! Kami janji tidak akan mengejar Delima Putih lagi. Kami masih ingin hidup!" seru Beny di balas anggukan anggota Hercules yang lainnya.


"Terlambat! Tadi di taman harusnya kalian berlutut dan memohon padaku. Mungkin aku akan membiarkan kalian pergi. Kalau sekarang... apa jaminan kalian bisa menjaga rahasia Goritzma ini tetap aman?"


"Kami janji! Kami tidak akan membuka mulut kami pada siapapun dan akan membiarkan Delima Putih bebas dari kekangan kami."


"Aku hanya percaya pada orang yang sudah mati."


Dorrr!


Tanpa Beny sadari Ryan sudah menyiapkan sebuah pistol di tangannya. Sebuah tembakan di kepala membuat nyawa Beny melayang. Para tawanan lain berdebar menanti giliran untuk mati.


Mereka sedikit bernapas lega ketika Ryan berjalan keluar meninggalkan ruangan itu. Namun kelegaan itu hanya sementara setelah Ryan kembali membawa beberapa botol cairan yang entah itu apa.


Keenam pasang mata tawanan itu terus mengamati apa yang dilakukan oleh Ryan. Perlahan Ryan membuka tutup botol di tangannya, dari dalam botol itu keluar kepulan asap tipis. Sejenak Ryan memperhatikan keenam rawannya seolah sedang menunjukkan apa yang ingin dia lakukan.

__ADS_1


Cairan di dalam botol itu dia tuangkan ke atas kepala Beny yang sudah tidak bernyawa. Entah terbuat dari zat apa, cairan itu membuat tubuh Beny meleleh dan tercium bau menyengat. Perlahan tubuh itu berubah menjadi lelehan yang semakin mencair dan lenyap.


Klan Goritzma menamainya cairan peluruh mayat F10. Setiap tahunnya profesor yang bekerja pada Klan Goritzma selalu mengeluarkan penemuan terbarunya. Berbagai macam senjata kimia berhasil dikembangkan dan dijaga kerahasiaannya.


Ryan berjalan mendekat ke arah salah satu tawanannya. Wajah mereka terlihat pucat pasi dengan mulut yang tertutup rapat. Mereka pasrah menanti kematian mereka.


"Heh! Siapa di antara kalian yang berasal dari Delima Putih?" tanya Ryan.


"Ka... kami semua berasal dari Delima Putih. Tolong ampuni kami! Maafkan kami semua dalam tekanan klan Hercules!" salah seorang tawanan memberanikan diri untuk memohon.


"Aku juga murid tidak langsung Delima Putih. Apa jaminan kalian jika tidak akan macam-macam dan berhianat lagi pada kami?" tanya Ryan terkesan santai namun penuh intimidasi.


"Nyawa kami jaminannya!"


"Hahaha! Nyawa?! Kalian pikir nyawa kalian berharga buatku? Heemh! Aku bisa melenyapkan kalian sekarang juga maka semua urusan akan beres!"


"Tuan Muda! Tolong ampuni kami! Kami rela berbuat apa saja asal Tuan Muda mau mengampuni kami." Orang itu kembali merengek.


"Johan! Jonathan!" panggil Ryan pada anak buahnya yang berada di luar ruangan.


"Siap Tuan!"


Setelah mengatakan itu, Ryan pergi meninggalkan ruangan. Tampaknya pagi itu dia masih berbelas kasihan mengingat tawanannya adalah mantan murid Delima Putih. Mereka bisa keluar dari hutan Bintang dengan selamat jika menerapkan ilmu dari Delima Putih dengan sungguh-sungguh. Secara tidak langsung Ryan menguji ucapan mereka yang mengaku sebagai murid Delima Putih.


Keenam tahanan itu merasa lega. Nasibnya tidak seburuk pemimpin mereka yang telah dilenyapkan oleh seorang pemuda belia yang memiliki kekejaman melebihi orang dewasa. Mereka yakin jika semua itu dia lakukan semata-mata demi untuk melindungi perguruan Delima Putih tempatnya menimba ilmu.


Drtt... Drtttt... Drrttt...


Ponsel Ryan bergetar. Di layar tertera sebuah nama. Mama Cantik.


Segera saja Ryan menggeser tombol hijau ke atas sebelum suara cempreng mamanya tidak ada hentinya mengomel ketika dia terlambat mengangkat telepon.


"Halo, Ma!" sapa Ryan setelah panggilan terhubung.


"Yan Yan, kamu di mana? Ini sudah siang! Pasti kamu belum sarapan!" seru Tera dari seberang.


Benar kata mamanya. Perut Ryan beberapa kali berbunyi dan sedikit terasa perih karena sedari pagi hanya terisi beberapa teguk jus buah saja.

__ADS_1


"Aku di markas, Ma! Tadi aku habis mengeksekusi musuh, Ma. Habis ini Yan Yan akan segera pulang."


"Haahhh, kamu ini! Pagi-pagi sudah membuat keributan. Ya sudah, cepat pulang Sayang! Mama ada berita penting untukmu!


"Iya, Ma! Ini Yan Yan sudah di depan mobil."


"Bagus! Mama matiin, ya, teleponnya."


"Iya, Ma!"


Tutt... panggilan mereka berakhir.


Ryan segera masuk ke dalam mobilnya dengan pengawalan ketat dari anggota Goritzma untuk mengantisipasi perlawanan musuh yang bisa saja sudah mengendus kematian Beny.


Di era ini sudah sangat canggih. Tidak menutup kemungkinan jika Hercules memasang alat pelacak di tubuh Beny yang tidak diketahui oleh Ryan.


Mobil yang ditumpangi Ryan melintasi kawasan yang jarang dilewati oleh kendaraan umum. Jalan ini biasanya mereka lewati ketika melakukan misi. Untuk beberapa saat mereka teebebas dari lampu merah dan peraturan lalu lintas.


Dua buah mobil mengikuti mereka dan mencoba untuk mendahului mobil yang di tumpangi Ryan.


Merasa tidak berhasil, mobil yang mengikuti Ryan membuka kaca jendelanya dan mengeluarkan sebuah tangan yang memegang pistol. Sebuah tembakan meluncur ke arah mobil Ryan.


Mobil yang Ryan naiki adalah mobil canggih yang tahan peluru. Mobil hadiah dari Hiro yang didatangkan langsung dari Jepang. Mobil rancangan ahli otomotif ternama yang dipekerjakan oleh Hiro.


Desingan peluru yang ditembakkan oleh penghadang terus berbunyi dengan nyaring. Mereka tidak berhenti menembak meskipun peluru itu memantul tanpa melukai badan mobil sedikitpun. Keadaan jalan yang sepi membuat tiga mobil itu leluasa bergerak.


"Pak Edo! Perlambat mobilnya!" perintah Ryan sambil menelan pin pemulih tenaga.


Rasa lapar di perutnya membuatnya mudah tersulut emosi. Setidaknya dengan meminum satu butir pil pemulih tenaga dia bisa tahan untuk tidak makan selama 6 atau 7 jam.


Setelah sopir Ryan mengurangi kecepatannya, mobil musuh berhasil menyalipnya dan menghadang mobil Ryan. Tidak ada rasa takut di wajah Ryan. Wajah dingin dan datar itu terlihat biasa-biasa saja nyaris tanpa ekspresi.


Blamm!


Suara seseorang membanting pintu mobilnya. Di depan mobil Ryan muncul 3 orang berpakaian resmi serba hitam begitu juga di belakang. Mereka semua berjumlah 6 orang dengan senjata api di tangan mereka.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2