MAFIA KEMBAR

MAFIA KEMBAR
SAMPAI DI JEPANG


__ADS_3

Ponsel Ryuki terus berbunyi di meja dekat Izumi sedang bersantai. Merasa terganggu dengan nadanya yang berisik, Izumi meraihnya dan melirik siap si pemanggil yang tertera di layar ponsel maminya. Momo. Entah siapa itu Izumi tidak mengenalnya.


"Miiiii! Mamiiiiii! Momo memanggil!" teriak Izumi menggema di seluruh ruangan.


"Iya...! Iya! Berisik sekali, sih, kamu!" Ryuki meletakkan ujung gorden yang ia pegang.


Ponselnya masih terus berdering saat dia datang menghampirinya.


"Ponsel mami tuh yang berisik! Dari tadi berbunyi terus!" ucap Izumi yang sedang duduk dan menggoyang-goyangkan kakinya yang dia tumpuk di atas paha, mulutnya tidak berhenti memakan camilan di tangannya sambil menonton TV.


Ryuki meletakkan jari telunjuknya di hidung meminta Izumi untuk diam. Merasa kesal Izumi memasukan snack renyah di mulutnya dan mendekatkan yang ke ponsel maminya. Suara kriuk-kriuk yang terdengar sangat mengganggu Ryuki yang sedang berbicara di telepon. Tidak ingin pembicaraannya terganggu, Ryuki segera beranjak dari samping Izumi sambil melotot kesal ke arahnya. Izumi tersenyum penuh kemenangan sambil terus memakan camilannya.


Ryuki terlihat berbicara serius dengan si penelepon di pojok ruangan sambil memainkan benda apa saja yang bisa dia pegang.


Merasa bosan karena tidak boleh bepergian, Izumi terlihat beberapa kali menguap. Dia menaikkan kedua kakinya ke atas sofa lalu berbaring dengan nyaman. Saat ini kamarnya juga sedang di ganti gorden yang senada dengan gorden yang ada di seluruh sudut rumah.


"Sayang! Mami pergi keluar ada urusan sebentar, ya! Maaf mami tidak jadi memasak untukmu. Kamu makan saja dulu tidak usah menunggu mami!" Mengecup kening Izumi yang hampir tertidur.


Dalam hati Izumi bersorak senang. Akhirnya dia tidak jadi memakan makanan maminya yang tidak layak untuk di makan. Rasa kantuk yang sudah tidak tertahan membuatnya hanya mengangguk dan tersenyum tipis menanggapi ucapan Ryuki.


"Ya, sudah! Mami pergi dulu!" Setelah mengatakan itu, Ryuki berjalan meninggalkan Izumi diikuti oleh beberapa orang pengawal di belakangnya.


Tidak ada yang berani mengganggu tidur Izumi. Para pelayan dan pekerja yang sedang memasang gorden sangat berhati-hati dalam bekerja agar tidak menimbulkan suara. Kemarahan Izumi sangat menakutkan. Mereka takut menerima hukuman yang diberikan oleh Izumi jika mereka membuatnya marah.


Rupanya Ryuki pergi untuk mempersiapkan pesta kejutan untuk si kembar Ryan dan Izumi malam ini. Semuanya sudah di rencanakan bersama suami dan orang tua kandung si kembar yaitu Wisnu dan Tera. Beruntung Izumi tidak curiga. Ryuki mempersiapkannya sejak beberapa hari yang lalu ketika Izumi pergi ke sekolah dan menjalankan misi dari ayahnya.


Tidur Izumi sangat lelap. Hari sudah bergulir sore namun dia juga belum menunjukkan tanda-tanda akan bangun dari tidurnya. Lentera, Wisnu dan Ryan sudah sampai di halaman istana kediaman keluarga Hiro sementara Ryuki dan Hiro masih dalam perjalanan pulang dari tempat yang mereka persiapkan untuk melakukan kejutan nanti malam.


Para pengawal dan penjaga istana Hiro sudah sangat hafal pada tamu yang datang itu. Mereka menunduk memberi hormat pada Wisnu sekeluarga. Untuk masuk ke dalam istana Hiro membutuhkan kode akses khusus. Tera mengeluarkan tisu lalu menekan beberapa digit nomor dan huruf tertentu pada alat pengunci digital yang terpasang di samping pintu. Tidak boleh ada jejak sidik jari yang tertinggal di layar monitor untuk mengantisipasi pelacakan oleh musuh yang bisa saja menyusup.


Sebagai generasi mafia berikutnya, Ryan diam-diam memperhatikan apa yang dilakukan oleh mamanya. Secara tidak langsung dia mendapatkan pelajaran dari mamanya yang terkenal kejeniusannya itu. Entah sudah berapa perangkat lunak yang berhasil diciptakan oleh Tera untuk menunjang pekerjaan Wisnu dan Klan Goritzma.


Mereka bertiga langsung mendapatkan sambutan ketika baru melangkah masuk ke dalam rumah. Para pelayan sudah melihat kedatangan mereka dari CCTV setelah sebelumnya mendapatkan telepon dari Hiro untuk menyambut tamunya sebelum dia pulang. Wisnu dan Ryan juga menguasai bahasa Jepang untuk memudahkan mereka berkomunikasi dengan Izumi yang sejak bayi telah diasuh oleh Hiro.

