
Keesokan harinya, Ryan menunggu Izumi di depan gerbang sekolahnya bersama dua orang pengawal kesayangan Izumi, Jiro dan Ren.
Ryan menunggunya di dalam mobil dengan keadaan pintu yang terbuka. Untuk mengusir kejenuhan, Ryan memainkan ponselnya sambil sesekali mengecek pekerjaan anak buahnya dari aplikasi yang terhubung dengan markasnya. Tidak ada yang aneh.
"Tuan Muda, Anda mau soft drink?" tanya Jiro.
Cuaca di Jepang hari itu lumayan panas.
"Boleh. Belilah untuk kalian juga!" Ryan menyodorkan sebuah kartu pembayaran internasional miliknya.
"Tidakk usah, Tuan. Harga minuman hanya beberapa Yen saja. Biar kami yang membayarnya."
Jiro tidak mau memakai kartu milik Ryan dan berbalik untuk meninggalkannya pergi ke mesin penjual minuman otomatis yang tidak jauh dari sana.
"Tunggu!" seru Ryan.
Jiro membalikkan tubuhnya lalu kembali mendekati Ryan.
"Belikan untuk Izumi juga! Sisanya buat kalian."
Kali ini Ryan memberikan beberapa lembar uang cash. Jiro menerimanya dengan seulas senyum. Bos kecilnya itu ternyata tidak suka berhutang budi.
"Terimakasih, Tuan Muda," ucap Jiro sebelum pergi.
"Hmm."
Suasana kembali hening. Ren sejak tadi sibuk bertelepon entah dengan siapa. Dari bahasa tubuhnya, kelihatannya lawan bicaranya adalah orang yang sangat spesial baginya. Sepertinya saat ini Ren sedang jatuh cinta pada seseorang.
Jiro datang membawa sekantong minuman dan makanan ringan. Dia membelanjakan semua uang yang diberikan oleh Ryan tanpa sisa. Stok minuman dan makanan ringan yng dia beli juga dia dan Ren juga yang memakannya nanti.
"Ini minumannya, tuan. Saya juga membeli makanan ringan."
"Hmm. Terimakasih." Ryan tidak banyak berkomentar meskipun dia sedikit terkejut dengan banyaknya belanjaan Jiro.
Jiro memanggil Ren untuk bergabung menikmati makanan dan minuman yang dibeli oleh Jiro.
Ryan tidak memperlakukan mereka seperti bawahannya. Mereka bertiga terlihat seperti sahabat dekat yang sedang berkumpul. Tidak ada jarak yang membatasi mereka untuk berkomunikasi dan bercanda.
__ADS_1
"Ihh, kalian seru-seruan, aku tidak diajak!" omel Izumi yang langsung duduk dan merebut makanan ringan yang ada di tangan Ryan.
Wajahnya terlihat kesal namun dia terus memakan makanan itu dengan sikap tak peduli.
"Kamu kan tadi sekolah. Mau bolos lagi? Tidak capek apa pindah sekolah terus? Aku aja yang denger capek," ucap Ryan sambil menyodorkan sekaleng minuman yang sudah dia bukakan untuk Izumi.
"Aku kan pengen sama-sama kamu terus, Yan Yan. Tidak tahu lagi kapan kamu akan ke sini lagi."
Ocehan Izumi membuat Ryan merasa gemas pada adiknya yang selalu bersikap manja padanya itu.
"Aku berencana untuk kuliah di sini setelah lulus nanti."
Izumi terkejut mendengar ucapan Ryan, namun dia sangat senang.
"Benarkah?!" seru Izumi yang reflek melompat ke pangkuan Ryan sambil mengalungkan tangannya di lehernya.
"Tentu saja. Aku ingin belajar di sini biar bisa lebih dekat denganmu. Semoga saja mama tidak akan merasa keberatan."
"Bukan mama yang keberatan, tapi kakek buyut!"
"Kamu benar, Izumi."
Izumi meminta Jiro untuk membawa mereka pergi ke markas. Sesuai rencana, Ryan dan kedua orang tuanya akan kembali ke Indonesia malam nanti.
"Apa yang biasa kamu lakukan saat berada di markas?" tanya Ryan.
"Tidak banyak. Aku hanya mengawasi yang lain bekerja. Akhir-akhir ini aku jarang menjalankan misi dari papi. Aku terlalu sibuk mengurus organisasiku sendiri."
"Apa papi tahu?"
"Tentu saja. Anggota kami memang berbeda, namun tidak jarang aku memakai Black Rose untuk memperlancar misiku dari papi. Intinya Black Rose dan Goritzma itu saling berhubungan."
"Kamu hebat."
Ryan memuji kepiawaian adiknya itu dalam mengambil setiap peluang.
"Kamu juga hebat. Kamu seperti mama yang pandai dalam strategi dan teknologi."
__ADS_1
Izumi juga memuji Ryan yang mampu mengkoordinasi beberapa bisnis dan mengendalikan anggota Goritzma yang tersebar di belahan luas Indonesia.
"Kita sama-sama hebat."
"Kamu benar, Yan Yan. Jika kita bersama-sama, kita pasti bisa menakhlukan dunia."
"Benar, Izumi. Kita harus lebih hebat dari para orang tua kita."
"Hmm."
Mereka saling berpandangan dengan semangat yang memenuhi hati mereka.
Mobil mereka berhenti setelah memasuki halaman markas milik Izumi. Ini kali pertama Ryan datang ke sana. Cuaca panas membuat Ryan memakai kacamata hitamnya sebelum menuruni mobil.
Anak buah Izumi menyambut hormat kedatangan mereka.
Izumi berjalan cepat masuk ke dalam markas sambil terus menarik tangan Ryan yang hanya menurut saja.
"Heh, jangan seperti ini! Lihat tatapan mereka! Aku sangat malu, Izumi."
Ryan berbisik pada Izumi.
Semua anak buah Izumi terus melihat ke arah mereka. Entah apa yang mereka pikirkan yang jelas saat ini Izumi terlihat konyol dan tidak terlihat seperti seorang pemimpin yang berkarisma.
"Sudah. Mereka tidak akan berani mengejekmu."
Izumi tetap menarik tangan Ryan dan bersikap acuh pada tatapan anak buahnya yang tidak kenal siapa Ryan.
"Apa lihat-lihat?!" teriak Izumi ketika seorang pejaga pintu terbengong melihat kedatangannya.
"Maaf, Nona!" penjaga pintu itu langsung berbalik menatap tembok.
Saat ini Izumi sedang membawa Ryan ke gudang senjata miliknya. Tempat itu juga tidak jauh dari ruang kerja Raghaza yang berada di sebelahnya. Izumi sering kali mengintipnya secara diam-diam.
Pernah suatu ketika dia tertangkap basah oleh anak buahnya yang ingin mengambil senjata, namun Izumi berdalih jika dia hanya mengawasinya saja. Pada kenyataannya, Izumi sangat mengagumi kecerdasan Raghaza meskipun kemampuan berkelahinya tidak sehebat dirinya.
****
__ADS_1
Bersambung...