
Sesuai kesepakatan yang diambil secara sepihak oleh Ryan, suka atau tidak Raghaza tetap memenuhi tantangannya dan menunggunya di belakang markas. Tempat yang telah ditentukan oleh Ryan. Sebelum pertandingan dimulai, Raghaza berusaha untuk tetap tenang.
Dari sorot mata Ryan yang terlihat dingin, Raghaza tahu jika Ryan bukan orang yang mudah untuk ditakhlukkan.
Sembari menunggu Ryan datang, Raghaza melakukan pemanasan ringan. Dia hanya memakai kaos ketat tipis tanpa lengan hingga menampilkan tubuh atletisnya. Terlihat beberapa bekas luka yang ada di tubuhnya sebagai bukti kerasnya hidup di dalam dunia mafia.
Ryan datang bersama Izumi dari dalam markas membuat Raghaza menghentikan aktifitasnya. Mereka bertiga saling mendekat.
"Apa kamu sudah siap?" tanya Ryan datar.
"Siap, Tuan!" Raghaza mengikuti ke mana Ryan melangkah.
Izumi melihat dua pria itu bergantian. Perasaannya harap-harap cemas menantikan pertarungan yang belum dimulai. Harapannya hanya satu, tidak ada yang terluka dalam tes kemampuan bela diri ini, baik Ryan maupun Raghaza.
Ryan berhenti di sebuah tempat yang lumayan lapang dan terlidung dari panasnya terik matahari siang itu.
Perlahan Ryan membuka kancing kemejanya dan melepaskannya. Kemeja itu dia lemparkan ke wajah Izumi membuat sang pemilik wajah menggerutu kesal. Ryan tidak mempedulikan itu dan memilih fokus untuk menghadapi Raghaza.
"Ghaza! Namamu Ghaza, kan?" tanya Ryan.
"Benar, Tuan," jawab Raghaza singkat.
"Jangan pernah sungkan untuk memberiku pukulan dan serangan! Aku ingin kamu menunjukkan semua kemampuanmu. Aku tidak bermaksud untuk mengguruimu, anggap saja kita sedang berlatih dan menjajal seberapa kemampuan bertarung yang kita miliki."
Tidak ada kesombongan sedikitpun di wajah Ryan. Pembawaannya yang tenang membuat lawannya sulit menebak kemampuannya.
Di lengan kiri Ryan terdapat plester pembalut luka, Izumi baru kali ini melihatnya. Mungkin luka itu sudah tidak terasa sakit karena dia berkali-kali menyentuhnya. Bahkan dengan lengan itu Ryan pun tidak keberatan untuk menggendongnya dan menjadikannya tumpuan.
"Saya hanya berlatih beladiri secara otodidak sebelumnya, Tuan. Baru seminggu ini saya mendapat guru khusus dari Nona Izumi."
"Manfaatkan kesempatan itu sebaik mungkin. Aku percaya kamu bisa diandalkan!"
"Hmm." Raghaza mengangguk.
Bertemu dengan Ryan memberinya semangat baru. Ternyata Ryan tidak seperti yang dia pikirkan sebelumnya. Aura pemimpinnya sangat kuat di usia yang jauh di bawahnya.
__ADS_1
"Mulailah menyerangku!" perintah Ryan masih dengan sikap tenangnya.
Sebelum menyerang Ryan, Raghaza membungkuk memberi hormat sebagai sopan santun.
Serangan pertama, Raghaza melayangkan pukulan yang dia lancarkan di wajah Ryan dengan kedua tangannya saling bergantian.
Dengan mudah Ryan berhasil mengelak. Begitupun dengan serangan-serangan berikutnya, Ryan seakan bisa menebak setiap gerakan yang diluncurkan oleh Raghaza. Sekuat apapun usaha yang dilakukan oleh Raghaza rupanya tidak berarti apa-apa untuk Ryan. Semuanya dengan mudah Ryan patahkan dalam satu hentakan.
Saatnya Ryan memberi serangan balasan untuk Raghaza sekaligus memberinya pengajaran untuknya.
Izumi juga ikut melihat gerakan dan jurus-jurus yang dilancarkan oleh Ryan. Gerakan yang sangat cepat namun terarah dan terkontrol dengan baik. Beberapa kali Ryan juga melakukan gerakan tipuan untuk mengecoh lawannya.
Dalan pertarungan ini, Ryan pemegang kendali yang menguasai permainan namun dia tidak berniat untuk melukai Raghaza. Dia hanya ingin Raghaza mempelajari teknik-teknik gerakannya yang bisa dia praktekkan setelah ini.
Untuk mengakhiri pertarungan, Ryan menunjukkan teknik kuncian dengan membuat kombinasi gerakan tangan dan kaki. Izumi tidak melihat gerakan itu dan yang dia tahu sekarang kedua tangan Raghaza sudah terkunci di belakang dengan bertumpu di kedua lututnya.
