MAFIA KEMBAR

MAFIA KEMBAR
DELIMA PUTIH


__ADS_3

Minggu pagi di kediaman Wisnu.


"Ma! Pa! Aku mau lari-lari sama Awang!" pamit Ryan pada Wisnu dan Tera.


"Tumben, Yan. Biasanya kamu olahraga di rumah aja," ucap Wisnu di sela-sela sarapannya.


"Sekali-kali aku kan pengen olahraga di taman bareng temen, Pa!" ucap Ryan sambil menyerobot jus milik papanya. "Daa Mama, daa Papa!"


Tera menggeleng melihat putranya yang kini sudah beranjak dewasa itu kadang masih saja bertingkah seperti anak kecil.


"Yan Yan! Kamu tidak bawa bekal?!" teriak Tera ketika Ryan sudah menyelonong pergi begitu saja.


"Nanti Yan beli aja, Ma!" teriak Ryan yang terus berjalan tanpa menoleh ke belakang lagi.


Mobil beserta sopir keluarga Wisnu sudah berjajar rapi menunggu perintah majikannya. Ryan berdiri mematung sambil berpikir. Jika dia pergi membawa sopir dan mobil mewah, pasti Awang dan Dea akan curiga tentang siapa dirinya sebenarnya.


Mereka bertiga janjian di taman kota untuk olahraga pagi bersama. Taman itu berada tidak jauh dari tempat tinggal Dea. Rumah Awang dan Ryan cukup jauh dari taman.


Kali ini mereka memilih untuk berangkat sendiri-sendiri ke taman. Setelah berpikir sejenak, akhirnya muncul ide di kepala Ryan. Dia akan meminta sopirnya untuk mengantarkannya pergi ke taman memakai motor milik salah satu di antara mereka.


Ryan memilih motor yang nyaman untuk dibonceng. Setelah dia menunjuk motor yang dia mau, sopir Ryan pemilik motor itu segera mengambil jaket dan helmnya untuk di pakai. Ryan juga memakai helm yang dia inginkan.


Dinginnya udara pagi tidak membuat semangat Ryan surut. Wajahnya terlihat bahagia menanti pertemuannya dengan Awang dan Dea. Dua orang yang dia akui sebagai sahabat. Sebelumnya Ryan tidak pernah memiliki sahabat dekat ini yang pertama kalinya.


"Tuan Muda! Apakah ini sudah betul jalannya?" tanya pak Aan, sopir Ryan.


"Sudah, Pak! Di ujung kompleks C lebih tepatnya!" jelas Ryan.


"Baik, Tuan Muda!" pak Aan melajukan motornya dengan kecepatan sedang.


Dinginnya udara Kalimantan tidak membuat Kota ini sepi. Penduduknya sudah bergerak dengan aktifitas mereka yang padat. Hari Minggu adalah hari yang di nanti bagi sebagian orang untuk melakukan quality time bersama keluarga mereka.


Taman yang di kunjungi oleh Ryan dan teman-temannya sudah ramai dipenuhi oleh pengunjung. Orang-orang dari berbagai lapisan masyarakat berkumpul di sana. Para penjual makanan juga tersebar di setiap sudut taman.


"Udah turun di sini aja, Pak!" seru Ryan pada pak Aan.


"Baik, Tuan Muda! Hati-hati, Tuan tidak membawa pengawal." Pak Aan menatap Ryan dengan cemas.


"Jangan khawatir! Aku selalu bawa senjata rahasia pemberian papi Hiro," bisik Ryan di telinga pak Aan.


"Baiklah, Tuan Muda! Saya permisi!"


"Hmm. Pergilah!" Ryan berjalan meninggalkan pak Aan yang juga sudah memutar motornya ke jalan besar.


Tera tetap mengawasi putranya, tanpa sepengetahuan Ryan dia selalu mengirimkan beberapa orang pengawal bayangan untuknnya. Ryan sengaja tidak diberitahu jika Tera memiliki pasukan bayangan yang sangat hebat terlatih.


"Hai, Dea, Awang! Sorry telat, yuk!" Ryan mengajak kedua temannya untuk mulai berlari-lari kecil.


"Ayukk!"


Mereka bertiga berlari mengelilingi taman dengan beriringan sambil bersendau gurau.


Bugg!


Seseorang menabrak Dea hingga jatuh terjerembab.


"Eh... eh... sorry! Sorry!" orang itu ingin kembali berlari namun tangannya di cekal oleh Ryan.

__ADS_1


"Mau ke mana kamu? Habis nabrak orang main kabur aja!" hardik Ryan.


