
"Masih mau lagi?"
"Hah."
"Hahh."
"Hah."
Izumi bertanya di sela-sela nafasnya yang tidak beraturan. Tenaganya cukup terkuras meskipun akhirnya dia menang. Mr. Eric tidak menunjukkan tanda-tanda untuk melawannya lagi.
Keadaannya yang tidak berdaya membuat Mr. Eric kesulitan bangkit. Dia di bantu oleh anak buahnya untuk berdiri dengan benar. Tidak ada yang bisa dia lakukan lagi selain pergi dari tempat itu.
Gelagat aneh dari seorang anak buah Mr. Eric membuat Izumi merasa curiga. Tangannya terlihat seperti masuk ke dalam bajunya. Izumi bersikap waspada.
Duarrrr!
Sebuah tembakan diarahkan kepada Izumi.
Setelah menemak Izumi, anak buah Mr. Eric melepaskan pegangannya pada tubuh Mr. Eric.
'Dasar bodoh!' Mr. Erick merasa kesal pada anak buahnya yang melakukan tindakan tanpa perintahnya itu.
Rasa tidak terima melihat bos-nya dipermalukan membuatnya bertindak gegabah. Dia benar-benar mencari mati. Sudah pasti Izumi tidak akan melepaskan mereka kali ini.
Izumi menjatuhkan tubuhnya ke tanah lalu menambil kedua pistolnya.
Duarrr! Duarrr!
Dua buah tembakan Izumi membuat anak buah Mr. Eric terkapar tak bernyawa. Bukan cuma si penembak tadi namun juga anak buah yang tidak bersalah lainnya juga di tembak oleh Izumi. Mr. Eric terlihat ketakutam, kini hanya ada sseorang anak buah saja yang menemaninya.
"Hentikan, Angel!" seru Hiro, ketika melihat izumi akan menembak lagi.
Angel adalah nama samaran Izumi dalam misi kali ini.
"Aku harus menghabisi semut-semut ini sebelum mereka menggigitku!" Izumi berjalan mendekati Mr. Eric.
Anak buah Mr. Eric terlihat mengeluarkan pistolnya namun Mr. Eric menurunkan tangannya.
Izumi berdiri tepat di hadapan Mr. Eric dengan senjata di tangannya.
"Maafkan kebodohan anak buahku, Nona. Dia bertindak tanpa perintah dariku," ucap Mr. Eric sedikit cadel karena luka di wajah dan mulutnya sangat parah.
Izumi tidak serta merta langsung percaya dan menghentikan aksinya.
"Aku tidak peduli! Kalian semua harus mati!" gertak Izumi.
"Kumohon lepaskan kami, Nona. Kami bersedia membayar untuk kesalahan mereka." Mr. Eric mecoba bernegoisasi dengan Izumi.
__ADS_1
"Aku tidak ingin uang," ucap Izumi, terus maju ke depan membuat kedua lawannya itu beringsut mundur.
"Katakan apa yang harus kami lakukan, Nona?" Mr. Eic semakin terlihat ketakutan.
Dari data yang dia ketahui dari ayahnya, Mr. Eric mempunyai beberapa aset yang cukup besar. Ada satu aset yang membuat Izumi tertarik yaitu armada kapal miliknya. Izumi menginginkannya.
"Aku ingin kapalmu. Apa kamu bersedia menyerahkannya padaku?"
Mata Mr. Eric terbelalak.
'Sial! Dari mana gadis gila ini tahu tentang kepemilikan kapal itu? Ternyata mereka secerdik itu. Mereka sudah melakukan penyelidikan sebelum bertransaksi denganku. Hebat!'
"Kenapa Anda diam, Tuan? Jika Anda tidak mau katakan saja. Sepertinya hari ini terakhir kali Anda melihat dunia. Kapal Anda juga akan menjadi milik orng lain setelah Anda mati."
Izumi mengarahkan kedua pistolnya pada Mr. Eric dan anak buahnya.
"Baik. Aku akan menyerahkan kapal itu padamu. Temui aku besok di pelabuhaan. Aku akan membawa surat-suratnya."
"Bagus. Ingat, jika kalian merencanakan penyerangan balasan maka aku pun akan datang dengan pasukan."
"Mana saya berani, Nona." Mr. Eric tidak menyangka jika Izumi bisa menebak rencananya.
Dia memikirkan rencana balas dendam atas kekalahannya malam ini namun sepertinya dia harus berpikir ulang menilik kemampuan lawannya.
"Pergilah!" Akhirnya Izumi melepaskan mereka.
Kali ini Hiro yang maju ke depan. Dia mengeluarkan dua botol kecil senyawa kimia yang biasa dia gunakan untuk meluruhkan mayat. Hiro melemparkan satu botol pada Izumi.
