
Guru Zack menahan sakit yang amat sangat di pangkal bahunya. Menyerah memang hal yang sangat memalukan baginya, namun tidak ada pilihan lain. Karirnya di dalam seni bela diri akan hancur jika dia sampai mengalami cacat fisik.
"Aku menyerah." Dengan berat hati pak Zack harus mengucapkan kata-kata sakral yang meruntuhkan kewibawaannya.
Ryan tersenyum senang lalu segera beranjak dari punggung pak Zack. Rasa haus yang menderanya membuatnya ingin segera meninggalkan tempat itu. Tanpa banyak bicara lagi, Ryan berjalan meninggalkan pak Zack yang masih terduduk di lantai sambil menahan gejolak emosinya.
Rupanya Awang yang sudah menyelesaikan hukumannya, berdiri di depan pintu gor indoor menunggu Ryan keluar dari sana. Awang juga sempat melihat pertarungan Ryan dengan guru bimbingan konseling itu di menit-menit terakhir. Senyum bangga terbit di wajah Awang untuk Ryan.
"Kita ke kantin dulu," ucap Ryan sambil terus melangkah tanpa mempedulikan wajah ingin tahu Awang.
Ya, Awang memang sudah menyiapkan beberapa pertanyaan untuk Ryan. Melihat Ryan sedang tidak ingin diusik dengan pertanyaan atau apapun, Awang pun memilih diam. Masih ada banyak waktu untuk bertanya meskipun itu tidak sekarang.
Mereka berjalan melintasi koridor dan teras ruang kelas yang sepi karena pelajaran sedang berlangsung.
Awang merasa ketar-ketir karena ini pertama kalinya dia tidak mengikuti pelajaran dan malah pergi ke kantin setelah hukumannya selesai.
"Pesan saja makanan yang kamu suka. Aku yang bayar!" seru Ryan ketika mereka sudah berada di depan kantin.
"Terimakasih, Yan." Awang tersenyum senang.
Mereka berjalan menuju meja kasir dan memesan makanannya lalu berjalan menuju ke sebuah meja untuk menunggu pesanannya.
Di jam-jam pelajaran, kantin memanglah sepi. Hanya ada beberapa guru atau staf karyawan sekolah yang biasanya pergi ke sana untuk sarapan. Begitupun hari ini, di meja lain terlihat ada dua meja terisi guru dan staf sekolah yang sedang sarapan.
"Yan, ada guru di sana," bisik Awang sambil melirik ke sebuah meja di mana guru itu duduk. Wajahnya terlihat ketakutan.
"Sudah, biarin saja. Pura-pura saja tidak lihat," jawab Ryan santai.
"Kalau mereka menegur kita, bagaimana?" Awang masih menunjukkan kekhawatirannya.
"Ya, kita jawab. Sudah, kamu tenang saja. Serahkan semuanya padaku!" Ryan masih terlihat santai menanggapi Awang yang sejak tadi tampak gelisah.
Awang tidak bisa tenang dalam duduknya. Mukanya menjadi kaku seperti kertas saat pandangannya bertemu dengan guru yang duduk di meja lain.
__ADS_1
'Sial! Pagi-pagi aku harus dua kali senam jantung. Tadi pak Zack dan sekarang bu Dona. Sungguh hari yang sial. Semua ini gara-gara si Koboy.' Awang menggerutu dalam hati.
Si Koboy adalah nama motor kesayangan Awang.
Pesanan mereka datang. Ryan segera menyambar minuman di hadapannya karena rasa hausnya sudah berada di ambang batas toleransi. Dia menghabiskan setengah gelas es teh itu. Awang pun sama. Sejak tadi dia merasa dehidrasi karena berlari di bawah terik matahari.
Saat mereka sedang menikmati makanan mereka, bu Dona dan bu Senna berjalan meninggalkan meja mereka karena sudah selesai sarapan.
Deg!
Awang menghentikan untuk mengunyah makanannya ketika melihat bu Dona berjalan ke arahnya. Dia tidak mempedulikan ada beberapa helai mie yang berada di luar mulut. Sendok makan yang dia pegang pun masih menggantung di depan mulutnya.
Ryan yang berada di posisi memunggungi guru itu sebenarnya tahu jika mereka sedang berjalan ke arahnya. Di tambah lagi melihat ekspresi Awang yang mati kutu. Ryan tetap bersikap tidak peduli dan memakan makanannya dengan lahap.