Wajah orang itu terlihat marah atas perlakuan Ryan. Sesaat dia menoleh ke belakang. Merasa tidak ada yang mengejarnya, orang itu membalas perlakuan Ryan dengan cengkeraman yang lebih kuat pada pergelangan tangan Ryan.


"Aku buru-buru! Lepaskan tanganmu, Muka pucat!" seru orang itu.


"Tidak semudah itu. Atau mungkin ada yang kamu takutkan?! Pengecut!" ejek Ryan.


"Aku tidak suka bermain dengan anak-anak! Minggir!"


Ryan melepaskan tangannya namun tangan yang lain melayangkan pukulan. Orang tak di kenal itu bisa menghindar namun Ryan berhasil memukul dengan tangan yang tadi mencengkeram orang itu. Teknik tipuan bayangan yang lumayan baik meskipun dia baru melatihnya belum lama.


Bak seorang jagoan orang itu memberikan serangan balasan. Perkelahian pun tak terhindarkan. Kemampuan mereka seimbang membuat pertarungan terlihat seri.


Dorr! Dorrr! Dorrr!


Tiga kali tembakan ke udara membuat para pengunjung taman kota berlarian untuk meninggalkan tempat itu.


Suasana pagi yang semula ceria dan penuh dengan kebahagiaan kini berubah menjadi mencekam. Dalam sekejap taman itu sudah kosong hanya tersisa Ryan, kedua temannya, orang tak di kenal dan segerombol pengacau bersenjata yang terlihat sangar. Mereka berjumlah tujuh orang dan semuanya memegang senjata api.


Kali ini Ryan tidak boleh gegabah. Ini pertama kalinya dia menghadapi situasi yang sulit. Berbeda dengan Izumi yang sudah terlatih dalam melawan musuh-musuhnya sejak kecil karena sering mendapatkan misi.


"Bodoh! Lihat sekarang apa yang terjadi! Kamu sudah membahayakan teman-temanmu!" seru orang tidak di kenal itu pada Ryan.


"Siapa kamu sebenarnya?" bisik Ryan mencoba melupakan permusuhannya dengan orang yang tidak di kenalnya itu.


"Sekarang bukan saatnya untuk bercerita. Pikirkan bagaimana cara kita untuk mengalahkan mereka!" seru orang asing itu.


"Kita?! Hah!" Ryan masih belum menyetujui ajakan orang tak di kenal itu.


"Bodoh! Apa kamu ingin mati konyol di sini? Kita bisa menyelesaikan urusan kita setelah ini!" seru orang itu.


"Meskipun kamu menyamar aku tahu jika kamu juga seorang mafia, Muka Pucat! Keluarkan senjatamu!"


Setelah bertarung beberapa saat dengan Ryan, orang asing itu tahu jika Ryan memiliki jurus dan teknik bertarung yang sama dengannya. Orang asing itu masih sangat penasaran namun ini bukan saat yang tepat untuk bertanya.


"Awang! Bawa Dea pulang!" seru Ryan melihat gerombolan pengacau itu semakin mendekat.


"Tapi... kamu...." ucapan Awang terpotong ketika melihat tatapan Ryan yang begitu menakutkan. Baru kali ini dia melihat sisi lain dari Ryan. Selama bersahabat dengannya, Ryan hanya beberapa kali saja bersikap dingin dan acuh di depannya.


Dea tidak mampu berkata apa-apa. Saat ini hatinya diselimuti dengan ketakutan. Bibirnya terasa kelu setelah mendengar suara tembakan beberapa saat yang lalu.


"Cepat pergi, Awang!" teriak Ryan. Kali ini suaranya terdengar lebih keras dan menakutkan.


Tidak berani menjawab lagi, Awang dan Dea langsung kalang kabut pergi dari sana menuju parkiran. Beberapa kali Dea menoleh ke arah Ryan, rasa khawatir menyelinap di hatinya. Dea merasa semua yang terjadi di pagi ini semua gara-gara dirinya.


"Kurcaci-kurcaci kecil! Hahaha!" tawa salah satu kawanan pengacau itu yang di sambut oleh tawa yang lainnya.


"Jangan sombong! Seekor gajah juga bisa mati karena di sengat oleh seekor kalajengking yang berbisa." Ryan berjalan maju ke depan.


"Haahh! Besar mulut! Siapa kamu? Aku tidak ada urusan denganmu! Minggir!" pemimpin gerombolan itu mencoba menyentuh bahu Ryan namun gagal. Ryan berhasil mengelak dan bergerak memutar hingga posisi mereka tertukar.


Brukk!


Dengan gerakan yang cepat Ryan berhasil merebut senjata di tangan lawannya dan membuatnya jatuh berlutut dengan tendangan ringan di belakang lututnya.


