
"Hati-hati Tuan Muda!" seru pak Eko pada Ryan.
Ryan turun dari mobilnya bersama 4 orang pengawal yang mengantarkannya untuk pulang.
"Ohh! Ternyata hanya seorang bocah yang mencoba bermain-main denganku!" seru seorang penghadang yang maju ke depan.
Dengan berani Ryan pun maju dengan santai di hadapan orang asing itu.
"Apa yang kamu inginkan?!" hardik Ryan sambil memainkan pistol yang ada di tangannya.
"Di mana Beny?"
"Beny?! Apa dia seorang artis, penyanyi, atau Model yang sedang naik daun? Siapapun dia, maaf aku nggak kenal!" Ryan menyandarkan tubuhnya di samping mobilnya sambil menyangga tubuhnya menyamping dengan salah satu sikunya.
"Heh, Bocah! Kamu jangan pura-pura! Anak buahku melihatmu menangkap dan membawanya pergi!"
"Kalian ada bukti? Kalian cari saja si Beny-mu itu di tempat lain. Aku tidak ada urusan denganmu dan aku sedang tidak ingin membuat keributan." Ryan bersikap masa bodoh dan berniat untuk masuk ke dalam mobilnya.
"Tunggu! Jangan main-main denganku anak kecil! Aku sudah melihat rekaman CCTV di taman itu. Kamu tidak bisa mengelak lagi!"
"Baiklah... baiklah... aku mengaku! Aku memang menangkap Beny dan mengundang permusuhan dengan klan Hercules. Kalian tahu apa alasanku?" tanya Ryan santai.
"Apa hubunganmu dengan Delima Putih?"
"Cerdas! Kamu langsung masuk pada inti permasalahan," puji Ryan yang terkesan mengejek.
"Jangan berbelit-belit! Kamu masih bocah ingusan apa kamu tidak sayang dengan nyawamu. Masa depanmu harusnya masih sangat panjang." Orang itu menatap tajam ke arah Ryan.
Ryan melangkah maju mendekati orang yang memimpin pencegatan itu dengan tatapan yang tidak kalah dingin. Wajah tampannya terlihat kejam seperti ingin menelan lawan didepannya itu hidup-hidup.
"Klan Hercules sudah menangkap hampir seluruh murid Delima Putih dan memaksa mereka untuk bekerja pada kalian. Ketahuilah bahwa aku salah satu murid Delima Putih juga! Aku tidak takut pada kalian dan atas nama mereka yang telah kalian bunuh aku bersumpah untuk membalaskan dendam mereka!" ucap Ryan lantang di depan penghadang itu.
"Apa?! Jadi... jadi... kamu juga murid Delima Putih?! Tidak! Tidak mungkin! Kamu pasti bohong! Aku tidak pernah melihatmu berlatih di sana!"
"Ohhh! Rupanya kamu juga murid dari Delima Putih yang telah di cuci otaknya oleh Klan Hercules dan dengan kejam memburu dan menindas saudaranya sendiri! Hebat!" ejek Ryan.
__ADS_1
"Hehh! Bocah! Itu bukan urusanmu! Bagaimana kalau kamu juga ikut bergabung dengan Klan Hercules dan melupakan permusuhan ini. Aku akan mempromosikanmu pada pimpinan!" seru orang itu.
"Aku tidak tertarik dengan tawaranmu. Kesetiaanku pada Delima Putih adalah harga mati. Jangan-jangan kamu takut untuk melawanku setelah kamu tahu jika aku adalah murid Delima Putih."
Ryan mengangkat salah satu sudut bibirnya dan menampilkan senyum yang mengejek. Setelah menyimpan pistolnya dia menaikan lengan bajunya yang panjang untuk bersiap melawan.
"Ohh! Jadi kamu memilih untuk perang saudara rupanya? Heemhhh!" orang itu mulai memasang kuda-kuda dan bersikap waspada.
"Aku menjaga Delima Putih seperti aku menjaga nama baik Guru Bao. Orang yang tidak bisa mempertahankan keyakinannya dan mudah tergoda dengan uang bukanlah saudaraku! Hyaaaaahhh!" Ryan mulai menyerang lawannya.
Di ketahui lawannya itu bernama Jio. Jio merupakan murid Delima Putih yang belajar di perguruan seperti halnya Leon sedangkan Ryan adalah murid pribadi yang belajar pada Guru Bao secara privat. Wisnu merupakan salah satu donatur terbesar di perguruan itu dan juga pernah berlatih pada Guru Bao untuk beladiri yang ringan karena usianya sudah bukan remaja lagi.
