MAFIA KEMBAR

MAFIA KEMBAR
TERTEMBAK


__ADS_3

"Tidak! Aku tidak mau mati!" teriak orang yang telah menembak Ryan.


"Kamu memang pantas untuk mati!" sahut pengawal Ryan sambil memukul tengkuknya keras-keras.


"Aaaaaa!" teriak orang itu.


Jio dan empat anggota Klan Hercules yang lain diam tak berkutik. Sekali mereka salah bicara pasti nasibnya tidak akan jauh beda dengan salah satu temannya itu. Berada di penjara bawah tanah memang tidak enak tetapi itu masih lebih baik daripada mendapatkan siksaan yang sangat keji.


"Hukum dia di hadapan teman-temannya. Biarkan mereka melihat bagaimana Goritzma menyiksa musuh-musuhnya!" seru Ryan sebelum dia masuk ke dalam mobilnya.


"Goritzma!" pekik Jio lirih sambil melirik ke empat teman yang berada di sampingnya.


Bulu roma mereka merinding ketika mendengar nama Goritzma, Klan mafia yang menguasai hampir seluruh wilayah Asia dan sebagian Eropa. Tubuh mereka terasa dingin seketika saat mengetahui jika pemuda yang mereka bilang anak kecil tadi adalah orang penting di Klan Goritzma. Harapan hidup mereka sangat kecil jika sudah masuk ke dalam markas rahasia Goritzma.


'Pantas pemuda itu sangat percaya diri. Sial! Aku terjebak dan memilih lawan yang salah.' gumam Jio dalam hati saat masuk ke dalam mobil mereka sendiri sebagai tawanan.


Mobil musuh masing-masing di bawa oleh dua pengawal Ryan. Sebelum membawa mobil itu mereka mematikan kamera perekam dan sambungan GPS yang terpasang di sana. Mereka juga memeriksa seluruh bagian mobil untuk memastikan tidak ada lagi alat pelacak dan tombol-tombol rahasia lainnya. Setelah di rasa semuanya aman mereka baru menjalankan mobil itu dan membawanya ke markas rahasia Goritzma.


•••


"Kita ke rumah atau ke rumah sakit Tuan?" tanya pak Edo hati-hati.


"Ke rumah saja. Aku sudah mengirim pesan pada Dokter Kemal untuk segera datang ke rumah," jelas Ryan sambil meringis menahan sakit.


Matanya melihat sekeliling mobil untuk mencari sesuatu yang bisa dia pakai untuk membalut lukanya sementara waktu. Pandangannya terhenti pada sebuah dasi yang tergeletak di dashboard. Tidak peduli itu dasi milik siapa, Ryan mengambilnya dan mengikatkannya pada luka tembaknya. Ryan memakai mulutnya untuk membantu tangan kanannya membuat simpul tali.


Mobil Ryan melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi mengingat jarak rumah mereka masih jauh dari lokasi. Badan lelah Ryan dan perutnya yang kosong membuatnya merasa mengantuk. Dia tertidur selama perjalanan pulang ke rumahnya.


Di teras rumah, Tera dan Dokter Kemal sudah menunggu Ryan. Pengawal bayangan sudah melaporkan apa yang terjadi pada Ryan. Meskipun Tera tidak menghalangi Ryan terjun ke dunia bawah tanah namun sebagai seorang ibu dia merasa sangat khawatir.


Beberapa orang pengawal pribadi keluarga Wisnu berlari menghampiri mobil Ryan yang baru saja tiba. Mereka membukakan pintu untuk Ryan dan ada pula yang datang membawa sebuah kursi roda.


"Aku tidak lumpuh! Singkirkan kursi itu!" Ryan merasa geli melihat pengawalnya membawa kursi roda untuknya.

__ADS_1


Melihat Ryan turun dari dalam mobil, Tera berjalan menyongsongnya dan merasa lega setelah melihat keadaan Ryan yang baik-baik saja.


"Syukurlah kamu baik-baik saja, Yan Yan!" Tera memegang pipi Ryan lalu menggamit tangannya untuk masuk ke dalam rumah.


"Aku baik-baik saja, Ma. Hanya luka tembak di lengan ini saja." Ryan mengangkat lengannya yang terluka.


"Kamu harus lebih berhati-hati lagi setelah ini Yan Yan!" ucap Tera melepaskan tangan Ryan karena mereka telah sampai di ruang keluarga.