"Bilang sama anak buah kamu untuk menjatuhkan senjatanya!" ucap Ryan penuh penekanan. Pistol ketua pengacau itu dia gunakan untuk mengancam pemiliknya.

__ADS_1


Melihat orang itu tidak kunjung berbicara, Ryan semakin menekan pistol di tangannya keras-keras di pelipis ketua gerombolan itu.


"Buang senjata kalian!" perintah ketua itu dengan terpaksa. Napasnya naik turun menahan emosi. Dia tidak terima bisa-bisanya di kalahkan oleh seorang anak bau kencur yang tidak tahu darimana asalnya.


"Lucuti senjata mereka!" perintah Ryan pada rekan duelnya sebelumnya.


Entah ilmu apa yang dimiliki Ryan, orang asing itu seperti tersihir dan melakukan apa yang Ryan perintahkan. Mungkin karena kemampuan hebat Ryan yang mampu membuat lawannya bertekuk lutut dalam sekejap itu membuatnya segan. Orang asing itu juga merasa berhutang nyawa pada Ryan.


Seluruh senjata keenam orang yang terlihat sangar namun tidak bernyali itu kini sudah berpindah tangan.


"Apa hubungan kamu dengan Delima Putih?" tanya pemimpin gerombolan itu.


"Aku tidak mengenalnya! Kami tidak ada urusan satu sama lain! Kenapa kalian mengejarnya?" tanya Ryan.


"Bukan urusanmu! Pemimpin kami pasti juga akan mengejarmu setelah ini!" ucapan pemimpin gerombolan itu terlihat percaya diri.


"Aku tidak takut!"


Swing! Buggg!


Ryan menendang tubuh lawannya hingga jatuh terkapar.


"Aaarrrhhh!" teriak pemimpin gerombolan itu ketika Ryan menginjak dan menggilas dadanya dengan sepatunya.


"Tuan Muda!" teriak Adam bersama beberapa orang anak buahnya.


Pengawal bayangan Ryan meminta bantuan ketika Ryan berkelahi dengan orang Delima Putih. Mereka tidak mungkin memunculkan dirinya tanpa seijin Tera. Klan Goritzma juga tidak boleh sembarangan muncul di sana.


"Bawa mereka semua ke ruang pengasingan! Ikat jangan sampai lepas! Jangan biarkan siapapun menyentuh mereka tanpa seijinku!" perintah Ryan.


"Baik, Tuan Muda!"


Adam dan anak buahnya mengikat tangan tujuh orang musuh Ryan itu ke belakang dan membawa mereka masuk ke dalam mobil. Ruang pengasingan adalah sebuah ruangan yang digunakan Klan Goritzma untuk menyekap dan menyiksa musuh-musuhnya. Walaupun Ryan tidak sekejam Izumi namun dia juga sudah beberapa kali membunuh lawannya dengan keji.


"Bawa juga senjata-senjata ini!" perintah Ryan pada salah satu pengawalnya.


Ryan juga melemparkan senjata yang tadi di pegangnya ke atas tumpukan senjata rampasan itu.


"Urusan kita belum selesai!" Ryan berjalan santai menuju ke sebuah bangku sambil menyeka keringatnya yang masih tersisa akibat perkelahiannya.


"Aku Leon! Murid Delima Putih!" orang asing itu duduk di samping Ryan.


"Siapa mereka? Kenapa mereka mengejarmu?" tanya Ryan langsung pada inti permasalahan.


"Mereka adalah Klan Hercules yang berkembang pesat beberapa tahun ini. Mereka mengambil satu per satu murid Perguruan Delima Putih dan memaksa mereka bergabung dengan Klan mereka. Aku pernah menjadi tawanan mereka dan menghabisi beberapa orang anggota Hercules saat mereka lengah. Itulah kenapa mereka mengejarku."


"Hercules!" Ryan manggut-manggut. Dia merasa pernah mendengarnya. "Kalau tidak salah Hercules adalah Klan besutan mafia Hongkong yang berpusat di sana."


"Benar! Memang tidak sebesar Goritzma namun mereka juga tidak bisa di anggap remeh."


Ryan terdiam. Identitasnya sebagai putra dari Queen Goritzma tidak boleh bocor. Sebisa mungkin dia harus menghindari percakapan yang mengarah ke sana.


"Aku juga murid pribadi guru Bao! Secara tidak langsung kita teman seperguruan. Lupakan masalah tadi. Aku harus pergi!" pamit Ryan sambil berdiri.


"Murid pribadi?! Siapa kamu sebenarnya?" tanya Leon penasaran.


"Kamu tidak perlu tahu!" ucap Ryan melirik tajam ke arah Leon lalu berlalu dari hadapannya tanpa menoleh lagi.

__ADS_1


****


Bersambung...


__ADS_2