MAFIA KEMBAR

MAFIA KEMBAR
PERBEDAAN


__ADS_3

Di Indonesia


Ryan semakin akrab dengan Dea. Celine semakin gencar untuk mendekatinya namun Ryan tetap tidak bergeming pada pendiriannya. Dia sama sekali tidak tertarik pada Celine.


Demi mendekati Dea, Ryan rela pulang pergi ke sekolah naik angkutan umum. Dea tidak boleh tahu siapa dia sebenarnya. Terkadang dia juga sering membonceng Awang yang berangkat ke sekolah naik motor.


Ketika Ryan sampai di ujung jalan dekat rumahnya yang merupakan komplek perumahan elit, dia beralasan jika orang tuanya bekerja sebagai asisten rumah tangga di salah satu rumah mewah yang ada di sana.


Awang percaya begitu saja pada Ryan karena mereka bersahabat dengan baik sejak awal masuk SMA. Ryan tidak menunjukkan sikap sombong atau kelewat bergaya seperti orang kaya kebanyakan. Ryan memang memakai beberapa barang bermerk seperti sepatu, ikat pinggang dan jam tangan bermerk namun ketika di tanya dia mengatakan jika itu pemberian dari majikan ibunya.


Awang tinggal di sebuah komplek perumahan yang tidak jauh dari tempat tinggal Ryan. Ayahnya adalah seorang dosen dan ibunya seorang perawat yang bekerja di sebuah rumah sakit swasta. Ryan beberapa kali main ke rumahnya dan berkenalan dengan keluarganya. Mereka tidak curiga jika Ryan adalah putra seorang konglomerat.


Kehidupan Dea tidak seberuntung Ryan dan Awang. Dia tinggal di sebuah kontrakan kecil bersama 2 orang adiknya dan kedua orang tuanya. Ayahnya berjualan bakso dan mie ayam di kedai kecil yang berdiri di depan kontrakannya. Lagi-lagi tempat berjualan itu juga masih menyewa.


Sepulang sekolah Dea tidak pernah beristirahat ataupun bersantai. Dia langsung berganti pakaian dan membantu ayahnya berjualan karena ibunya sibuk mengasuh kedua adik kembarnya, Fero dan Feri. Mereka baru berusia 4 tahun sehingga masih membutuhkan pengawasan ekstra dari ibunya.


Perbedaan usia yang cukup jauh dengan adiknya membuatnya sangat menyayangi mereka. Dea juga sering membantu mengasuh mereka ketika ibunya sedang kerepotan. Meskipun mereka hidup serba kekurangan namun mereka terlihat bahagia.


"Hai, De!" sapa Ryan ketika jam pelajaran sudah berakhir dan saling berpapasan di teras kelas.


"Hai, Ryan, Awang!" jawab Dea.


"Kamu kenapa De? Wajah kamu terlihat kemerahan dan bibirmu pucat?" tanya Awang.


"Iya... benar! Kamu sakit De?" Ryan berjalan maju ke depan dan menyentuh kening Dea dengan punggung tangannya. Panas.


"Gimana?" tanya Awang penasaran.


"Iya... panas.... Wang! Kamu boncengin Dea, ya, kita antar sampai rumah," ujar Ryan.


"Trus... sepedaku gimana?" Dea berangkat sekolah memakai sepeda kayuh.


Jika dia pulang di antar Awang maka besok dia harus jalan kaki berangkat ke sekolah.


"Biar aku yang mengayuh sepeda kamu di belakang Awang. Aku juga akan mengantarkan kamu sampai rumah," ucap Ryan.


Ryan melepaskan jaketnya dan memakaikannya di tubuh Dea. Jaket itu kebesaran di tubuh Dea karena postur tubuh mereka yang jauh berbeda.


Dea terpaku menerima perhatian dari Ryan. Cowok tertampan dan terpopuler di sekolahnya memperlakukannya begitu istimewa. Mungkin para siswi yang mengidolakan Ryan akan pingsan berdiri jika mengetahui hal ini. Beruntung saat itu semua siswa sudah bubar dan pulang ke rumah masing-masing.


"Terimakasih! Maaf aku merepotkan kalian!" ada rasa tidak enak dalam ucapan Dea.


"Hsssttt! Kamu tidak boleh merasa tidak enak gitu. Dalam persahabatan kita harus tolong menolong dan saling menjaga." Awang ikut andil berbicara.


