MAFIA KEMBAR

MAFIA KEMBAR
DI MARKAS


__ADS_3

"Ehhemm!" Izumi berdehem agar Raghaza menyadari kedatangannya.


Raghaza menoleh ke arah datangnya suara dan melihat siapa yang datang.


"Nona Izumi."


Raghaza meninggalkan pekerjaannya dan berjalan menghampiri Izumi dan seorang pria yang belum pernah di lihatnya, Ryan.


"Kamu melewati masa training ini dengan baik. Tidak sia-sia aku tidak jadi menghabisimu."


Izumi berbicara santai namun terasa sangat menyakitkan.


'Dasar Iblis kecil. Tidak bisakah kamu berbicara sedikit manis.' Raghaza menghembuskan nafas dengan kasar.


"Perkenalkan ini Yan Yan, kakak laki-lakiku. Dia ingin melihat koleksi senjata buatanmu."


Ryan berjalan maju dan melihat laptop Raghaza yang masih menyala.


"Aku akan menunjukkannya padamu."


Raghaza kembali duduk di kursi kerjanya lalu menggerakkan mouse untuk menampilkan desain senjata yang ingin dia tunjukkan pada Izumi dan Ryan.


Ryan melihat layar monitor dengan jeli sambil mendengarkan penjelasan Raghaza. Senjata berteknologi ciptaan Raghaza menggabungkan antara teknologi kuno dan teknologi modern. Modelnya terlihat sangat simpel namun kegunaannya melebihi ekspektasi pemakainya. Luar biasa.


"Kamu menemukan mutiara, Izumi," ucap Ryan singkat.


"Ghaza! Jangan besar kepala karena pujian kakakku! Di mataku kamu masih biasa-biasa saja."


Izumi berjalan meninggalkan ruangan itu diikuti oleh Ryan. Kini mereka memasuki ruang penyimpanan senjata milik Izumi. Mulai dari koleksi pribadinya, senjata kesayangan dan juga senjata yang bebas di pakai oleh anggota lainnya.


Ryan mengambil senjata pribadi milik Izumi dan menelitinya satu persatu. Rupanya Izumi memiliki senjata yang tidak dimiliki oleh klan Goritzma. Hal itu dikarenakan organisasi Black Rose memang berkecimpung di dalan jual beli senjata.


"Izumi! Apa kamu punya senjata seperti ini lagi?"


Ryan mengangkat sebuah senjata yang menarik perhatiannya. Dia membolak-balikkan senjata di tangannya itu dan melihatnya dengan teliti. Modelnya sangat keren dan sangat praktis untuk dibawa.


"Selera yang bagus. Ambilah jika kamu suka! Aku bisa membuatnya lagi." Izumi menepuk bahu Ryan.


"Boleh?" tanya Ryan memastikan jika adiknya itu tidak sedang bercanda.


"Ambilah! Tapi satu saja! Aku harus menguras tabunganku jika ingin membuatnya lagi," ucap Izumi bersungut-sungut.

__ADS_1


"Ahh, senangnya punya adik super pengertian."


Ryan menyenggol bahu Izumi sambil meliriknya jahil.


"Aku sedang berbaik hati padamu. Lain kali kamu harus membayar jika mengambil sebuah senjata."


"Huuuh." Ryan menyandarkan tubuhnya di tembok sambil menghembuskan nafas kasar.


"Kenapa? Apa kata-kataku tadi menyakitimu?"


Ada rasa sesal di mata Izumi.


"Tidak. Aku bukan orang yang dimanjakan dengan uang dan kebebasan seperti kamu, Izumi. Aku harus bekerja di perusahaan papa untuk mendapatkan uang lebih. Hasil misi dari Goritzma pun mama yang pegang."


Izumi berjalan dan berhenti tepat di hadapan Izumi.


"Mungkin mereka punya alasan khusus untuk ini. Apa kamu tidak bahagia?"


Mereka saling bertukar pandang. Ada rasa iba dalam tatapan Izumi. Bagaimanapun juga Ryan adalah separuh hidupnya. Mereka berbagi nafas ketika masih berada dalam kandungan Tera.


"Aku bahagia. Lupakan apa yang aku katakan tadi."


"Bicaralah padaku jika kamu ada kesulitan. Jangan anggap aku sebagai orang lain!" Izumi memegang tangan Ryan yang masih menempel di pipinya.


"Tentu saja. Apapun aku pasti akan membaginya denganmu."


Mendengar ucapan Ryan, muncul pertanyaan konyol dipikiran Izumi. Dia menarik tangan Ryan dan menaruhnya di pundaknya lalu dia bersandar di dinding sepertinya.


"Yan Yan."


"Hmm."


"Apa kamu pernah menyukai seseorang?"


Pertanyaan Izumi membuatnya terkejut. Ryan merubah posisi dan berputar menghadap Izumi.


"Pertanyaan itu untukku atau untuk dirimu sendiri?" Ryan tidak lantas menjawabnya.


"Untuk kamu lah! Aku kan penasaran. Kakakku yang tampan ini tidak pernah terlihat berfoto bersama seorang gadis."


"Banyak yang menyukaiku. Ada beberapa yang mengejarku. Tapi aku belum tertarik untuk menjalin sebuah hubungan. Otakku bisa terkontaminasi dengan hal-hal yang bisa membuyarkan konsentrasi. Aku belum siap untuk menerima itu."

__ADS_1


"Tapi masa, iya, tidak ada seorang gadis pun yang mampu membuat hatimu berdesir."


"Ada. Tapi aku tidak tahu apakah itu cinta atau sebatas mengagumi saja karena aku juga belum tertarik untuk mengenalnya lebih dekat."


"Apa dia cantik?"


"Biasa saja."


"Pintar?"


"Tidak juga."


"Kalau begitu dia pasti anak orang kaya?"


"Salah. Dia hidup dalam kekurangan."


"Sepertinya otak kamu perlu diperiksa, Yan Yan. Apa yang membuat orang kagum tidak ada pada wanita yang kamu sukai."


"Aku tidak bilang kalau aku menyukainya," elak Ryan.


"Tapi matamu bilang begitu."


"Ish! Kamu seperti peramal saja." Ryan menjitak kening Izumi pelan.


"Hei...! Aku bisa gegar otak." Izumi mendengus kesal lalu mengusap keningnya.


Ryan terkekeh melihat wajah kesal Izumi yang baginya sangat lucu.


"Ada lagi tempat yang ingin kamu tunjukkan padaku?" tanya Ryan.


"Mari kita berkeliling."


Izumi membawa Ryan berkeliling dan menunjukkan semua ruangan yang ada di markas miliknya itu. Tidak ada yang tersisa termasuk kamar tidurnya yang berada di lantai atas.


Izumi tidak memiliki penjara bawah tanah seperti di markas besar Goritzma. Hanya ada beberapa tiang penyiksaan di belakang markas. Sebuah tempat terbuka yang berdiri di tanah yang lapang.


Pandangan mata Ryan terhenti pada seorang wanita paruh baya yang membersihkan rumput di depan sebuah rumah sederhana. Ryan merasa penasaran. Sepertinya rumah itu berada dalam satu area markas. Rasanya tidak mungkin jika Izumi membiarkan orang luar tinggal di markas miliknya.


****


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2