
Raghaza menandatangani berkas yang diberikan oleh Izumi lalu menyerahkannya padanya. Otak cerdas Izumi ingat dengan jelas tanda tangan asli di KTP Raghaza. Untuk kali ini Raghaza tidak menipunya, dia benar-benar membubuhkan tanda tangan asli di berkas kotrak kerjasama itu.
Tanpa berpamitan pada Raghaza, Izumi berjalan menuju ruang kerjanya untuk menyimpan berkas itu di brankas miliknya. Matanya terbelalak ketika tanpa sengaja melihat ke layar monitor CCTV di luar markas. Tampak beberapa orang penyusup datang bertandang ke sana.
Di lihat dari pakaian yang mereka pakai saat ini, orang-orang itu adalah anggota dari Geng Naga besutan Yuji. Sudah dipastikan mereka ingin mencari Raghaza.
"Cepat sekali mereka tahu jika Raghaza aku bawa ke sini?!" Izumi segera berlari menyabet 2 buah pistol dan keluar dari ruang kerjanya dengan mode garang.
"Ren! Antar Raghaza dan ibunya ke paviliun belakang lalu susul aku kedepan! Jiro kamu siapkan pasukan! Aku akan pergi keluar untuk mengulur waktu!" seru Izumi memberi komando.
Mereka semua sudah tahu meskipun Izumi tidak menjelaskannya secara detail tentang apa yang terjadi. Beberapa anggota organisasi terlatih mengikuti Izumi ke luar markas. Mereka tidak keluar dari pintu utama melainkan sebuah pintu yang terhubung dengan lantai bawah tanah.
Musuh tidak menyadari kemunculan Izumi dan pasukannya karena pintu rahasia itu menempel dengan tembok pagar yang terhalang oleh sebuah pohon besar.
Dorrr!
Tembakan Izumi tepat mengenai kepala penyusup yang sedang mengintip di dekat jendela.
Penyusup lain terlihat panik dan bersikap waspada sambil melihat dari mana arah datangnya tembakan. Mereka menembak sembarangan ketika melihat sesuatu yang bergerak. Penyusup itu berjumlah 6 orang, dua diantaranya adalah orang yang bersama Raghaza di restoran tadi siang.
"Hei, Pengecut! Muncullah!" teriak salah satu dari mereka.
Izumi melepaskan tembakan ke udara sebelum keluar untuk menampakkan diri. Wajahnya tertutup topeng saat ini namun sepertinya mereka tidak peduli akan siapa dirinya.
"Untuk apa kalian mengacau di tempat ini? Kalian ingin menjemput kematian kalian? Dengan senang hati aku akan memberikan apa yang kalian inginkan!" seru Izumi lantang.
Dari arah yang berbeda, Jiro membawa pasukannya dan di arah yang berlawanan dengannya Ren juga memimpin beberapa orang untuk mengepung lawan.
Para penyusup itu menjadi pias melihat ke sekeliling. Mereka kini sudah terkepung oleh anak buah Izumi. Semuanya memegang senjata api dan berwajah bengis mengerikan.
"Kamu yang memulai mengusik kami! Di mana Raaghaza berada sekarang?" tanya salah satu penyusup.
"Dia yang mulai lebih dulu membuat keributan denganku. Setelah aku puas menyiksanya dia aku masukkan ke kandang buaya piaraanku. Apakah kalian ingin pergi menyusulnya? Mari aku antar!" ucap Izumi menaakut-nakuti lawannya.
"Tidak! Tidak mungkin! Kamu sungguh kejam bocah tengil! Suiiittttt!" penyusup itu bersiul untuk memanggil anak buahnya yang lain.
Sekitar 20 orang berdatangan untuk membatu 6 orang penyusup tadi. Sekarang jumlah mereka total menjadi 25 orang. Jumlah yang hampir sama dengan pasukan yang di pimpin oleh Izumi.
"Hooo! Rupanya kalian sudah mempersiapkan penyerangan ini. Bagus! Aku tidak akan merasa sungkan lagi untuk menghabisi kalian semua." Izumi memainkan pistolnya dengan memutar-mutarnya.
'Gadis ini benar-benar menyeramkan! Siapa dia sebenarnya? Sepertinya dia masih anak-anak tapi dia sudah memimpin pasukan itu." gumam anak buah Yuji dalam hati.
"Kalian ini kita bertempur dengan cara baku hantam atau baku tembak?!" tanpa rasa takut Izumi maju ke hadapan lawannya.
"Aku ingin mencoba teknik beladirimu. Bagaimana kalau kita berperang tanpa senjata?" anak buah Yuji yang memimpin penyerangan itu juga maju ke depan diikuti yang lainnya.
"Setuju! Aku layani! Tapi dengan satu syarat!" ucap Izumi.