Leon dan Jio merupakan murid teladan pemegang sabuk emas, tingkatan tertingi di perguruan beladiri Delima Putih. Tidak heran jika Leon menjadi incaran Klan Hercules. Meskipun Leon pernah membunuh beberapa orang anggota Klan Hercules namun itu tidak jadi masalah. Klan Hercules tetap ingin merekrutnya untuk memperkuat pasukannya.
Melihat atasannya bertarung keempat pengawal Ryan pun ikut bertarung dengan 5 orang anggota Klan Hercules yang ada di sana.
Ryan dan Jio sama-sama kuat. Jio tidak menyangka jika murid pribadi Guru Bao itu juga lumayan hebat. Memiliki guru yang sama membuat gerakannya sangat mudah terbaca oleh Ryan. Sementara itu Ryan bukan hanya menguasai kungfu saja, dia juga ahli dalam beberapa teknik beladiri lain.
Tubuh besar Jio membuatnya percaya diri bahwa dia akan dengan mudah mengalahkan Ryan dengan mudah namun sepertinya pikirannya itu salah. Beberapa kali pukulan Ryan berhasil membuatnya kesakitan.
Gedebugg!
Sebuah jegalan Ryan berhasil membuat tubuhnya terpelanting ke tanah.
"Aaahhh!" Jio berteriak kesakitan ketika sebuah batu mengenai tubuhnya yang menyentuh tanah berbatu itu.
Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Ryan. Dengan sigap dia memonopoli pertarungan dengan mengunci pergerakan Jio. Jio terlihat semakin tidak berdaya. Wajahnya meringis menahan sakit yang bertubi-tubi. Kali ini Ryan memakai teknik kuncian yang dia pelajari saat berlatih karate.
"Lepaskan aku! Aku menyerah!" teriak Jio di saat keadaannya tidak memungkinkannya untuk menyerang.
"Aku bukan orang yang berbelas kasihan pada penghianat!" Ryan mengambil pisau lipat dari dalam bajunya.
"Heh! Apa yang akan kamu lakukan?" mata Jio terbelalak ketakutan ketika melirik ke tangan Ryan yang sedang memegang sebuah pisau lipat.
"Ini hanyalah sebuah mainan anak-anak. Bukankah kamu tadi bilang jika aku masih anak-anak?"
__ADS_1
"Tidak! Maafkan aku! Setidaknya hargailah aku sebagai sesama murid Delima Putih."
"Hahh! Apa katamu? Apa menurutmu kamu masih pantas di sebut sebagai murid Delima Putih?" tanya Ryan ketus.
"Apapun itu, lepaskan aku!"
"Aku tidak suka di perintah!" hardik Ryan sambil mengencangkan kunciannya.
"Aaarrrggghh! Ini permohonan. Tolong lepaskan aku!"
"Sudah aku bilang aku bukan orang yang berbelas kasihan!"
Ryan merobek baju Jio dengan pisaunya dan memakai sobekan kain itu untuk mengikat tangan ke belakang.
"Apa kamu ingin membunuhku?" tanya Jio ketakutan. Dia sangat yakin jika Beny sudah dihabisi oleh Ryan dan itu artinya sebentar lagi nasibnya akan sama.
"Aku sedang tidak bernapsu untuk membunuh orang! Pengawal! Kalian kembali ke markas dan bawa mereka dengan mobil yang mereka pakai! Aku akan pulang bersama pak Edo saja!" perintah Ryan.
Seluruh anak buah Jio pun menyerah dengan mengangkat tangan mereka. Satu persatu pengawal Ryan mengikatnya dengan tali yang selalu di bawa oleh mereka. Tanpa di duga seorang anggota Klan Hercules itu mengambil pistol dan menembak Ryan.
"Aaarrrggghh!" Ryan terlambat menghindar dan timah panas itu mengenai lengan kirinya.
Setelah menembak Ryan penembak itu di balas dengan tembakan yang sama oleh pengawal Ryan di tangannya.
"Tuan Muda!" pekik salah satu pengawal Ryan yang akan berlari ke arahnya namun di cegah oleh Ryan dengan isyarat tangannya.
"Siksa dia sampai dia enggan untuk hidup lagi! Hanya seorang pengecut yang suka menyerang musuh dari belakang!" teriak Ryan sambil menahan sakit. Tangan kanannya memegang luka tembak yang terus mengeluarkan darah itu.
"Baik Tuan Muda!"
Jio tidak berani berkata-kata lagi selain menurut ke mana para pengawal Ryan menggiringnya.
"Selain dia, masukkan anjing-anjing ini ke penjara bawah tanah!" ucap Ryan pelan namun sangat menakutkan. Lirikan matanya yang terlihat sangat kejam membuat Jio bergidik ngeri. Siap tidak siap dia harus rela menjadi mainannya.
****
__ADS_1
Bersambung...