__ADS_1


"Di mana Izumi?" tanya Tera kepada salah satu pelayan yang mengikuti mereka dan membantu membawa barang bawaan mereka.


"Sedang tidur di sofa ruang santai di lantai dua, Nyonya!"


"Tidur? Jam segini tidur? Sejak kapan?" tanya Tera ramah.


Pelayan di istana Hiro sangat menyukainya karena dia sangat ramah dan selalu membawakan mereka hadiah ketika datang berkunjung.


"Mungkin sudah hampir 3 jam Nona Izumi tertidur," jawab pelayan itu sambil tersenyum.


"Astaga!" Tera menggeleng.


"Dia sudah seperti kebo aja ma," ejek Ryan menimpali.


"Idihh! Kayak kamu enggak aja!" Tera balik menggoda Ryan.


"Hihihi... Kadang-kadang, sih!" Ryan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Hoaaamm! Papa juga ngantuk. Mau langsung tidur aja lah!" Wisnu berpisah arah dengan Tera dan Ryan yang sedang menuju ke ruang santai.


Melihat Izumi yang sedang tertidur seperti orang pingsan, muncul ide jahil dipikirkan Ryan. Tera masih sibuk berbicara pada pelayan dan memilah-milah oleh-oleh yang dia bawa. Dia tidak tahu apa yang akan dilakukan Ryan pada adiknya.


Untuk menjalankan aksinya, Ryan mencari sesuatu yang bisa dia pakai untuk mengerjai Izumi. Di belakangnya ada sebuah vas bunga yang berisi bunga imitasi. Ryan menghampirinya lalu mencabut satu tangkai.


Setelah berjalan mengendap-endap, Ryan berdiri di belakang sofa di mana Izumi tertidur. Bunga imitasi dia julurkan lalu dia sapukan ke wajah Izumi dan memutar-mutarnya di dekat hidungnya. Bunga itu segera dia tarik ketika tangan Izumi mengusap wajahnya dan menggapai-gapai mencari sesuatu yang mengganggunya.


Ryan menahan tawanya dan terus melanjutkan aksinya. Sampai beberapa kali keisengan Ryan berulang, Izumi belum menyadarinya. Rasa kantuk masih menguasai dirinya saat ini.


Karena tidak tahan melihat kelucuan saudara kembarnya itu, akhirnya Ryan tertawa dengan keras. Izumi mengerjapkan matanya dan mencoba mengumpulkan kesadarannya. Matanya mencari di mana sumber suara tawa yang sangat mengganggunya itu.


"Yan Yan!" Walaupun masih setengah sadar, Izumi tahu jika itu Ryan. Dia melompat dan memeluk kembarannya itu dengan erat. "Aku merindukanmu, Yan Yan!"


"Aku juga, Izumi! Sambutan macam apa ini? Ihh! Jangan-jangan kamu ileran!" Ryan berusaha merenggangkan pelukan Izumi namun Izumi malah semakin mengeratkannya.

__ADS_1


"Mana ada gadis cantik sepertiku tidur ileran. Kamu tuh, yang bau dari kemarin pasti tidak mandi!" ejek Izumi.


"Mana ada aku tidak mandi! Aku ketekin tau rasa kamu!" Ryan tertawa karena berhasil membuat Izumi cemberut.


"Awas kamu, ya!" Izumi memukuli lengan Ryan dengan gemas.


"Arggh! Sakit Izumi! Aarrgh!" pekik Ryan benar-benar merasakan sakit karena luka bekas terkena tembakannya belum sepenuhnya mengering.


"Jangan pura-pura, Yan Yan! Kurang keras, ya?!"


Tangan Izumi di tangkap oleh Ryan saat dia akan memukulnya lagi.


"Aku tertembak di lengan kiriku." wajah Ryan terlihat serius.


Melihat Ryan tidak sedang berpura-pura, Izumi merasa bersalah. Dia kembali memeluk Ryan dengan sayang.


"Maafkan aku, Yan Yan."


"Sudah ku maafkan sebelum kamu memintanya. Aku mau duduk."


"Oh, iya! Kemarilah!"


Izumi melepaskan pelukannya dan meminta Ryan duduk di sampingnya. Izumi melihat ke sekeliling mencari di mana mama dan papanya berada. Tidak mungkin jika Ryan hanya datang sendiri ke Jepang meskipun itu bisa saja terjadi.


"Mama dan papa sedang beristirahat di kamar. Kamu sih, tidur seperti kerbau!" seru Ryan.


"Kerbau? Apa itu kerbau?" tanya Izumi penasaran.


"Hewan yang sangat imut dan menggemaskan," jawab Ryan asal.


"Oohh, so sweet!" pekik Izumi senang.


Lagi-lagi Ryan berhasil mengerjai saudara kembarnya itu. Dia tidak bisa menahan tawa melihat Izumi begitu senang disamakan dengan kerbau.

__ADS_1


****


Bersambung...


__ADS_2