
Seperti yang sudah diperkirakan oleh Izumi, Mr. Eric rupanya bukan orang yang bisa dipercaya. Untung Hiro sudah mengawasi gerak-gerik mereka dari semalam, jika tidak pasti Izumi akan berada dalam bahaya.
Agar tidak mengundang kecurigaan Mr. Eric, Izumi hanya membawa 6 orang anak buah saja yang satu mobil dengannya.
Tanpa sepengetahuan Mr. Eric, di pelabuhan sudah ada pasukan Hiro yang siaga di sana.
Mereka selalu mengawasi setiap pergerakan dan mengintai apa yang dilakukan oleh anak buah Mr. Eric.
Untuk misi kali ini, Raghaza juga turut serta di dalamnya. Bukan Izumi yang memintanya, namun dia sendiri yang ingin diikutsertakan karena merasa bosan terus berada di dalam markas. Izumi mengijinkannya karena situasi saat ini sudah aman baginya.
Selama perjalanan Izumi lebih banyak diam. Dia memikirkan cara untuk bisa menyelesaika rencananya tanpa membuat keributan di sana. Di pelabuhan tentunya ada banyak orang, Izumi tidak ingin menjadi tontonan mereka.
"Nona! Apa rencanamu?" tanya Raghaza, memberanikan diri.
Dia merasa yang paling tidak tahu.
"Kamu terus ikuti saja diriku, nanti juga akan tau," jawab Izumi santai.
"Tapi, bukankah mereka telah menyiapkan pasukan untuk menyambut kita?" Kening raghaza berkerut karena berpikir.
"Ya, kita hadapi saja. Apa kamu takut?" Izumi melirik Raghaza.
"Tidak... tidak... bukan begitu."
Raghaza kembali terdiam membayangkan pertempuran yang sebentar lagi menantinya.
Perjalanan mereka sudah hampir berakhir. Mobil yang mereka tumpangi sudah memasuki area pelabuhan. Setelah mobil terparkir dengan benar, Izumi bersama keenam pasukannya berjalan menuju tempat mereka sepakat untuk bertemu.
Di telinga Izumi sudah terpasang alat bantu dengar yang terhubung dengan pasukan bayangan yang dikirim oleh ayahnya.
__ADS_1
Dengan begitu dia akan bisa menerima informasi secara cepat dari mereka.
"Selamat siang, Nona!" sambut Mr. Eric.
Keadaannya terlihat lebih baik, namun dia masih duduk di atas kursi roda dengan tubuh yang penuh dengan perban.
"Selamat siang, Tuan! Bisa kita percepat serah terimanya? Aku tidak punya banyak waktu. Lagipula tempat ini begitu panas."
Izumi memasang wajah memelasnya.
"Jangan terburu-buru, Nona cantik! Kamu terlihat lebih cantik di siang hari."
Mr. Eric memberi tatapan yang berbeda pada Izumi. Di belakang Mr. Eric ada beberapa orang anak buahnya. Jumlahnya sekitar 20 orang.
Menurut informasi dari Choky, ada sekitar 50 orang yang berada di sana. Itu berarti masih ada 30 orang lagi yang belum menampakkan diri. Mr. Eric tidak tahu jika mereka juga sudah di kepung oleh pasukan Goritzma yang menyamar.
"Apakah Tuan masih ingin merasakan sentuhan tanganku yang lembut ini?"
Sebenarnya dia sangat muak, hanya saja dia harus berpura-pura manis agar Mr. Eric segera memberikan apa yang dia inginkan.
Mr. Eric memegang tangan Izumi lalu menciumnya ketika tangan itu menyentuh dadanya.
"Jadilah wanitaku! Maka bukan hanya kapal saja, apapun yang kamu minta aku pasti akan mengabulkannya." Mr. Eric masih belum menyerah untuk mendapatkan Izumi.
Izumi terkesiap mendengar ucapan Mr. Eric. 'Dasar buaya! Sudah aku buat babak belur masih nggak ada kapok-kapoknya juga.'
"Oh, iya? Tapi aku tidak tertarik untuk menjadi simpananmu. Aku sudah memiliki pacar." Izumi menarik tubuh Raghaza tanpa memberinya aba-aba.
Seenaknya dia melibatkan Raghaza tanpa memberitahunya terlebih dahulu.
__ADS_1
Mata Raghaza terbelalak. Jantungnya seakan terhenti ketika mendengar kata-kata Izumi. 'Sungguh gadis gila' kata-kata itulah yang muncul di kepala Raghaza.
"Jangan malu-malu, Sayang! Biar semua orang tahu bahwa kamu hanya milikku."
Dengan berani, Izumi merangkul Raghaza yang membuat Raghaza semakin tidak bisa berkutik.
Mulutnya seperti sedang terkunci dan detqk jantungnya tidak terkontrol. Jarak mereka yang begitu dekat, membuatnya bisa merasakan itu semua. Hatinya merasa tergelitik dan semakin ingin menggoda Raghaza.
Anak buahnya yang lain tidak kalah shok melihat pemandangan didepannya. Pemimpin mereka terlihat seperti tidak sedang bercanda. Mereka menduga-duga tentang hubungan mereka berdua sebenarnya.
Melihat tingkah Izumi, Mr. Eric tersulut emosi. Dia beranjak dari kursi rodanya lalu berdiri di hadapan Izumi yang masih menempel pada Raghaza. Roman muka Mr. Eric berubah menjadi tidak lagi bersahabat.
"Kamu tidak bisa melakukan ini padaku, Nona! Aku tidak terima atas penolakanmu. Sudah jelas aku dan pemuda kamu anggap pacar itu beda kelas. Aku tidak menyangka wanita hebat seperti kamu bisa terpedaya oleh mulut manis laki-laki tak bermodal ini, hemhh!" Mr Eric mendengus dan memberi Raghaza sebuah tatapan mengejek.
Dari pakaian yang dikenakan oleh Raghaza, dia sudah bisa menilai tingkat kemapanan seseorang.
"Tapi dia lebih hebat darimu, Tuan."
"Percuma aku berbicara pada orang yang tengah di mabuk cinta." Mr. Eric tersenyum sinis.
"Kita sudah terlalu lama berbasa-basi. Mana surat kepemilikan kapal yang kamu janjikan padaku?"
Izumi menengadahkan tangan kanannya di hadapan Mr. Eric.
"Sebentar, Nona. Anak buahku akan membawanya ke sini."
Prokk! Prokkk! Prok!
Mr. Eric menepuk tangannya sebagai isyarat untuk memanggil anak buahnya.
__ADS_1
****
Bersambung...