
Sepelan apapun mereka bertarung tetap saja masih menimbulkan suara yang mampu membuat Izumi terbangun. Perlahan-lahan dia duduk lalu membuka matanya ketika mendengar suara pukulan gaduh orang yang sedang berkelahi. Setelah menguceknya beberapa kali, baru tampaklah duel antara Raghaza dengan satu orang asing.
Lawan Raghaza melirik ke arah Izumi.
Dia terlihat sedang tersenyum jahat sambil terus beradu jurus dengan Raghaza.
Orang itu sengaja membawa Raghaza mendekat ke arah Izumi yang telah terbangun tanpa menghentikan pergulatan mereka.
Melihat gelagat lawannya, Raghaza tanggap jika orang itu sedang mengincar Izumi. Mungkin dia mengira Izumi lemah dan akan menjadikannya senjata untuk melemahkan Raghaza. Dengan begitu dia pikir, keadaan akan berbalik dan dia bisa menguasainya.
Sepakan kaki dari orang asing itu membuat Raghaza kehilangan keseimbangan. Tapi itu hanya sebentar saja. Dia kembali bisa menguasai dirinya dan mengimbangi serangan musuh.
Bagi Izumi itu adalah sebuah prestasi yang besar. Raghaza sudah menjadi lebih kuat dan lebih gesit sekarang. Untuk pertarungan kali ini, Izumi tidak ingin membantunya dan membiarkannya sebagai latihan untuk Raghaza.
Orang asing itu terus saja melirik Izumi. Kini posisi mereka berdua semakin berdekatan dengannya. Untuk menang orang itu pura-pura kalah dan menjatuhkan diri ketika menerima pukulan Raghaza.
Tujuan pertamanya adalah meraih pisau lipatnya yang terjatuh. Setelah itu dia akan menyandera Izumi agar Raghaza menyerahkan seluruh barang berharganya.
Raghaza terlihat ngos-ngosan sambil menyapu keringatnya beberapa kali. Dinginnya hujan tidak dapat mengalahkan rasa gerah akibat pertandingan.
Orang asing itu berhasil meraih pisau miliknya.
"Jangan bergerak! Atau pisau ini akan melukaimu!" seru orang asing itu.
Izumi tersenyum tipis menanggapinya dan tentu saja ini terlihat sangat menggelikan untuknya.
__ADS_1
"Kamu lucu sekali. Bukankah itu hanya pisau mainan?!" ejek Izumi dengan nada datarnya.
"Apa kamu punya nyawa lebih dari satu, Nona?" Orang asing itu tersenyum penuh kemenangan.
"Hoaammm! Aku mengantuk." Izumi pura-pura akan kembali tidur.
Dengan cepat orang asing itu bergerak ke belakang Izumi. Niatnya sih, ingin menodongkan pisau di leher Izumi, namun apa daya sebelum itu terjadi Izumi sudah bisa menebak gerakannya. Tangan kecil Izumi dengan cepat menarik tangan orang asing itu dan membanting tubuhnya ke lantai.
Raghaza tersenyum melihatnya.
'Sial! Ternyata gadis ini bisa bela diri!'
Orang asing itu berniat untuk kembali menyerang Izumi namun lagi-lagi dia tidak bisa berbuat apa-apa ketika Izumi mengunci gerakannya.
Izumi memadukan gerakan tangan dan kakinya untuk menjatuhkan lawannya. Dia tidak sedang ingin bermain-main karena sudah lelah hati dan raga memikirkan hujan yang tidak kunjung mereda. Dia juga kesal karena tidurnya terganggu.
"Pak tua! Kamu payah sekali! Mau mati sekarang atau besok?" pertanyaan Izumi memang terlihat bercanda namun sepertinya dia serius.
"Dasar bocah tengil! Aku tidak takut dengan ancamanmu!" orang itu masih mencoba bersikap tegas.
"Boleh saja." Izumi yang saat ini masih terduduk di punggung orang itu mengambil senjata rahasianya yang terselip di kedua pahanya.
Dia tidak langsung menodongkan pistolnya melainkan memainkannya dengan memutar-mutar pistol itu dengan jari telunjuknya.
Orang asing itu terkejut melihat senjata api di tangan Izumi.
__ADS_1
"Siapa kamu sebenarnya, Bocah?!" Suara berat orang asing itu nyaris tak terdengar karena dadanya yang sesak terhimpit tubuh Izumi.
"Siapa aku itu tidak lah penting. Tapi kamu sudah mengusik orang yang salah!" seru Izumi.
"Aku... aku melakukan ini untuk bertahan hidup. Ke-5 anakku butuh biaya yang tidak sedikit. Merampok adalah pekerjaan yang paling menjanjikan untukku," jelas orang itu.
"Tapi kamu merampok orang yang salah. Aku adalah Dewi Kematian! Kamu pernah mendengar nama itu?" tanya Izumi melunak.
"Dew-dewi Ke-ma-tian?" Setelah mengingat nama itu wajah orang asing pun menjadi pucat.
'Ternyata pimpinan mafia berdarah dingin masih sangat belia. Aku akui dia lumayan hebat. Pasti kemampuannya ini akan terus bertambah seiring bertambahnya umurnya.'
Diam-diam orang asing itu memuji kehebatan Izumi.
"Aku bukan orang yang berbelas kasihan. Tapi tenang saja, aku akan melakukannya tanpa menyiksamu terlebih dahulu. Ini tidak akan menyakitkan." Izumi menempelkan ujung pistolnya di pelipis orang asing itu.
"Anak-anakku, istriku. Maafkan aku." Orang itu terlihat memejamkan mata sambil terus bergumam.
Ungkapan penyesalan, cinta, dan kesedihan terus meluncur lirih dari bibirnya.
Satu persatu nama keluarganya dia sebut dengan air matanya yang meleleh. Sangat jarang sekali seorang laki-laki menangis. Ini kali pertamanya Izumi melihatnya.
Walaupun mengaku sebagai seorang iblis, Izumi tetaplah seorang manusia biasa yang punya hati. Dia tahu jika pria paruh baya didepannya ini memang telah berbuat jahat padanya, namun mendengar alasannya merampok membuatnya tidak tega. Izumi menarik pistolnya lalu kembali menyimpannya di tempatnya semula.
****
__ADS_1
Bersambung...