
Raghaza tidak berani mengobrak-abrik almari milik Izumi. Dia mengambil satu demi satu dan menempelkan di tubuhnya untuk memastikan muat atau tidak di tubuhnya. Satu stel pakaian sudah dia pilih, sayangnya tidak ada pakaian dalam pria di sana. Raghaza terpaksa memakai lagi yang ada padanya saat ini.
"Aku sudah memilih bajuku, Iblis kecil!" seru Raghaza sambil mengangkat dua potong pakaian yang dia ambil dari almari Izumi.
"Ya, sudah. Mandi sana!" jawab Izumi santai.
Raghaza berjalan ke arah pintu untuk keluar dari kamar Izumi. Baru beberapa langkah berjalan Izumi menariknya hingga membuatnya kehilangan keseimbangan karena tidak menyadari gerakan Rubby. Tubuhnya hampir saja jatuh untung dengan cepat dia bisa menyeimbangkan tubuhnya.
"Ada apalagi? Kau bilang aku harus mandi!" tangan Raghaza mengusap kasar wajahnya. Berada dengan jarak yang dekat dengan Izumi membuat detak jantungnya kebat-kebit tidak beraturan.
Meskipun berulang kali menepisnya namun hati kecil Raghaza mengakui jika gadis di hadapannya memang sangatlah menarik. Sorot matanya yang tajam menandakan ketegasannya yang sulit ditaklukkan.
"Mandi di kamar mandi ku saja! Kamu akan menjadi bulan-bulanan anak buahku di bawah. Aku dengar salah satu dari mereka ada yang menyukai sesama pria," ucap Izumi asal. Dia hanya mencoba menakut-nakuti Raghaza saja. Pada kenyataannya semua itu adalah bohong.
Jika Raghaza mandi di bawah dia akan tahu jika ibunya akan datang ke sana. Kedatangan Naomi sengaja dirahasiakan oleh Izumi sebagai kejutan untuknya. Sebagai anggota organisasi Black Rose, Izumi harus menjamin keselamatannya.
"Baiklah!" Mendengar ucapan Izumi tubuh Raghaza bergidik ngeri. Dia membayangkan betapa menjijikkan jika ada seorang pria yang menjamah tubuhnya. Meskipun belum berpengalaman soal percintaan, Raghaza adalah laki-laki normal yang tertarik pada wanita.
Izumi terkikik geli setelah Raghaza masuk ke dalam kamar mandinya. "Emang enak aku kerjain!"
Menunggu adalah hal yang sangat membosankan bagi Izumi. Berapa banyak waktu yang di buang sia-sia untuk mengurus Raghaza. Dia berjalan mondar-mandir di depan kamar mandinya.
Brakkk... brak... brakk!!!
"Heh, kamu mandi apa pingsan, sih!" teriak Izumi dari luar kamar mandi.
"Ahh! Iya sebentar! Uus shhh! Ahhh!" Raghaza merintih menahan sakit luka-lukanya yang terkena air dan sabun.
"Kamu kenapa?!" tanya Izumi panik. Seketika dia teringat akan luka-luka Raghaza yang cukup parah akibat pukulan dan cambukan dari anak buahnya.
Perasaan Izumi semakin tidak karuan ketika Raghaza tidak segera menyahut. Berkali-kali Izumi menggedor pintu namun masih saja tidak ada jawaban. Izumi berpikir sejenak untuk mengambil tindakan, bisa merepotkan kalau Raghaza mati sekarang.
Izumi memegang gagang pintu kamar mandi dan melepaskannya lagi. Berulang-ulang dia lakukan karena merasa ragu. Akhirnya Izumi memutuskan untuk memberanikan diri membuka pintu kamar mandinya.
Raghaza terduduk lemas di lantai kamar mandi dengan bersandar pada tepi bathtub miliknya. Wajahnya terlihat pucat dan lemas.
"Sial! Dia tidak memakai baju sama sekali!" umpat Izumi sambil menarih handuk dan bathrobe yang tergantung di kamar mandi.
Izumi berjalan mendekati Raghaza dengan melihat ke arah lain. Ketika jarak mereka lumayan dekat dia melemparkan handuknya untuk menutupi aset pribadi milik Raghaza. Raghaza masih sadar namun dia hanya pasrah dengan apa yang dilakukan Izumi karena tubuhnya sangat sakit dan lemah setelan menahan perih dan nyeri yang begitu menyiksa.
"Ehhhhmmm... aaahhh!" rintihan Raghaza kembali terdengar ketika Izumi memakaikan bathrobe di tubuhnya.
