MAFIA KEMBAR

MAFIA KEMBAR
KEISENGAN RYAN


__ADS_3

Meskipun mengalami luka tembak di lengan kirinya dan beberapa luka lebam di beberapa bagian tubuhnya, Ryan tetap pergi ke sekolah. Dia tidak ingin terlalu sering membolos karena sebentar lagi dia juga harus berangkat ke Jepang untuk mengunjungi Izumi sekaligus merayakan ulang tahun mereka. Sebagai seorang mafia, luka di lengannya tidak berarti apa-apa. Itu bukanlah masalah yang besar baginya.


Selama di sekolah Ryan tidak banyak bergerak agar tidak ada yang curiga dengan luka tembaknya. Hanya Awang yang tahu tentang luka itu karena dia melihat perban di lengan Ryan sekilas. Saat di tanya, Ryan hanya bilang jika itu hanya luka gores biasa.


Apapun jawaban yang dikatakan oleh Ryan, Awang langsung percaya. Awang berpikir mungkin itu akibat perkelahian Ryan di taman bersama para preman kemarin. Semua itu juga demi melindungi dirinya dan Dea.


Masih ada waktu sepuluh menit sebelum jam pelajaran di mulai.


"Ryan! Awang!" panggil Dea yang berlari-lari kecil menghampiri meja Ryan dan Awang.


"Hai, Dea!" sambut Ryan dengan senyum termanisnya.


Dea mengamati wajah Ryan dengan teliti dan seluruh bagian tubuhnya yang tampak.


"Aku tahu aku tampan tapi tidak usah sebegitunya juga kali ngelihatnya!" ucapan Ryan membuat Dea berhenti mengamati Ryan.


"Ihhh, narsis! Orang aku mau lihat apa kamu terluka akibat perkelahian di taman kemarin itu aja! Jangan terlalu percaya diri, ya, Tuan Narsis!" seru Dea tidak terima di bilang terpesona oleh ketampanan Ryan padahal kalau mau jujur sih emang iya. Dalam hati kecil Dea mengagumi keelokan wajah Ryan.


"Aku baik-baik saja. Wajarlah kalau ada sedikit luka memar," jelas Ryan tenang.


"Apa kamu bilang? Luka memar itu hal yang wajar? Dengar...." ucapan Dea terputus saat Ryan meletakkan telunjuknya di depan mulutnya.


"Dea! Suara cempreng kamu itu bisa mengundang perhatian semua orang. Kamu ingin semua murid satu sekolah ini tahu kalau kemarin Ryanhabis berkelahi di taman, Heeemmm!" hardik Awang setengah berbisik.


Dea membungkuk lalu mendekatkan wajahnya di hadapan Ryan dan Awang.


"Pulang sekolah nanti mampir ke rumahku, ya? Aku ingin membuat perhitungan denganmu Ryan! Kamu punya hutang penjelasan padamu tentang kejadiandi taman!" bisik Dea yang hanya di dengar oleh mereka berdua saja.


"Maaf Dea, aku ada janji sama mama." Ryan memang ada janji sama Tera akan pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli oleh-oleh yang akan di bawa ke Jepang.


"Hilih! Bilang aja takut menghadapi diriku yang sudah sampai pada tingkat ke-kepoan di atas rata-rata." Dea melipat tangannya di dada dengan gaya sok cool-nya.


"Beneran, Dea! Aku tidak bohong! Aku teleponin mama nih, kalau tidak percaya!" Ryan mengambil ponselnya dan langsung melakukan panggilan telepon.

__ADS_1


Dea merasa kebingungan ketika Ryan benar-benar membuktikan perkataannya. Ketika panggilan telah tersambung, Dea melambaikan kedua tangannya ke depan sambil meringis ketakutan.


"Hallo, Ma!" sapa Ryan ketika panggilan teleponnya sudah terhubung.


"Hallo, Yan Yan! Ada apa sayang?" tanya Tera dari seberang.


"Nanti kita jadi pergi tidak?"


"Jadi dong, Sayang! Waktu kita sudah mepet. Memangnya kenapa, sih? Jangan bilang Yan Yan tidak jadi ikut sama mama?!"


"Jadi, Ma, jadi.... Emm... Ma! Aku punya temen cewek yang mau kenalan sama Mama, nih! Katanya mau mencalonkan diri jadi mantu Mama!"