"Ingat semua gerakan yang aku lakukan padamu! Ketika aku kembali lagi ke sini, kamu sudah harus menguasainya."
Ryan melepaskan Raghaza dan meraih baju di tangan Izumi yang masih terbengong-bengong melihat pertarungan yang sudah usai.
"Terimakasih, Tuan." Raghaza mencoba berdiri dengan benar.
Melihat kakaknya sudah pergi, Izumi pun berjalan cepat untuk menyusulnya tanpa menyapa Raghaza. Dia berlalu begitu saja dari hadapannya.
'Aku lemah sekali di hadapan anak-anak itu. menyedihkan! Sungguh aku orang yang sangat menyedihkan.' Raghaza merutuki kelemahannya.
***
Ryan, Tera, dan Wisnu sudah kembali ke Indonesia tinggalah Izumi yang masih terbawa suasana sedih selepas kepulangan mereka.
Hiro dan Ryuki mengerti kesedihan Izumi. Siapa yang tidak sedih saat harus berpisah dengan keluarga dan orang-orang yang disayanginya. Hiro tahu apa yang harus dia lakukan.
Hiro berjalan mendekati Izumi yang melamun di balkon kamarnya sambil menatap lurus ke depan. Entah apa yang dilihatnya. Pemandangan malam masih sama seperti malam-malam sebelumnya.
"Sayang!" panggil Hiro.
__ADS_1
Izumi terkejut dengan kedatangannya. Seketika dia menoleh dan berjalan menghampiri papinya.
"Papi! Papi belum tidur?"
"Harusnya papi yang bertanya seperti itu padamu. Kenapa putri kesayangan papi belum tidur? Besok kamu harus sekolah, Sayang."
"Mataku belum mengantuk, Pi."
"Sebenarnya papi ada misi malam ini, tapi papi malas berangkat. Lebih baik papi menemani putri papi yang terlihat menyedihkan ini."
Hiro sengaja memancing Izumi agar melupakan kesedihannya.
"Misi! Sudah lama aku tidak menjalankan misi. Bisakah aku melakukannya!" seru Izumi bersemangat.
"Apa kamu tidak lelah? Wajahmu terlihat muram malam ini."
"Aku tidak lelah, Pi. Aku hanya merasa kehilangan saja. Biasanya aku bertengkar dulu dengan Yan Yan sebelum aku tidur. Ayolah, Pi, katakan misi apa yang akan Papi lakukan malam ini!" rengek Izumi sambil menggoyang-goyangkan lengan Hiro.
"Baiklah karena kamu memaksa! Bersiaplah! Aku tunggu kamu di bawah!" ucap Hiro.
"Yes!" Izumi melompat memeluk Hiro dan memberinya sebuah ciuman.
"Aku bilang mami dulu, Pi!" Izumi berlari meninggalkan Hiro yang sedang mengulum senyuman penuh kemenangan.
Hiro berharap setelah misi berakhir pun Izumi bisa melupakan kesedihannya. Baginya kebahagiaan Izumi adalah harta yang tak ternilai untuknya. Tidak peduli dengan apa dia harus membelinya.
Perpisahan dua saudara kembar itu tentu menyakitkan bagi Izumi namun Hiro dan Ryuki juga tidak sanggup untuk berpisah dengan Izumi yang sejak bayi sudah diasuhnya seperti putri kandungnya sendiri. Izumi juga sangat menyayangi mereka dan menganggap keduanya seperti orang tua kandungnya.
Hiro membawa Izumi pergi ke sebuah klub malam tempat yang menjadi kesepakatan antara Hiro dan orang yang akan mengadakan transaksi dengannya.
Izumi yang ditugaskan untuk membawa koper berisi produk kesehatan bermutu tinggi yang mereka jual belikan secara sembunyi-sembunyi. Ini mereka lakukan karena tidak ingin pemerintah meminta hak paten untuk itu. Hiro juga menjual obat-obatan yang bisa menjadi senjata pembunuh masal. Biasanya hanya kelompok tertentu saja yang dia layani.
Seorang pria berwajah bule menunggu kedatangan mereka di sebuah meja. Dia sedang ditemani oleh dua orang pria dan beberapa wanita penghibur. Sepertinya pria itu belum menyadari kedatangan Hiro.
Malam itu Izumi terlihat seksi dengan berbalutkan dress mini berwarna hitam dengan rambutnya yang tergerai lepas. Dia sedikit memoles wajahnya dengan make up tipis yang membuatnya terkesan lebih dewasa. Berjalan anggun di samping Hiro dengan menenteng koper kecil berisi produk yang mereka perjualbelikan.
__ADS_1
****
Bersambung...