"Berisik! Ayo aku papah ke luar! Baru kali ini seseorang begitu merepotkanku!" omel Izumi kesal.
Izumi melingkarkan tangan Raghaza di bahunya dan membantunya berdiri. Tubuh Raghaza yang lebih besar dan berat membuatnya harus berjuang keras untuk membuatnya berdiri dengan tegak.
"Heh! Ayo jalan! Kalau nggak aku tinggal!" hardik Izumi.
Raghaza menurut. Sebenarnya dia kuat untuk berjalan dan berdiri sendiri meskipun luka-luka di tubuhnya tidak bisa di bilang ringan. Dia ingin tahu seperti apa bos barunya itu. Kini hatinya sedikit lega karena ternyata dia tidak seburuk yang dia pikir.
__ADS_1
"Ssshhh! Pelan-pelan, Iblis kecil! Aaahhh!" Raghaza kembali merintih ketika Izumi mendudukkannya di sofa.
Izumi berjalan meninggalkan Raghaza untuk mengambil kotak obat dan sebotol air mineral.
"Minum ini?" perintah Izumi menyodorkan sebuah kapsul dan sebotol air mineral tadi.
"Apa ini? Ini bukan racun, kan?" tanya Raghaza yang masih ragu untuk menelan kapsul itu.
"Bodoh! Aku punya cara yang lebih kejam dari ini jika aku ingin membunuhmu. Aku akan melemparkanmu ke kadang buaya dan menjadikan kamu santapan mereka."
"Kejam!" ucap Raghaza sebelum akhirnya meminum kapsul yang diberikan oleh Izumi.
"Itu kapsul pemulihan tenaga. Kamu akan lebih baik setelah ini meskipun kamu tidak makan kamu akan tetap bertenaga. Sekarang buka bathrobemu!" perintah Izumi.
"Ap... apa yang kamu inginkan?" Tangan Raghaza menyilang di depan dada.
"Otak kamu geser, ya?! Kamu pikir aku tertarik sama kamu? Aku cuma ingin mengobati luka-luka di punggung kamu. Braakkk!" Izumi meletakkan kotak obatnya di atas meja yang berada tepat di hadapan Raghaza.
Raghaza menyesali pertanyaan konyolnya tadi. Gara-gara kebodohannya kini dia harus mengobati luka-lukanya sendiri. Luka di bagian depan sudah selesai dia obati, tinggal luka di bagian punggungnya.
"Iblis kecil!" panggil Raghaza pada Izumi yang sedang asyik bermain ponsel.
"Ishh! Berisik sekali kamu!" Izumi menyimpan ponselnya dan berjalan ke hadapan Raghaza.
Dengan cekatan dia mengobati luka-luka di tubuh Raghaza tanpa banyak bicara. Obat yang diberikan merupakan hasil dari racikan dokter pribadi Hiro. Tidak butuh waktu lama obat itu akan langsung bekerja dan membuat luka-luka di tubuh Raghaza mengering.
"Selesai! Pakai bajumu! Mari kita turun aku punya kejutan untukmu!" ucap Izumi setengah memerintah.
Mata Izumi kembali harus melihat apa yang tidak seharusnya dia lihat.
"Kamu tidak tahu malu, ya! Pakai bathrobemu dengan benar!" Izumi segera memalingkan wajahnya kearah lain.
'Ah! Sial! Kenapa aku bisa ceroboh sekali.' Raghaza bermonolog dalam hati lalu segera membetulkan bathrobenya.
Wajah Raghaza memerah menahan malu lalu pergi ke kamar mandi untuk memakai baju yang dia ambil dari almari Izumi. Setelah berpakaian lengkap dia keluar dengan penuh percaya diri meskipun tidak memakai ****** *****. Pakaian sebelumnya semuanya basah ketika dia hampir pingsan karena tidak tahan dengan luka-lukanya.
"Perfect! Seleraku ternyata bagus juga, ya!" Izumi memuji dirinya sendiri walaupun sebenarnya pujian itu untuk Raghaza. Dia tidak ingin Raghaza merasa besar kepala.
"Itu karena aku tampan, Iblis kecil!" ucap Raghaza narsis.
"Hueekkk, Ghaza... Ghaza! Kamu tidak lebih tampan dari beruang!" ledek Izumi.
"Terserah kamu melihatku sebagai apa itu tidak akan merubah penampilanku," ucap Pria blasteran Jepang-Afghanistan itu.
"Ayo turun, Beruang manja!" Izumi sengaja menekankan kata beruang untuk membuat Raghaza kesal karena Raghaza juga memanggilnya iblis kecil.
