
"Apa yang mau kamu lakukan, Izumi?!" teriak Raghaza melihat Izumi mulai membakar selembar uang kertas miliknya.
Raghaza menarik sisa uang di tangan Izumu.
"Jangan gila, Izumi! Di saat orang rela mati untuk mengejarnya demi membeli sesuap nasi, kamu malah membakarnya." Raghaza menatap Izumi tajam.
"Aku tahu. Tapi kita tidak punya cara lain untuk menyalakan api ini," sanggah Izumi.
Raghaza melihat sekeliling. Jika dia tidak ingin Izumi membakar uangnya lagi, maka dia harus menemukan cara untuk mengatasi masalah ini.
Di dalam keremangan dia melihat dedaunan kering yang terkumpul di pojokan. Sebagian daun-daun itu terselip di celah-celah. Raghaza berjalan menghampirinya lalu memungutinya satu persatu.
Meskipun daun kering yang dia dapatkan tidak banyak setidaknya itu cukup untuk membuat kayu di hadapannya menyala.
"Simpan uangmu!" Raghaza menyerahkan uang Izumi yang tadi dia sita.
Izumi menerimanya tanpa banyak bicara. Dalam hati dia kembali mengagumi sosok Raghaza. Entah perasaan macam apa yang kini muncul di hatinya, yang jelas saat ini dia merasa begitu nyaman berada di dekat Raghaza.
Dedaunan kering yang dibakar oleh Raghaza berhasil membuat kayu itu menyala. Api mulai menjalar dan membuat nyala yang lebih besar. Satu persatu kayu yang dia tumpuk secara teratur di lalap api dan menyebarkan kehangatan.
"Mendekatlah!" panggil Raghazha.
Izumi menggeser posisi duduknya mendekati api unggun yang menyala.
Raghaza meraih jaketnya yang basah dan meletakkannya di atas lututnya yang menghadap api.
__ADS_1
"Ambil jaketmu dan ikuti apa yang aku lakukan!" Raghaza memerintah Izumi naun sepertinya Izumi tidak keberatan.
Dalam keadaan seperti ini, jabatan Izumi sebagai atasan Raghaza tidaklah penting. Pada kenyataannya, Raghazalah yang lebih berpengalaman dalam menghadapi situasi seperti ini. Selama ini Izumi terbiasa hidup mewah dan hampir tidak pernah mengalami yang namanya kesulitan.
Izumi terlihat beberapa kali menguap sambil menahan perutnya yang terasa lapar. Sebenarnya di seberang jalan ada depot yang menjual makana, namun mereka tidak bisa ke ana karena tidak ada payung.
Semakin malam, jalanan di depan mereka semakin sepi. Penjaga depot itu sepertinya memperhatikan mereka yang sejak tadi terjebak hujan. Mungkin karena kasihan atau apa, dia terlihat datang menghampiri mereka dengan membawa dua gelas susu hangat.
"Ini untuk kalian!" Penjaga depot makanan itu hanya meletakkannya di pinggir ruko lalu berbalik pergi.
"Tunggu, Pak! Bisakah kami memesan makanan? Tolonglah!" ucap Raghaza memohon.
Orang itu melirik Raghaza dari atas hingga ke bawah.
"Mau pesan apa?" tanya penjual itu.
"Ini saja sudah cukup untuk membuat kalian berdua kenyang!" Orang itu mengembalikan kelebihan uang yang Raghaza berikan untuknya.
"Ambil saja, Pak! Anggap saja itu sebagai ucapan terimakasih saya."
Orang itu diam saja lalu berbalik pergi meninggalkan mereka berdua.
Raghaza kembali duduk di dekat Izumi.
"Ini untukmu!" Raghaza memberikan segelas susu coklat panas pemberian orang tadi.
__ADS_1
Izumi menerimanya namun ragu-ragu untuk meminumnya. Depot makanan yang ada di seberang jalan itu terlihat kecil dan kumuh. Pikiran Izumi melayang membayangkan kebersihan dari makanan atau minuman yang dijualnya.
Berbeda dengan Izumi, Raghaza tidak peduli dengan tempat dari mana minuman itu berasal. Dia sudah terbiasa makan atau minum dari kedai-kedai kecil dan rumah makan di pinggir jalan sebelum dia bergabung dalam dunia mafia. Hidup tanpa seorang ayah membuat keadaan ekonomi keluarganya tidak baik.
"Apa kamu memilih kehausan dan kelaparan ketimbang meminum susu ini?" tanya Raghaza setelah memperhatikan Izumi tidak juga meminum susunya.
"Ah, iya." Dengan ragu-ragu akhirnya Izumi menyeruput susu hangat itu.
'Lumayan. Ternyata rasanya tak seburuk tempatnya. Ini terasa senikmat minuman yang di jual di kafe-kafe ternama. Atau mungkin ini terasa nikmat karena aku sedang kelaparan saja. Ah, sudahlah!'
Raghaza tersenyum melihat Izumi begitu menikmati minumannya. Dia buru-buru melihat ke arah lain saat Izumi menoleh padanya. Akan sangat memalukan jika Izumi tahu dia diam-diam terus memperhatikannya.
Tangan Izumi maju ke depan mendekat ke arah api unggun untuk mengurangi hawa dingin yang dia rasakan.
"Apa kamu masih merasa kedinginan?" tanya Raghaza menanyakan sesuatu yang sebenarnya sudah dia tahu jawabannya.
Izumi mengangguk.
"Andai Ryan ada disini mungkin dia akan memelukku dan tidak akan membiarkanku kedinginan."
Ungkapan hati Izumi membuat Raghaza menatapnya dalam. Dalam hati dia bertanya-tanya apakah itu sebuah isyarat untuknya agar melakukannya. Di sisi lain, Raghaza tidak ingin terlalu percaya diri. Dia akan sangat malu jika mendapatkan penolakan dari Izumi.
"Apa aku pantas untuk itu? Aku hanyalah seorang hamba sahaya sedangkan engkau putri raja." Raghaza memberanikan diri bicara, berharap Izumi tidak salah paham dengan sikap acuhnya.
'Apakah aku yang harus memulai duluan dalam segalanya, Ghaza?'
__ADS_1
****
Bersambung...