Di depan mata Mr. Eric, Hiro dan Izumi membuka botol itu dan menuangkannya di tubuh kedua anak buah Mr. Eric yang sudah menjadi mayat itu.
Cairan itu bereaksi sangat cepat dan membuat tubuh kedua orang itu meleleh seperti es batu yang terkena udara panas. Bau aneh akibat reaksi kimia, menyeruak memenuhi tempat itu. Dalam sekejap kedua mayat itu berubah menjadi cairan lalu perlahan menguap hilang tak berbekas.
"Nasib Anda juga akan sepertti itu jika berani bermain-main dengan saya!" setelah mengatakan itu, Hiro membawa Izumi naik ke mobilnya dan pergi dari hadapan Mr. Eric yang masih ternganga.
Misi selesai.
"Apa rencanamu besok, Izumi?" tanya Hiro saat dalam perjalanan.
"Hmm. Tentu saja merampok kapal milik buaya darat itu."
"Kamu harus hati-hati, sayang. Bisa saja dia menyiapkan jebakan untukmu. Sebuah kapal bukanlah barang murah, tentu dia tidak akan semudah itu menyerahkannya padamu."
"Aku tahu, Papi. Aku juga punya strategi untuk menghadapi lawanku."
Izumi berbicara dengan serius.
"Lakukan semuanya dengan baik. Utamakan keselamatanmu. Jika kamu dalam bahaya, lupakan kapal itu."
__ADS_1
"Siap, Papi. Hooaamm!" Izumi menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
"Tidurlah! Perjalanan masih lama." Hiro mengelus kepala Izumi lalu kembali fokus menyetir.
Izumi mengangguk lalu meraih bantal yang selalu ada di mobil, baik mobil papinya maupun mobilnya sendiri.
Hiro melirik ke arah Izumi dan memastikannya apakah dia sudah benar-benar tidur atau belum.
Setelah Izumi tertidur pulas, Hiro menekan sebuah nomor dan menelepon seseorang. Dia tidak ingin Izumi terkecoh dan berada dalam bahaya besok. Hiiro meminta Yoshi untuk menyebar pasukan bayangannya di area pelabuhan mulai malam ini untuk mengetahui gerak gerik yang dilakukan Mr. Eric.
Izumi yang belum tertidur pulas masih mendengar percakapan Hiro. Dia tersenyum tipis yang tidak terlihat oleh Hiro. Dasar anak nakal.
***
Bel tanda pulang sekolah telah berbunyi. Izumi mengemasi peralatan sekolahnya dan bersiap untuk pulang. Walaupun sudah bersekolah beberapa minggu di sana, namun Izumi tidak memiliki teman.
Setiap kali ada yang mendekatinya dan menawarkan persahabatan, Izumi mengacuhkannya lalu pergi meninggalkan mereka begitu saja.
Seorang siswi berkacamata tebal dan berpenampilan cupu datang menghampiri Izumi.
Izumi menghentikan kegiatannya beres-beres dan melirik ke arah siswi itu.
"Ada apa?" tanya Izumi, datar.
Siswi itu terlihat canggung. Dia terlihat membetulkan kaca matanya yang terlihat baik-baik saja. Mulutnya terlihat ingin berbicara namun tidak juga mengeluarkan suara.
Melihat Siswi dengan tag nama Inami yang terlihat culun dan cupu itu, ingin rasanya Izumi tertawa namun dia tahan. Izumi menggeleng lalu membuang nafas pendek dan kembali berkemas. Siswi itu hanya membuang-buang waktunya saja.
Merasa Izumi mengacuhkanya, Inami semakin sulit untuk bicara. Dia lalu meletakkan sebuah buku catatan di atas meja Izumi dan pergi dari sana.
"Apa ini?" tanya Izumi sambil mengangkat buku itu.
Lagi-lagi siswi bernama Inami itu tidak menjawab dan pergi dari hadapan Izumi dengan berjalan menunduk.
"Apakah aku begitu menakutkan?" Izumi bergumam lirih.
Untuk menghilangkan rasa penasarannya, Izumi membuka buku yang diberikan Inami padanya. Rupanya buku itu berisi catatan singkat mengenai materi pelajaran yang kemarin tidak dipahami Izumi ketika gurunya bertanya. Izumi tidak menyangka jika Inami memperhatikan itu dan dengan suka rela membuat ringkasan untuknya.
Di dalam buku itu juga ada ringkasan materi lain yang tentunya sangat berguna bagi Izumi.
"Lumayan!" Izumi memasukkan buku itu ke dalam tasnya.
Izumi berjalan meninggalkan ruang kelasnya yang mulai kosong. Hanya ada dua siswa yang masih tersisa di sana. Dia harus segera bersiap untuk pergi ke pelabuhan. Beberapa anak buahnya sudah menunggunya di luar sekolah.
****
Bersambung...
__ADS_1