"Katakanlah!" pemimpin penyusup itu terlihat penasaran.
"Jika kalian kalah dalam pertarungan ini, maka jangan pernah mengusik lagi aktifitas yang aku lakukan bersama Black Rose!" Izumi mencoba bernegosiasi.
__ADS_1
Syarat itu dia ajukan untuk memberi keamanan pada Raghaza saat menjadi anggotanya. Jika sewaktu-waktu dia muncul di publik dan bertemu dengan anggota Geng Naga maka dia tidak perlu khawatir akan di serang oleh mereka.
"Apa kamu mempunyai maksud tertentu dalam persyaratan itu?" tanya pemimpin penyerangan Geng Naga.
"Kamu takut kalah?! Hahaha!" tawa Izumi memecah keheningan malam.
"Baiklah! Aku setuju! Semuanya! Simpan senjata kalian! Kita akan bertarung dengan tangan kosong!" seru pemimpin musuh memberi komando pada pasukannya.
Pertarungan sengit pun terjadi. Tubuh kecil Izumi dengan gesit menyerang lawannya. Teknik penyerangan cepat dengan tinjuan dikombinasikan dengan tendangan membuat lawannya sedikit kewalahan.
Berkali-kali Izumi mampu membuat lawannya terpukul mundur dan kesakitan. Jiwa mudanya membuatnya begitu mahir memainkan jurus elang hitam yang mengandalkan pukulan telapak tangan memutar dan tendangan tak terduga. Kini lawannya benar-benar dibuatnya bertekuk lutut di hadapannya.
Gelagat tidak baik terbaca oleh Izumi. Tangan musuhnya mencuri kesempatan untuk mengambil pistolnya. Tangan lawannya sudah mulai menarik pelatuk pistol itu dan....
Duaarrrr!
Peluru menembus dada pemegang pistol itu sendiri karena Izumi dengan gerakan cepat mampu menunduk untuk menghindar dan memuntir tangan lawannya hingga berbalik arah.
"Aaaarrrrhhhh!" laki-laki itu jatuh tersungkur ke belakang.
"Shitt! Dasar binatang! Kamu berani sekali melanggar kesepakatan yang kita buat!" teriak Izumi marah. "Ren! Jiro! Habisi mereka semua! Jangan sisakan satu orangpun!" teriak Izumi memberi perintah.
Kini baku tembak pun di mulai. Mendengar perintah Izumi pasukan bayangkan yang sejak tadi bersembunyi untuk mengamati pertarungan pun segera bergerak. Tanpa sepengetahuan musuh mereka menembak mereka dari arah yang tersembunyi.
Satu persatu korban berjatuhan di pihak lawan. Izumi berdiri sambil mengatur napasnya yang ngos-ngosan akibat pertarungannya. Keringat membasahi tubuhnya dengan penampilan yang sedikit berantakan.
Dengan cepat dia mengikat rambutnya ke belakang dan ikut menghabisi musuh yang tersisa dengan dua pistol di tangannya. Beberapa orang anggota teamnya terluka karena terkena tembakan lawan. Seluruh musuhnya sudah dibantai dengan sadis malam itu.
"Buang mereka ke kandang buaya dan kolam penghancur mayat. Sisakan satu orang itu dan kirim mayatnya ke markas Geng Naga!" perintah Izumi.
"Baik, Nona!" empat orang berangkat mengantarkan mayat pemimpin penyerangan itu ke depan markas Geng Naga.
Bendera Black Rose berukuran kecil mereka ikatkan di lengan mayat itu sebelum dikirimkan. Ini adalah tantangan yang secara tidak langsung digaungkannya oleh Izumi. Setelah masuk ke dalam markasnya dia melihat pesan begitu banyak masuk ke dalam ponselnya.
Izumi membukanya dan membacanya satu persatu. Satu pesan yang membuatnya tersenyum. Papinya tahu apa yang terjadi malam ini dan ingin menjemputnya pulang dari markas bersama mami Ryuki.
"Sial! Aku harus berpura-pura jadi badut!" gerutu Izumi yang harus berganti pakaian feminim di hadapan maminya.
Dia berjalan ke kamarnya untuk mandi dan bersiap. Akibat pertarungannya badannya sangat kotor dan bau akibat berguling-guling di lantai kotor. Kotoran bercampur keringat membuat penampilannya terlihat dekil.
"Iuuuhh!" Izumi memalingkan wajahnya dari cermin yang memantulkan bayangan dirinya.
Setelah mengambil dress yang cocok menurut selera maminya dia segera pergi ke kamar mandi. Tidak seperti para gadis kebanyakan yang suka mandi berjam-jam untuk melakukan perawatan kecantikan, Izumi mandi cukup untuk membersihkan tubuhnya saja.