"Sudah, yukk!" Ryan mulai mengayuh sepeda milik Dea keluar dari parkiran.


Setelah Dea membonceng dengan benar, Awang melajukan motornya dengan kecepatan lambat. Ryan duduk di atas sepeda dan menunggu di depan gerbang karena tidak tahu ke mana arah jalan menuju ke rumah Dea. Setelah Awang melintasi gerbang, Ryan mengikutinya di belakang.


Rumah Dea tidak terlalu jauh dari sekolah. Hanya butuh waktu sekitar 5 menit bersepeda santai untuk sampai ke sana. Dea juga sering berjalan kaki ke sekolah jika sepedanya mengalami kendala.

__ADS_1


Dea memberi aba-aba pada Awang untuk berhenti di depan warung bakso di depannya. Awang berpikir jika Dea sedang lapar dan ingin makan bakso di warung itu, namun dia menahan diri untuk tidak bertanya. Rasa penasarannya terjawab ketika bapak-bapak penjual bakso di dalam warung itu tergopoh-gopoh keluar dengan wajah paniknya ketika melihat Dea pulang dibonceng oleh temannya.


"Dea! Apa kamu masih pusing, Nak? Sudah bapak bilang supaya kamu tidak usah berangkat ke sekolah malah ngeyel. Ya, gini, nih! Kamu merepotkan temanmu, kan?" omel pak Bimo, ayah dari Dea.


"Maaf, Pak! Tadi Dea pikir pusing Dea akan hilang kalau dipakai ke sekolah."


Awang, Dea, dan pak Bimo menoleh ke belakang melihat ke arah Ryan yang mengendarai sepeda milik Dea. Wajah tampannya basah oleh keringat karena jalanan menuju ke rumah Dea lumayan menanjak Seragam sekolah yang dia pakai pun sedikit basah karena cuaca hari itu juga lumayan panas.


"Ini Awang, Pak! Dan ini Ryan! Mereka adalah teman-teman Dea."


Awang dan Ryan bergantian menyalami pak Bimo untuk memperkenalkan diri.


"Terimakasih banyak, Nak! Mari masuk dulu biar bapak bikinkan bakso atau mi ayam," ucap pak Bimo ramah.


Ini pertama kalinya Dea mengenalkan temannya pada keluarganya semenjak kepindahan mereka ke Kalimantan. Setahu pak Bimo, Dea adalah anak yang sulit bergaul. Mungkin karena keadaan ekonomi keluarganya yang serba pas-pasan membuatnya rendah diri. Dea takut tidak ada yang mau menjadi temannya setelah tahu keadaannya. Bahkan saat ini pun hatinya diliputi kecemasan. Dea takut jika Ryan dan Awang tidak mau berteman dengannya lagi setelah ini.


"Maaf, Paman! Lain kali saja kami belum minta ijin pada orang tua kami. Mereka pasti akan khawatir jika kami tidak pulang tepat waktu," jelas Ryan.


"Anak yang baik! Ya sudah, kalian hati-hati di jalan tapi paman akan menunggu janji kalian untuk mampir dan mengobrol bersama paman di sini." Pak Bimo menepuk bahu Ryan.


"Pasti, Paman!" sahut Ryan sambil meraih punggung tangan pak Bimo dan menciumnya.


Awang mengikuti apa yang dilakukan oleh Ryan sebelum mereka naik ke atas motornya.


"Cepet sembuh, ya, De! Sampai ketemu di sekolah!" pamit Awang pada Dea.


"Hati-hati, Awang, Ryan!" seru Dea sambil melambaikan tangannya.


Pak Bimo bisa menangkap perubahan sikap putrinya. Sebagai orang tua, dia sangat hafal dengan sifat putrinya yang selalu merasa rendah diri dan jarang bergaul.


"Ayo masuk, Sayang! Jangan sedih! Ayah yakin jika mereka adalah teman yang baik. Kamu jangan terlalu banyak berpikir agar segera sembuh!" hibur pak Bimo.


"Iya, Pak! Aku ke dalam dulu!" pamit Dea.


"Istirahatlah! Nanti bapak bikinkan teh panas untuk kamu!"


"Baik, Pak!"


Dea berjalan ke kontrakan di belakang warung sambil menuntun sepeda kayuhnya.


•••


Dalam perjalanannya, Ryan dan Awang sama-sama terdiam. Mereka memikirkan tentang Dea dan keluarganya. Sepertinya kehidupan yang mereka jalani sangat sulit.


