
"Tante Naomi. Mamanya Raghaza. Aku memberikan mereka tempat tinggal setelah Ghaza mau bergabung denganku."
Izumi menyusul Ryan lalu menceritakan sekilas tentang siapa wanita yang ada di tempat itu.
Ucapan Izumi membuat langkah Ryan terhenti. Sepertinya ada sesuatu yang aneh di sini. 'Apakah Raghaza adalah orang yang sangat spesial untuk Izumi?'
"Kelihatannya kamu mulai menyukai seorang pria." Ryan menatap lekat wajah Izumi.
"Eh, siapa bilang? Aku cuma ingin melindungi mereka dari kelompok mereka sebelumnya. Raghaza aku ambil paksa dari kelompok itu dan aku harus bertanggung jawab atas mamanya juga."
"Sungguh? Hanya itu saja." Ryan memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celananya sambil tersenyum simpul.
"Yan Yan!" Izumi meninju dada Ryan dengan kedua tangannya hingga membuat Ryan kewalahan dan memegangi tangan Izumi.
Wajah Izumi berwarna merah jambu. Ryan tahu dia sangat malu saat ini. Menurut Ryan, Raghaza lumayan juga.
"Rupanya adikku ini penyuka pria dewasa. Aku pikir Sora yang kamu sukai. Ternyata...."
"Diam!"
Izumi ingin kembali memukul Ryan namun dia berlari untuk menghindar. Mereka saling berkejar-kejaran di halaman belakang itu. Ryan membawa Izumi memutari Naomi yang sedang membersihkan taman kecil miliknya.
Mereka kembali berlari mengelilingi halaman yang cukup luas itu hingga sama-sama kelelahan.
"Aku menyerah, Izumi!" Ryan menjatuhkan tubuhnya di lantai.
Kedua tangannya menopang tubuhnya di belakang punggungnya. Nafasnya tidak beraturan membuat dadanya terlihat naik turun. Keringatnya mengalir membasahi wajahnya dan beberapa bagian bajunya terlihat basah. Berlarian di siang hari membuat mereka seperti berolahraga di bawah terik.
"Huhh... Kamu membuat kakiku hampir lepas, Yan Yan."
"Hahaha! Mana ada. Dasar, anak manja!" Ryan melirik Izumi lalu kembali melihat ke langit.
"Aku akan sangat merindukan saat-saat seperti ini, Yan Yan."
Ryan menangkap sinyal kesedihan di mata Izumi.
__ADS_1
"Kita pasti akan segera bertemu lagi. Belajar yang rajin. Kamu sudah tertinggal jauh di bawahku dalam urusan sekolah."
"Eeits! Sebenarnya aku tidak bodoh. Aku hanya tidak tahan untuk tidak berkelahi saat ada yang mengusikku."
Izumi tidak terima jika ada orang yang mengira dia dikeluarkan dari sekolah karena bodoh.
"Aku tidak bilang begitu. Kamu harus sungguh-sungguh kali ini. Abaikan sesuatu yang tidak penting dan jangan mudah tersulut emosi!"
"Iya, iya! Lama-lama kamu cerewet kaya mami!"
"Buktikan kalau ini adalah sekolah terakhir kamu sampai kamu lulus!" Ryan menatap serius ke arah Izumi.
"Aku punya satu permintaan. Kalau kamu mau memenuhinya aku akan bertahan di sekolah ini dan sedikit menurunkan harga diriku dengan menjadi anak manis yang taat aturan."
"Tidak usah berputar-putar. Cepat katakan apa yang kamu inginkan!"
"Berjanjilah kamu akan kuliah di sini dan bersama-sama mengendalikan Goritzma!"
Ryan terdiam.
Hatinya masih merasa bimbang dengan keputusannya. Semoga ini tidak salah.
"Yan Yan! Kamu memang kakak terbaikku."
Izumi melompat memeluk Ryan sambil memberinya ciuman bertubi-tubi di wajahnya.
"Hentikan, Izumi! Sepertinya aku harus segera mencarikan kamu pacar."
"Hei! Jangan mulai lagi, Yan Yan! Aku hanya ingin memberimu kecupan sayang." Dengan kesal Izumi mendorong tubuh Ryan lalu duduk memunggunginya.
Cup!
Ryan mengecup pipi Izumi sekilas sebelum beranjak berdiri.
"Melihatmu merajuk membuat perutku terasa lapar," ucap Ryan mengalihkan topik pembahasan.
__ADS_1
"Aku akan meminta Jiro membeli makanan untuk kita."
Ryan tersenyum melihat Izumi sudah melupakan kekesalannya. Dia mengulurkan tangannya untuk membantu Izumi berdiri. Tidak peduli di mana mereka berada sekarang, Izumi terus bergelayut manja di lengan Ryan.
Dalam perjalanan menuju ke ruang tengah, mereka bertemu dengan Raghaza yang akan pulang untuk menemani makan siang ibunya.
Ryan menjulurkan kakinya di depan Raghaza hingga membuatnya jatuh tersungkur ke lantai.
"Pertahananmu payah!" seru Ryan.
"Tunggu aku di halaman belakang 2 jam lagi!" ucap Ryan sebelum pergi meninggalkan Raghaza yang masih terbengong di lantai.
"Jangan terlalu kejam padanya! Kemampuan bela dirinya memang payah. Aku sudah memanggil pembimbing khusus untuk melatihnya."
"Tenang saja. Aku hanya ingin memberinya sedikit pelajaran saja."
Izumi terdiam.
Mereka larut dalam pikiran masing-masing sambil terus berjalan. Izumi melepaskan pegangannya lalu memanggil Jiro dan memerintahkannya untuk membeli makan siang untuk mereka.
Tanpa sepengetahuannya, Ryan terus mengamati perubahan sikap Izumi. Sepertinya adiknya itu benar-benar menaruh hati pada Raghaza. Setelah Ryan menantang Raghaza dia terlihat kurang fokus dan terlihat salah tingkah.
"Jangan libatkan cinta dalam urusan pekerjaan! Sangat berbahaya jika musuh tahu kalau kamu memiliki hati."
"Aku iblis kecil. Mana mungkin aku punya hati. Siapa yang kamu maksud itu?"
"Aku hanya mengingatkanmu saja."
"Hmm. Aku mengerti."
'Aku tidak boleh lemah. Raghaza, berjuanglah! Jadikan dirimu layak hingga aku bangga padamu. Semua ini aku lakukan bukan karena aku menyukaimu. Ini semata-mata karena aku ingin kamu menjadi salah satu panglima terkuat di Black Rose dan Goritzma.'
Izumi tidak menyadari jika sebenarnya apa yang sudah dia lakukan itu lebih dari sekedar hubungan antara atasan dan bawahan. Perasaannya yang gelisah hanya dia artikan sebagai rasa peduli dan kekhawatirannya hanya dia anggap sebagai rasa empatinya.
Entah berapa lama Izumi akan menyadari jika hatinya mulai terisi benih-benih cinta pada seorang Raghaza.
__ADS_1
****
...Bersambung......