MAFIA KEMBAR

MAFIA KEMBAR
TERJEBAK HUJAN


__ADS_3

"Baiklah, Nona. Aku mau ikut ke mall bersamamu." Raghaza akhirnya menyetujui ajakan Izumi.


"Good!" Izumi mengacungkan jempolnya.


Dari kejauhan Jiro datang dengan berlari-lari kecil ke arah Izumi.


"Apa ada perintah lagi, Nona?" tanya Jiro dengan nafas yang masih ngos-ngosan.


"Tidak ada. Panggil Zain! Aku butuh motornya," ucap Izumi datar.


Jiro merasa heran dengan perintah Izumi. Banyak bertanya hanya akan membuat jiwanya terancam. Lebih baik dia segera melaksanakan perintahnya dan semua urusan akan beres.


Jiro mengambil ponsel di kantong celananya dan mengirimkan pesan pada Zain. Kelihatannya Zain juga telah selesai menyelesaikan tugasnya, semoga saja dia segera membuka pesannya. Jika tidak, mungkin Jiro harus meneleponnya.


Izumi masuk ke dalam mobil untuk mengganti bajunya. Tidak mungkin dia pergi ke mall dengan baju perangnya yang berlumuran darah. Meskipun membawa senjata rahasia, dia tetap harus tampil trendi layaknya anak muda pada umumnya.


Sebuah celana pendek selutut berwarna biru tua dengan kaos ketat berlapis jaket berwarna senada membuat penampilan Izumi terlihat modis. Dia juga mengganti sepatunya dengan sepatu sport yang klop dengan setelan yang dipakainya saat ini. Sementara itu, rambutnya dibiarkan tergerai karena mereka harus memakai helm.


Tidak perlu menunggu lama-lama, Zain sudah tiba di sana dengan motornya. Dia berjalan menghampiri Izumi untuk memberikan kunci motornya.


"Ini kuncinya, Nona." Zain menyerahkan kunci itu pada Izumi.


"Hmm. Bensinnya masih ada, kan?" tanya Izumi.


"Masih penuh, Nona. Saya baru saja mengisinya."


"Ok! Terimakasih!"


Izumi berjalan menghampiri Raghaza.


Jiro dan Zain saling berpandangan. Sampai saat ini mereka belum tahu apa rencana Izumi.

__ADS_1


Mengenai motor itu saja sudah membuat mereka keheranan, lalu apa yang akan dilakukan oleh Izumi dengan motor itu.


"Ghaza! Kamu bawa motornya!" seru Izumi sambil melemparkan kunci motor itu.


Dengan sigap Raghaza menangkap kunci motor yang dilemparkan oleh Izumi. Dia lalu berjalan mendekati motor besar milik Zain dan mengendarainya pelan menghampiri Izumi. Mereka memakai helm bersama-sama dan melaju cepat meninggalkan pelabuhan itu.


Zain dan Jiro masih berdiri mematung melihat jalanan kosong yang telah dilalui oleh Raghaza dan Izumi.


"Zain! Kamu ikut kami saja ke markas!" seru Jiro kemudian.


Zain tampak berpikir. Dia bingung ingin pulang ke rumahnya atau pergi ke markas Goritzma. Misi hari ini sudah selesai dan masih menunggu misi selanjutnya yang entah kapan datangnya.


"Aku pulang saja. Semalam aku tidak tidur. Rasanya lelah sekali." Zain terlihat memegangi tengkuknya dan menggelengkan kepalanya untuk merenggangkan ototnya yang tegang.


"Baiklah! Aku akan mengantarmu. Kebetulan mereka semua juga sudah berkumpul."


Keempat anggota yang lain sudah berkumpul dan menunggu Jiro di samping mobilnya.


Mereka semua pergi meninggalkan pelabuhan secara terpisah dengan pasukan bayangan yang diperintah langsung oleh Izumi ataupun Hiro.


••••


"Sepertinya akan turun hujan, Nona!" seru Raghaza setengah berteriak.


Perjalanan menuju mall masih lumayan jauh namun mendung tebal sudah menyelimuti kota itu.


"Iya! Kamu bisa mempercepat laju motornya!" Izumi pun berteriak agar Raghaza bisa mendengar suaranya yang bersaing dengan deru motornya.


"Pegangan yang erat, Nona!" teriak Raghaza lagi.


Motor itu melaju dengan kencang membelah jalanan kota. Sore itu jalanan lumayan padat membuat Raghaza harus pandai-pandai mencari celah untuk menyelinap keluar dari kemacetan. Rupanya dia sangat ahli dalam mengendarai motor.

__ADS_1


Gerimis mulai turun meskipun masih sangat kecil-kecil. Jika terus berkendara lama kelamaan baju mereka pun akan basah juga. Sekuat apapun mereka tetaplah manusia biasa yang bisa terserang penyakit.


Raghaza tidak ingin mereka terjebak di dalam hujan, mata elangnya terus melihat ke sekeliling untuk mencari tempat berlindung dari hujan.


Saat ini mereka sedang melintasi jalanan di pinggiran kota yang menjadi perbatasan menuju kota tujuan mereka.


Raghaza meminggirkan motornya dan berhenti pada sembarang tempat untuk berlindung karena hujan turun semakin deras.


"Nona, bajumu basah?" tanya Raghaza sambil melirik Izumi.


"Tidak. Hanya sedikit saja. Baju kamu yang basah."


Memang benar. Baju Raghaza-lah yang basah karena dia menyetir motor di depan. Jaketnya memang cukup tebal tapi terbuat dari bahan yang menyerap air.


"I-iya, Nona. Nanti juga akan kering."


Bukannya melepaskan jaketnya yang basah itu, Raghaza malah melipat tangannya di dada sambil melihat hujan. Mulutnya terlihat menggembung dan mengeluarkan udara hangat pelan dari sana untuk mengurangi rasa dinginnya.


"Lepaskan jaketnya! Baju lapisan dalam nanti malahan ikut basah jika jaket itu terus kamu pakai!" ucap Izumi sambil meniup dan menggosokkan tangan satu dengan tangan yang lainnya.


"Kamu kedinginan?" tanya Raghaza sedikit khawatir.


Dia tidak mempedulikan dirinya yang juga sangat kedinginan.


"Iya. Dingin sekali." Tubuh Izumi terlihat gemetaran menahan hawa dingin yang menusuk tulang.


Raghaza berpikir bagaimana caranya mereka bisa menghilangkan hawa dingin itu karena tidak tahu berapa lama lagi hujan akan reda.


****


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2