Mata Dea melotot tajam lalu dia memutar badannya dan lari terbirit-birit meninggalkan kelas Ryan.


"Beneran anak mama ini udah ada gebetan?" suara Tera terdengar sangat serius.


"Hahaha, bercanda, Ma. Ya sudah, bel masuk sudah berbunyi. Yan Yan belajar dulu, Ma!"


"Daaa, Sayang!"


"Gila kamu, Yan! Lihat tuh, Dea sampai lari terbirit-birit begitu gara-gara ulah kamu." Awang terkekeh melihat kekonyolan sahabatnya itu.


"Siapa suruh tidak percaya!" jawab Ryan enteng.


"Hmm. Dea itu kalau aku perhatikan perhatian banget sama kamu. Kemarin pas di taman mau aku anterin pulang aja masih mikirin keselamatan kamu."


"Oh, ya?!"


"Iya, Yan. Kayaknya dia ada something deh, sama kamu." Awang memancing perasaan Ryan pasalnya dia mulai suka sama Dea.


"Mungkin." jawab Ryan ambigu.


Kalau sudah acuh begitu, semua pertanyaan yang dilontarkan oleh Awang tidak akan mendapatkan jawaban yang memuaskan dari Ryan. Tidak ada hal yang harus dia lakukan selain diam dan menunggu sikap Ryan kembali mencair. Beberapa tahun bersama Ryan membuat Awang cukup mengerti semua kebiasaan yang dimiliki oleh Ryan.

__ADS_1


Bel tanda pelajaran di mulai telah berbunyi. Ryan dan kawan-kawan segera bersiap untuk memulai kegiatan belajar mengajar di kelasnya. Jam pertama hari ini adalah matematika. Hari ini mereka bisa pulang lebih cepat karena upacara bendera diliburkan.


••••


Di Jepang


Hari ini adalah hari kedatangan Tera, Wisnu dan Ryan di Jepang. Kegaduhan terjadi di kediaman Hiro dan Ryuki. Bukan seorang Ryuki jika tidak suka membuat suasana yang seharusnya bisa berjalan dengan normal menjadi heboh.


Demi menyambut sahabat karibnya itu, Ryuki rela turun tangan untuk mempersiapkan segalanya. Mulai dari menata ruang, mendekorasi, dan mengubah posisi barang-barang yang letaknya perlu di tata ulang.


Izumi merasa pusing melihat maminya terus mondar mandir di depannya tanpa henti.


"Mami! Bisa tidak kalau mami duduk manis saja. Biarkan mereka yang bekerja. Mami kan tinggal tunjuk sana sini mana yang harus dikerjakan." seloroh Izumi sambil memonyong-monyongkan bibirnya


"Iya, Sayang! Ini mami juga dah hampir selesai. Habis ini kita makan siang. Mami masak spesial buat kamu nanti," ucap Ryuki


"Ahhh! Jangan bilang Mami masakin telur gosong lagi buat aku!" gerutu Izumi yang merasa bahwa akan terjadi hal yang kurang baik hari ini. Bagaimana tidak, Ryuki akan memaksanya memakan makanan yang dia buat seperti yang sudah-sudah.


"Tidak sayang! Mami akan memasakkanmu sup daging dan ayam bakar."


"Aku sedang tidak ingin makan sup Mami. Ayam bakar juga tidak begitu suka aku." Izumi berusaha menghindari masakan maminya.


"Sayang... mumpung mami sedang berbaik hati, nih! Masak iya, anak kesayangan mami harus memakan masakan koki terus. Sekali-kali mami kan pengen juga masak untuk kamu, untuk papi Hiro juga."


"Nah, Mami masak aja buat papi biar papi tambah sayang sama mami." Izumi mencoba mengalihkan sasaran mal praktek Ryuki kepada Hiro.


"Tidak! Pokoknya kamu harus makan masakan mami habis ini! Kamu request aja mau minta apa?" ucap Ryuki sambil terus mengawasi pekerjaan para asisten rumah tangganya.


"Telur dadar aja deh, Mi. Tapi jangan gosong, ya, Mi!" Izumi akhirnya harus pasrah.


Dalam hati Izumi berharap jika Ryuki akan lupa untuk memasak. Atau kalau tidak telur di dapur habis, tapi itu tidak mungkin. Jika boleh memilih, Izumi lebih baik tidak makan seharian ketimbang memakan telur gosong buatan maminya.


****

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2