MAFIA KEMBAR

MAFIA KEMBAR
GAGAL BILANG CINTA


__ADS_3

Raghaza masih merasa jika itu adalah mimpi. Dia masih saja mematung sambil memegangi bibirnya, di saat Izumi mulai berkemas dan merapikan dirinya. Rasanya masih ada yang tertinggal di sana karena ini yang pertama kali baginya bersentuhan dengan lawan jenisnya.


Sebenarnya Izumi juga sedang berbunga-bunga, namun dia sangat pandai menyembunyikan perasaannya. Ingin rasanya dia tertawa keras-keras ketika melihat wajah bodoh Raghaza yang sedari tadi diam tak bergerak. Sungguh pemandangan yang sangat menggelikan untuknya.


"Ghaza! Kamu mau pulang tidak?" tanya Izumi sambil menepuk pundak Raghaza yang sedang melamun.


"Ah, iya. Em ... ayo kita berangkat!" Raghaza menyerahkan helm untuk Izumi.


Masih ada rasa canggung di antara mereka berdua. Izumi yang terkesan cuek membuat Raghaza merasa penasaran dan terus bertanya-tanya tentang arti ciuman mereka barusan. Ingin marah, tidak mungkin. Tapi hatinya benar-benar seperti sedang dipermainkan oleh gadis kecil itu.


Motor yang mereka kendarai membelah kegelapan malam. Sisa-sisa air hujan masih menggenang di jalanan yang mereka lalui. Udara yang masih terasa begitu dingin membuat Izumi mengeratkan pelukannya.


Lagi-lagi Raghaza harus menahan gejolak di dalam jiwanya yang serasa mendidih karena ulahnya.


Izumi tidak peduli atau mungkin tidak menyadari jika semua yang dia lakukan itu bisa membuat seseorang terbakar gairah.


'Gadis kecil! Kamu tidak tahu atau pura-pura, sih! Huhh! Dadaku sesak sekali.'


Raghaza hampir saja kehilangan konsentrasinya mengendarai motornya karena sibuk memikirkan Izumi.


Untuk mengurangi rasa gugupnya, Raghaza ingin berhenti sejenak dan mengontrol detak jantungnya yang menurutnya tidak normal.


Motor yang mereka kendarai menepi dan berhenti di sebuah jembatan yang terlihat sepi.


Izumi menatap Raghaza heran sambil melepaskan helmnya.


"Maafkan aku, Nona. Aku ingin berhenti sejenak." Raghaza berjalan menuju tepi jembatan dan melihat derasnya aliran sungai yang sedang banjir.

__ADS_1


Izumi berjalan mengekor di belakangnya.


Angin malam yang tenang dan dingin membuat Izumi memeluk tubuhnya sendiri sambil meniupkan napasnya perlahan.


"Kamu kedinginan?" tanya Raghaza.


Izumi mengangguk.


Sebenarnya Raghaza tidak yakin dengan apa yang ingin dia lakukan namun dia harus tahu kejelasan hubungan di antara mereka berdua.


Dia mendekati Izumi dan meraihnya ke dalam pelukannya lalu memeluk tubuh Izumi erat. Walaupun Izumi tidak membalas pelukannya, namun dia tidak menolaknya. Raghaza seperti terjebak dalam permainannya sendiri ketika Izumi masih tenang dan dia semakin tidak terkontrol.


Izumi membulatkan matanya karena terkejut, namun Raghaza tidak bisa melihatnya. Saat mereka berpelukan, wajah mereka melihat ke arah yang berlawanan.


"Izumi! Apa pantas pria ini mengharapkan wanita hebat sepertimu?" Ini pertama kalinya Raghaza memanggil majikannya dengan nama saja.


"Aku ... aku ...." Izumi ingin mengungkapkan perasaannya pada Raghaza namun sorot lampu mobil yang sangat terang membuat mereka harus membatasi jarak mereka.


Izumi menutup matanya dengan telapak tangannya, dia mengumpat dalam hati karena cahaya yang menyilaukan itu sengaja di arahkan padanya.


Dengan langkah yang cepat dia berjalan menghampiri mobil itu membawa kemarahan yang hampir meledak.


Namun setelah melihat mobil itu dan melihat siapa yang ada di dalamnya, kemarahan Izumi beserta seluruh kata-kata yang tersimpan di otaknya menguap entah ke mana.


"Papi!" pekik Izumi ketika Hiro membuka pintu mobilnya.


Raghaza yang berdiri di belakang mereka menjadi tidak enak dan terlihat kikuk, merasa dia bukan siapa-siapa di hadapan kedua orang yang ada di hadapannya itu.

__ADS_1


"Kamu ke mana saja, Sayang? Mami kamu kebingungan di rumah karena ponsel kamu tidak bisa dihubungi."


"Aku terjebak dalam hujan, Pi. Sekali mencoba pergi naik motor, namun akhirnya jadi begini. Ah, benar-benar menyebalkan!" geritu Izumi.


"Ya, sudah. Ayo kita pulang! Naiklah ke dalam mobil!" seru Hiro.


'Gagal, deh, mau ngomong.' Izumi melirik Raghaza sekilas lalu meninggalkannya masuk ke dalam mobil Hiro.


Izumi pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Raghaza.


Mobil yang dikendarai Izumi dan sebuah mobil pengawalnya sudah menghilang di kegelapan malam, namun Raghaza masih berdiri mematung di tempatnya.


Hatinya merasa ada yang hilang ketika Izumi pergi dari sisinya.


"Aarrrgghh!" Raghaza mengacak-acak rambutnya lalu menendang pinggir trotoar yang ada di hadapannya.


"Kenapa dengan hati ini? Kenapa dengan perasaan ini? Sial! Aku tidak boleh lemah! Aku harus membunuh perasaan ini sebelum dia membunuhku." Raghaza meraih helmnya dengan kasar lalu mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi menuju markas Black Rose.


Sesaat yang lalu dia berbunga-bunga namun sesaat kemudian harus menelan kepahitan hidup.


Perbedaan status sosial lagi-lagi menjadi jurang pemisah antara dua insan yang saling mencintai. Ini pertama kalinya Raghaza merasa kacau oleh seorang wanita. Di masa lalunya, dia selalu menghindarinya karena dia miskin dan tidak pantas di sayangi. Akankah itu kembali terulang saat hatinya mulai menyayangi Izumi.


****


Bersambung...


Numpang promo novel karya temanku ya kak... semoga berkenan mampir...

__ADS_1



__ADS_2