"Iya, Ma!" Ryan meraih air minum kemasan yang tertata rapi di atas meja.


"Kamu lapar, Yan Yan?" tanya Tera melihat Ryan meminum segelas air dalam sekali tenggak.


"Tidak! Tadi Yan Yan sudah mengkonsumsi pil pemulih tenaga, Ma."


"Baiklah kalau begitu biar pelurunya langsung di keluarkan saja. Dokter Kemal masih banyak pekerjaan lainnya di rumah sakit."


Tera meminta pelayan untuk membatu Dokter Kemal untuk menyiapkan apa saja yang dibutuhkan saat pengambilan peluru. Tera membuka ikatan di tangan Ryan dan merobek lengan baju Ryan. Ryan tidak bersuara apa-apa saat mamanya melakukan beberapa hal untuk membersihkan lukanya.


Sementara itu, Dokter Kemal muncul dari arah dapur setelah menyeterilkan alat yang akan dia pakai untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di lengan Ryan.


"Aku sudah terbiasa merasakan sakit, bahkan lebih para dari ini. Iya kan, Ma!" Ryan mencari pembenaran dari Tera.


"Benar Dok! Silakan di mulai saja operasi kecilnya!"


"Baiklah.... Saya akan melanjutkan pekerjaan saya."


Dokter Kemal mengamati dalamnya luka tembakan itu. Segera saja dia melakukan tindakan medis pada Ryan. Wajah Dokter Kemal terlihat serius dan berusaha seteliti mungkin untuk melakukan pengambilan peluru yang bersarang di lengannya.


Keringat mengucur deras membasahi wajah dan leher Ryan karena dia menahan rasa sakit ketika peluru itu di congkel dan dikeluarkan. Lega. Itulah yang di rasakan Ryan sesaat setelah peluru itu berhasil diangkat.


"Jangan sampai kena air dulu ya Tuan! Lukanya bisa terbuka lagi." Dokter Kemal berbicara sambil membalut luka Ryan dengan perban.


"Baik Dok!"

__ADS_1


"Usahakan jangan melakukan aktifitas yang berat untuk beberapa hari ke depan. Dan makanlah makanan yang tinggi protein agar lukanya cepat menutup." sekali lagi Dokter Kemal memberinya nasihat.


"Hmmm.... Iya!" jawab Ryan malas karena keluarga Goritzma mempunyai obat penyembuh luka yang bekerja sangat cepat.


"Semuanya sudah selesai, bolehkah saya kembali ke rumah sakit Nyonya?" tanya Dokter Kemal sambil membereskan alat-alat yang baru saja dia pakai.


"Pergilah!" sahut Tera singkat.


"Ini obatnya, Nyonya!"


"Terimakasih!" Tera tetap menerima obat itu meskipun dia sudah mempunyai obat yang lebih manjur. "Maaf aku tidak bisa mengantarmu ke depan."


"Tidak masalah, Nyonya! Saya permisi." Dokter Kemal membungkuk untuk memberi hormat.


Setelah kepergian Dokter Kemal, di ruang tamu itu hanya ada Tera dan Ryan.


"Pelayan! Ambilkan makanan untuk Tuan Muda!" seru Tera lantang.


Tidak lama kemudian pelayanan datang membawa makanan untuk Ryan.


"Makanlah, Sayang!" Tera mengambilkan makanan kesukaan Ryan dan menyodorkannya di hadapan Ryan.


"Aku malas makan, Ma! Aku ingin istirahat saja!" Ryan berdiri namun Tera menarik tangannya hingga dia terduduk kembali.


"Mama tidak suka di bantah Yan Yan! Dasar mafia manja!" omel Tera sambil menyuapi putranya.


"Minggu depan kita jadi pergi ke Jepang, Ma?" tanya Ryan di sela-sela mengunyah makanannya.


"Jadi! Kalau tidak jadi papi Hiro pasti akan sangat marah dan memboikot semua fasilitas yang diberikan pada mama."


Tera menyuapi Ryan dengan telaten hingga makanannya habis lalu mengantarkannya pergi ke kamarnya. Siang itu Tera harus pergi ke markas untuk memeriksa sesuatu namun dia menunggu Ryan tertidur lelap baru pergi ke sana.


****

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2