Hati kecil Ryan merasa iba melihat kehidupan mereka. Deretan rumah yang berjajar di sekeliling tempat tinggal Dea tidak lebih besar dari kamarnya. Apalah daya saat ini Ryan bukanlah siapa-siapa.


Tera dan Wisnu tidak pernah memanjakan Ryan dengan materi. Uang jajan untuknya mereka batasi. Ryan harus membantu Wisnu menyelesaikan pekerjaan kantornya baru dia mendapatkan honor dari ayahnya.


Beberapa kali Ryan di bawa ke ruang rapat oleh Wisnu untuk mengenal pekerjaan yang harus dia lakoni nantinya.

__ADS_1


"Thanks, ya, Wang!" Ryan turun dari motor Awang di tempat biasa mereka berpisah.


"Sama-sama, Bro!" Awang kembali melanjutkan perjalanan menuju ke rumahnya.


Ryan berjalan menuju ke rumah megahnya. Shuhan yang sudah tua renta selalu menunggunya di teras rumah. Itulah alasan kenapa Ryan tidak pernah pulang terlambat ke rumahnya.


Pernah suatu ketika Ryan pergi bertanding futsal antar sekolah dan pulang terlambat. Sampai jam 8 malam Shuhan masih menunggunya di teras hingga membuat kondisi fisiknya menurun dan harus di rawat di rumah sakit. Setelah kejadian itu, Ryan selalu memprioritaskan kakek buyutnya itu di atas segalanya.


"Selamat sore, Kakek buyut!" Ryan berjongkok di depan kursi roda Shuhan.


"Yan Yan! Kesayangan kakek!" Shuhan mengusap kepala Ryan dengan sayang.


"Kita masuk, ya, Kek!" bujuk Ryan.


"Ayo, Sayang! Bagaimana sekolah kamu hari ini?" tanya Shuhan.


"Menyenangkan, Kek! Ryan sangat senang hari ini karena ulangan Ryan mendapatkan nilai sempurna," jelas Ryan.


"Kamu memang mirip dengan papamu, Yan Yan!" Shuhan terkekeh.


"Kakek juga hebat!" seru Ryan.


"Jadi cuma kakek buyut saja yang hebat, nih?" goda Sherly.


"Oma! Opa!" teriak Ryan yang baru sadar jika oma opanya pulang dari luar negeri.


Ryan memeluk Sherly dan Renaldy bergantian.


"Oleh-olehnya mana, Oma?" tanya Ryan.


"Kamu itu, ya, Yan! Dasar anak nakal!" ucap Sherly gemas sambil mencubit pipi Ryan.


"Uhh! Sakit, Oma!" rintih Ryan pura-pura sakit.


"Sherly! Jangan main kasar sama buyut kesayangan papa!" teriak Shuhan.


"Aku hanya gemas saja sama Yan Yan, Pa!" Sherly mengecup pipi cucunya gemas.


"Masih asem, Oma! Ryan pergi ganti baju dulu, Oma!" Ryan berpamitan pada Sherly, Shuhan dan Renaldy.


"Oleh-oleh dari Oma dan Opa sudah Oma taruh di kamar kamu, Sayang!" seru Sherly setengah berteriak karena Ryan sudah berjalan cepat ke arah lift menuju ke lantai 2 di mana kamarnya berada.


"Thanks a lot, Oma, Opa!" jawab Ryan sambil memberi cium jauh untuk Sherly.


"Hmm.... Dasar anak muda jaman now!" Sherly menggeleng melihat tingkah Ryan.


Di kamarnya, Ryan meletakkan tas dan peralatan sekolahnya lalu pergi ke kamar mandi. Ryan terbiasa ke kamar mandi tanpa membawa baju ganti. Pelayan di rumahnya selalu menyediakan beberapa potong baju ganti untuknya di dalam kamar mandi.


Sering kali Tera mengomel pada Ryan yang sering mereka panggil Yan Yan jika sedang berada di rumah. Ryan sangat teliti dalam hal pekerjaan dan urusan sekolah, namun sangat malas untuk mengurus style dan penampilannya. Tera selalu kerepotan untuk merayu dan memilihkan baju yang cocok untuk Ryan ketika mereka akan pergi ke suatu acara pesta.

__ADS_1


****


Bersambung....


__ADS_2