MAFIA KEMBAR

MAFIA KEMBAR
LEBIH DEKAT


__ADS_3

"Sial sekali! Berapa lama kita akan terjebak di sini?" gerutu Izumi.


Raghaza menatapnya iba, namun dia sendiri juga tidak bisa berbuat apa-apa.


Mereka saat ini berada di teras sebuah ruko kosong. Entah berapa lama ruko itu tidak di tinggali. Banyak sekali debu dan sampah yang berserakan di lantai.


Hembusan angin menambah suasana sore itu semakin dingin. Izumi berjalan mundur ke tempat yang lebih terlindung untuk menghindari terpaan angin. Dia duduk meringkuk seperti seorang tuna wisma yang hidup sebatang kara.


Raghaza berjalan menghampirinya dan menjatuhkan pantatnya di samping Izumi.


"Kenapa jaketmu belum kamu lepas juga?" tanya Izumi sambil melirik Raghaza.


"Tidak tembus sampai ke dalam, kok. Lihat ini!" Raghaza membuka jaketnya lalu menunjukkan sisi dalamnya.


"Sudahlah! Sini aku bantu lepas!"


Izumi berbalik menghadap Raghaza dan melepaskan jaketnya dengan paksa. Akhirnya Raghaza ketahuan berbohong, baju dalamnya di bagian punggungnya sedikit basah. Hal itu membuat Izumi, menatapnya tajam.


"Ma-maaf. Ini tidak begitu basah, kok!" Ucapan Raghaza membuat Izumi semakin marah padanya.


"Hei! Aku tidak suka berdebat! Aku memang kejam tapi bukan berarti aku tidak punya hati."


"Bajumu juga sedikit basah." Raghaza memegang jaket Izumi di bahunya.

__ADS_1


"Hanya di bahu saja."


"Hmm. Kamu tidak adil. Aku kamu minta lepas tapi kamu sendiri tidak melakukannya."


Raghaza terlihat lebih berani mengungkapkan isi pikirannya saat mereka hanya berdua saja. Dia merasa Izumi saat ini hanyalah seorang gadis biasa, bukan atasnya yang harus dia patuhi perintahnya. Sorot matanya yang biasanya terlihat kejam dan penuh martabat, kini menjadi seolah seperti seorang gadis kecil yang butuh perlindungan.


"Iya, iya, aku lepas! Akhir-akhir ini kamu menjadi cerewet sekali. Sebenarnya yang bos di sini siapa?" omel Izumi sambil melepaskan jaketnya.


Walaupun baru berusia 17 tahun namun tubuh Izumi memiliki bentuk yang indah. Ukuran tubuh proporsional dengan berat yang ideal. Semua terlihat begitu memikat ketika dipadukan dengan wajahnya yang menawan.


Sebagai seorang laki-laki yang telah dewasa, Raghaza tidak dapat menampik pesona Izumi di matanya. Dia terlihat beberapa kali menelan ludahnya saat melihat Izumi dari dekat. Udara yang dingin dan suasana yang redup membuat kesan romantis begitu kental terasa.


Izumi yang awalnya tidak tertarik pada Raghaza, perlahan-lahan mulai mengaguminya. Secara fisik dia memiliki penampilan yang menarik. Wajahnya sangat tampan karena dia merupakan keturunan campur Jepang-Timur Tengah.


Angin mulai tenang namun hujan yang turun semakin deras.


Izumi merogoh ponselnya dari dalam tas miliknya lalu melihat layar dan membukanya. Tidak ada jaringan. Mereka tidak bisa menghubungi orang-orang yang bisa menjemput mereka dari sana.


"Tidak ada jaringan," gumam Izumi.


Ada gurat ketakutan di wajahnya karena malam perlahan turun. Perutnya juga merasa sangat lapar karena belum makan sejak pulang sekolah. Izumi merasa hari ini benar-benar hari paling sial untuknya.


Melihat Izumi yang tidak bersemangat, Raghaza mulai berpikir untuk mencari cara bisa keluar dari sana. Bukannya mereda, hujan malah semakin deras dan petir menyambar-nyambar di atas tempat mereka bernaung. Semuanya terasa begitu mencekam.

__ADS_1


Izumi menutup telinganya lalu merapatkan tubuhnya pada Raghaza. Hal itu spontan dia lakukan ketika terdengar suara petir yang terdengar sangat dekat. Raghaza sedikit terkejut namun dia membiarkannya saja. Ingin rasanya dia membalas pelukan Izumi namun dia tidak berani melakukannya.


"Hari sudah malam. Apa hujan ini masih tidak akan berhenti?" Izumi bertanya sambil menatap wajah Raghaza.


Raghaza menatapnya intens. Dia tidak tega melihat wajah pucatnya dengan bibir yang mulai membiru. Raghaza harus melakukan sesuatu untuk membuat Izumi lebih baik.


"Tunggu di sini!" seru Raghaza.


Dia menyalakan ponselnya untuk penerangan dan mencari-cari sesuatu yang bisa digunakan untuk membuat api.


Raghaza berhenti pada sebuah meja rusak yang teronggok di ujung ruko yang berbatasan dengan tembok ruko lain yang juga kosong.


Meja itu berbahan dasar kayu yang mudah terbakar. Raghaza menginjak-injaknya hingga patah menjadi potongan-potongan kecil yang bisa dia gunakan untuk membuat api. Satu persatu dia punguti dan dia bawa ke hadapan Izumi.


Walaupun tidak merokok, Raghaza selalu membawa korek api di saku jaketnya. Kelembaban udara yang tinggi membuat api unggun yang dia buat sulit menyala. Dia hampir frustasi setelah gagal mencoba beberapa kali.


Raghaza melempar koreknya dan duduk sambil memeluk lututnya.


Izumi menahan tawa karena merasa lucu dengan sikap Raghaza yang terlihat seperti seorang anak kecil yang sedang marah-marah karena tidak bisa melakukan sesuatu.


Butuh bahan yang mudah terbakar seperti kertas untuk memudahkan kayu itu tersulut api. Tidak terlalu kertas atau daun kering di sekitar mereka. Akhirnya Izumi harus merelakan beberapa lembar uang kertas miliknya untuk menyalakan kayu itu.


****

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2