"Kamu terlihat sangat cantik, Sayang!" suara Ryuki mengejutkan Izumi yang sedang mengeringkan rambutnya.
"Mami! Ngagetin aja!" Izumi berdiri dan memeluk Ryuki.
"Kamu pasti lapar! Ayo kita segera pergi untuk makan di luar!" Ryuki melepaskan pelukannya dan mengecup kening Izumi.
"Siap, Mami!" Izumi meletakkan hairdryer dan sisirnya.
__ADS_1
"Tunggu-tunggu! Dasar anak nakal! Ini kenapa?" tanya Ryuki melihat luka lebam yang cukup parah di lengannya.
"Ahh, itu tidak sakit kok, Mi! Hanya luka biasa saja!" Izumi tersenyum meringis berharap maminya tidak memperpanjang masalah itu.
"Harus mami obatin dulu sebelum lukanya bertambah parah. Kamu bisa infeksi, Sayang!"
"Tapi, Mi...!" Izumi mengangkat tangannya ke depan untuk menghalangi maminya namun sia-sia. Dia berjalan mengikuti ke mana maminya berjalan.
"Apa yang akan dikatakan mama Tera jika aku tidak bisa mendidikmu dengan baik, Izumi. Kamu terus saja membuat ulah dan hampir setiap hari berkelahi. Aku benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran kamu. Kamu tidak seperti anak-anak lain seusiamu yang masih suka bermain-main di mall dan berkencan dengan lawan jenisnya," omel Ryuki.
"Ahh, Mami! Itu tidak seru! Dulu mama Tera juga lebih nakal dariku. Bahkan dia sudah menjadi Queen Goritzma saat seusiaku," ucap Izumi membela diri.
"Beda, Sayang, beda! Mama Tera tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya. Dengan menjadi mafia dia merasa memiliki keluarga. Lha kamu? Mami ada, papi ada. Mama Tera, papa Wisnu, dan Ryan. Tanpa melakukan apapun kamu sudah memiliki segalanya, Izumi!"
"Aku bukan anak manja, Mami!" gerutu Izumi sambil memanyunkan bibirnya.
Kruukkk! Krukkk!
Suara perut Izumi membuat mereka saling pandang.
'Syukurlah! Kamu berbunyi di saat yang tepat!' Izumi bermonolog dalam hati sambil mengulum senyum.
"Ahh! Putriku sudah lapar, ya? Ayo kita berangkat sekarang! Lukamu biar mami obati di rumah saja." Ryuki merangkul bahu Izumi.
Sebenarnya banyak sekali luka lebam di bahu Izumi. Dengan sekuat tenaga dia menahan rasa sakit akibat rangkulan tangan Ryuki. Izumi menggigit bibir bawahnya agar tidak merintih atau mendesis selama perjalanan menuju mobilnya.
Di luar terlihat Hiro sedang mengobrol bersama Ren dan Jiro. Entah apa yang mereka obrolkan yang jelas wajah mereka terlihat sangat serius. Izumi merasa lega ketika Ryuki melepaskan rangkulannya.
"Papi!" panggil Izumi pada Hiro sambil memeluk lengan Hiro.
"Sudah siap, Sayang!" Hiro mengusap kepala Izumi dengan lembut.
"Sudah!" jawab Izumi mantap.
"Ayo buruan, Pi! Putri kita dari tadi perutnya sudah berbunyi terus!" teriak Ryuki dari dalam mobil.
"Baiklah... baiklah.... Kamu duduk di belakang sama mami, ya, Sayang?" Hiro mengecup pucuk kepala Izumi lalu duduk di samping kemudi.
Izumi bersandar manja di bahu Ryuki. Beberapa kali dia terlihat menguap. Mungkin itu karena perutnya yang lapar di tambah tubuhnya yang lelah setelah bertarung.
"Kamu ngantuk, Sayang?" tanya Ryuki lembut.
Izumi mengangguk sambil memejamkan matanya.
"Ya sudah, tidurlah! Nanti mami akan membangunkan kamu kalau sudah sampai."
Ryuki mengatur jok mobil Izumi agar tertidur dengan nyaman. Setelah posisinya pas, Ryuki mengusap-usap pipi Izumi agar cepat tertidur. Hiro bahagia melihat kedekatan dua wanita yang sangat di sayanginya itu. Mereka memiliki ikatan batin yang kuat meskipun tidak ada ikatan darah di antara mereka berdua.
Beberapa minggu lagi hari ulang tahun Izumi dan Ryan akan datang. Hiro berencana untuk menghubungi Wisnu untuk memberikan mereka kejutan ulang tahun. Dia akan meminta pendapat Ryuki untuk menjalankan rencananya.
****
__ADS_1
Bersambung...