"Kalian tidak belajar? Apa guru kalian tidak hadir di kelas?" tanya bu Dona sambil melipat kedua tangannya di dada.
Awang terlihat menunduk sambil mengunyah makanannya pelan.
"Bukan urusan, Ibu!" jawab Ryan tanpa menoleh pada gurunya itu.
Bu Dona meraih bahu Ryan lalu memutarnya agar berbalik menghadapnya.
Ryan meletakkan sendoknya dan mengikuti gerakan tangan bu Dona.
Posisi keduanya kini saling berhadapan.
"Kenapa, Bu? Apa kamu ingin menghukumku juga?" tanya Ryan.
Bu Dona tersenyum.
"Bagus kalau kamu tahu. Meninggalkan ruang kelas saat jam belajar mengajar berlangsung itu melanggar tata tertib. Dan lagi, penampilan kamu terlihat berantakan." Bu Dona melirik baju Ryan yang terlihat lecek dan dua kancingnya terlepas akibat perkelahiannya dengan pak Zack tadi.
"Aku tidak ingin menerima hukuman lagi. Lebih baik aku pulang dan tidur daripada menerima hukuman," Ryan menatap mata bu Dona dengan tatapan mata yang dingin dan kejam.
__ADS_1
Bu Dona terlihat emosi dan tidak habis pikir dengan keberanian murid di hadapannya itu.
"Kamu ini! Siapa wali kelasmu?" tanya bu Dona dengan marah.
Awang menahan napas seolah sedang berada di dalam ruangan hampa udara. Ini pengalaman pertamanya menghadapi situasi yang seperti ini. Selama bersekolah, sekalipun Awang belum pernah melakukan pelanggaran tata tertib sekolah.
"Pak Joko!" jawab Ryan singkat.
"Ayo ikut aku ke ruangan pak Joko!" seru bu Dona.
Ryan menggeleng pelan.
"Aku masih lapar." Ryan hendak berbalik untuk menghabiskan makanannya namun bu Dona menahannya.
"Kamu benar-benar, ya! Kenapa aku baru lihat ada murid bandel sepertimu di sekolah ini?" bu Dona mencengkeram kerah baju Ryan dan memaksanya berdiri.
Ryan berdiri lalu berusaha menepis tangan bu Dona.
"Lepaskan tanganmu, Bu! Umurku memang jauh di bawahmu, tapi aku ini laki-laki. Anda sudah menginjak-injak harga diriku di depan umum dengan sikap Anda ini!" ucap Ryan pelan namun pennuh penekanan.
Bukannya takut, bu Dona malah semakin mengeratkan genggaman tangannya pada kerah Ryan.
"Jadi kamu masih memikirkan harga dirimu, ha? Bagus! Jika kamu masih punya malu, cepat ikut aku ke ruangan pak Joko!" seru bu Dona.
Mata Ryan berkilat.
"Aku tidak menyangka, guru-guru di sini ternyata memiliki atitude yang buruk. Aku pastikan jika aku yang akan menjadi murid terakhir yang menerima perlakuan ini. Dan sekolah ini harus segera ditutup!" ujar Ryan tersenyum sinis.
"Apa kamu bilang? Atitude kami buruk? Apa kami harus bersikap lembut dan menyanjung-nyanjung murid bandel sepertimu baru kami bisa dikatakan memiliki atitude baik?" Bu Dona berbicara dengan nada tinggi.
"Dengarkan aku, Bu Guru yang beratitude. Aku baru sekali ini terlambat datang ke sekolah, itupun baru lima menit. Alasannya sangat jelas, ban motor kami kempes dan sulit menemui tambal ban yang buka di pagi hari. Beruntung ada yang membawa ban serep dan kami menggantinya sendiri. Tapi apa yang terjadi setelah kami tiba di sekolah ini? Kami dihukum untuk lari berkeliling lapangan sebanyak sepuluh kali," jelas Ryan dengan penuh emosi.
Perlahan bu Dona merenggangkan cengkeramannya lalu melepaskannya. Ucapan Ryan bisa saja benar, namun bu Dona tidak langsung percaya. Menurutnya semuanya perlu dibuktikan.
__ADS_1
****
Bersambung ...