Mereka berdua menuruni tangga menuju ke ruang tamu. Desain Rumah Izumi memang di buat sedikit aneh. Orang yang baru pertama kali masuk ke rumah markasnya akan kebingungan karena menemukan banyak pintu dan ruangan yang berbelit-belit.
"Apa tadi kita juga lewat di sini?" tanya Raghaza ketika baru menyadari jika rumah ini memiliki desain yang unik.
__ADS_1
"Hmm! Kenapa? Kamu bingung?" tanya Izumi santai.
"Jujur, iya! Aku pasti tidak akan menemukan jalan ke lantai dasar jika tadi aku turun sendiri.
"Makanya tidak aku ijinkan kamu turun sendiri."
Langkah kaki Izumi tiba-tiba berhenti membuat Raghaza yang tidak siap menubruknya. Tubuh Izumi menempel di pintu terakhir menuju ke ruang tamu.
"Mak... maaf!" ucap Raghaza buru-buru berdiri dengan benar sebelum Izumi melahapnya karena marah.
"Baru kali ini aku bertemu mafia bodoh sepertimu. Kamu harus berlatih seni bela diri setelah ini dan juga berlatih kedisiplinan. Aku tidak peduli sepintar apa otakmu dalam membuat senjata, kamu tetap harus berlatih ala militer!" sambil bicara Izumi menusuk-nusukkan ujung jarinya di dada Raghaza.
"Huuft! Kamu pasti sengaja ingin mempersulit hidupku."
"Beruang bodoh! Aku malas berbicara padamu!"
Tujuan Izumi mendisiplinkan Raghaza hanya untuk membuatnya mampu melindungi dirinya ketika berhadapan dengan bahaya tidak terduga. Dunia hitam sangatlah kejam. Siapa yang kuat dialah yang berkuasa. Mungkin selama ini Raghaza belum pernah di hadapkan pada bahaya yang mengancam.
Saat menjadi anggota Geng Naga, Raghaza selalu di beri pengawal. Dia mengandalkan anak buahnya saat melawan musuh meskipun dia juga bisa bela diri. Itu yang membuat kemampuannya tidak berkembang dan malah semakin melemah.
Tangan Izumi menarik gagang pintu untuk membukanya. Di kursi ruang tamu terlihat seorang wanita paruh baya di jaga ketat oleh pengawal Izumi. Dia terkejut melihat kemunculan Izumi bersama Raghaza. Begitupun Raghaza yang tidak menduga jika ibunya ada di sini.
Raghaza benar-benar terkejut menerima kejutan yang diberikan Izumi. Dia tidak menyangka gadis yang dia panggil iblis kecil itu tahu tempat tinggal ibunya. Izumi bergerak cepat sebelum Geng Naga mendahuluinya menyambangi rumah Naomi untuk mengancam Raghaza.
"Mama!" panggil Raghaza sambil berhambur memeluk Naomi.
"Ghaza! Kamu tidak apa-apa, kan, Nak?" Naomi merenggangkan pelukannya dan mengusap wajah putranya.
Para pengawal Izumi masih menodongkan senjata ke arah mereka berdua.
"Jiro!" panggil Izumi pada salah satu pengawal pribadinya.
"Saya, Nona!" Jiro berjalan mendekat.
"Keluarkan berkas yang aku minta!" perintah Izumi.
Jiro masuk ke dalam ruang kerja Izumi dan mengambil berkas yang baru saja dia buat. Sebuah map berwarna biru dia bawa ke hadapan Izumi.
"Beruang bodoh! Baca dan tanda tangani ini!" Izumi memberikan berkas kontrak kerjasama itu pada Raghaza.
Raghaza membaca berkas kontrak itu dengan teliti. Mata Raghaza terbelalak melihat nominal yang akan dia terima dari penandatanganan kontrak itu. Dia dan ibunya juga diijinkan tinggal di rumah ini selama mereka mau.
Selama dua bulan Izumi akan melakukan observasi yang mewajibkannya untuk tidak keluar dari markas. Selama kurun waktu itu pula Raghaza harus meningkatkan kemampuan beladiri dan pertahanan dirinya. Itu juga menjadi syarat utama menjadi anggota organisasi Black Rose.
"Cepat tanda tangani! Kamu sudah terlalu banyak membuang waktuku!" cicit Izumi.
Naomi merasa heran melihat seorang gadis kecil yang terlihat biasa itu selalu memerintah orang-orang yang berada di sana namun dia tidak berani untuk banyak bicara.
****
__ADS_1
Bersambung...