MAFIA KEMBAR

MAFIA KEMBAR
MELAWAN KETIDAKADILAN


__ADS_3

Di sisi lain, Ryan harus menerima hukuman karena terlambat datang ke sekolah. Guru Bimbingan konseling tidak mau menerima alasannya yang mengatakan jika motor Awang bocor ketika dalam perjalanan menuju ke sekolah. Ryan dan Awang di hukum untuk berlari mengelilingi lapangan basket sebanyak sepuluh kali.


"Hari yang siap, Wang!" ucapnya di sela-sela larinya.


"Benar-benar sial, Yan. Mana hari ini ada pelajaran Fisika lagi. Bisa ketinggalan materi Bu Dewi kalau begini." Awang terlihat kesal.


Keringat mereka bercucuran berbalut panas mentari pagi yang mulai memanas. Rasa haus seakan mengunci tenggorokan mereka hingga terasa sulit untuk menelan ludahnya. Ryan merutuki guru bimbingan konseling yang tidak memberinya batas toleransi karena ini benar-benar tidak dia sengaja.


Matahari sudah meninggi namun mereka baru menyelesaikan lima kali putaran. Ryan tidak tahan lagi menahan haus. Dengan sikap tidak peduli, akhirnya dia menyerah dan mangkir dari hukumannya.


"Yan! Mau kemana?" Awang yang berada jauh di belakang merasa bingung melihat Ryan pergi meninggalkan lapangan.


"Kantin!" jawab Ryan singkat.


Guru bimbingan konseling yang sedari tadi mengawasinya dari tempat yang tidak terlihat, berjalan untuk menghadang Ryan yang meninggalkan lapangan sebelum hukumannya berakhir.


Ryan melihatnya namun pura-pura tidak melihat, bahkan ketika mereka berpapasan Ryan melewatinya begitu saja.


"Ryan!" panggil pak Zack dengan nada tinggi.


Ryan berhenti namun posisinya masih membelakangi guru itu.


Koridor itu sangat sepi, hanya ada Ryan dan pak Zack. Awang masih terus berlari melanjutkan hukumannya karena takut nanti ditambah yang lebih berat jika dia mangkir.


"Kamu tidak mematuhi perintah saya?" tanyanya lagi setelah berada di hadapan Ryan.


"Tidak!" bantah Ryan


Guru itu terlihat marah.


"Aku akan menambah hukuman untuk kamu menjadi dua puluh kali putaran!" seru pak Zack bicara pelan namun penuh penekanan.


"Aku tidak mau." Ryan kembali berjalan namun pak Zack mencekal lengannya.

__ADS_1


Kedua mata mereka saling bertemu dengan tatapan yang sama-sama dingin dan tajam. Ryan tidak terima dengan hukuman untuknya, sementara pak Zack merasa dia disepelekan. Ternyata pak Zack adalah sepupu dari Celine yang merasa tersakiti oleh penolakan Ryan.


"Dasar murid bandel! Harus dengan apa aku mendidikmu! Apakah orang tuamu tidak pernah mengajarimu etika dan sopan santun untuk menghargai gurumu?"


Mendengar pak Zack menyebut-nyebut kata orang tua, Ryan tidak terima. Apalagi dia mengatakannya jika mereka tidak mendidiknya dengan benar. Ryan tersulut emosi.


"Kamu boleh memaki-maki saya sesuka hatimu, tapi jangan pernah mengaitkan apa yang saya lakukan dengan orang tua saya!" Ryan berbicara sambil menunjuk wajah pak Zack.


"Berani sekali kamu menunjuk muka saya, hmm?! Aku pikir kecerdasan yang kamu miliki sebanding dengan nilai-nilai kesopanan."


"Bukan saya yang memulai. Anda lebih tidak sopan lagi karena telah menuduh orang tua saya tidak mendidik saya dengan baik. Sekarang katakan apa mau Anda, Tuan Zack!" Mata dingin Ryan menatap tajam pada gurunya itu.


Zack nampak berpikir.


"Aku menantangmu bertanding taekwondo. Jika kamu berhasil mengalahkanku maka kamu terbebas dari hukuman. Tapi jika kamu cidera kamu tidak berhak untuk menuntutku!" tantang pak Zack.


"Tantangan di terima. Di mana kita akan bertanding?" Ryan tersenyum sinis dengan wajah yang sangat percaya diri.


"Ikut aku!" seru pak Zack.


Selama berada di sekolah, Ryan memang tidak pernah menunjukkan kemampuan bela dirinya. Sekali pun dia tidak pernah terlihat perkelahian dengan temannya, dia cenderung pendiam dan suka menyendiri. Dalam bidang olahraga memang dia sangat mahir dan cukup bisa diandalkan dalam berbagai lomba.


Awang merasa heran melihat Ryan dan pak Zack berjalan menuju ke gor indoor di sekolah itu. Dia ingin cepat-cepat menyelesaikan hukumannya dan menyusul Ryan. Sikap tidak biasa keduanya membuat Awang penasaran.


Gor yang sangat luas itu terlihat sepi. Hari ini tidak ada jadwal kegiatan yang dilakukan di sana.


Derap langkah kaki keduanya menggema di seluruh ruangan memecah keheningan.


Mereka berhenti di tengah lapangan dan saling menatap dingin penuh permusuhan.


"Ayo segera kita mulai! Aku tidak punya banyak waktu untuk bermain-main denganmu!" ucap pak Zack dengan sombongnya.


"Mari, silakan!" Ryan mulai bersiap untuk menyerang.

__ADS_1


"Kamu serang aku duluan!" Pak Zack melipat tangannya di dada.


Dia tidak tahu jika Ryan menguasai beberapa teknik beladiri. Mulai dari silat, kung fu, taekwondo, dan juga karate. Guru khusus yang dipekerjakan Tera melatihnya sejak dia baru berumur lima tahun.


"Baiklah!" Ryan memasang kuda-kuda dan siap menyerang.


Hatinya terbakar ketika melihat pak Zack tetap berdiri pongah dan memandangnya sebelah mata.


Ryan menyerangnya dengan gerakan yang ringan dengan tinju yang mengarah ke wajahnya. Gerakan Ryan berhasil dihindari oleh pak Zack karena Ryan memang sengaja melakukannya. Dia ingin pak Zack merasa unggul darinya di awal pertandingan.


Pukulan kedua dan ketiga Ryan pun berhasil dipatahkan. Pak Zack semakin percaya diri dan menyangka jika Ryan tidak lebih dari seorang pecundang. Kini dia semakin bernapsu untuk menghajar Ryan, dia melupakan statusnya sebagai guru dan Ryan adalah muridnya.


"Sekarang giliranku!" Pak Zack menarik salah satu sudut bibirnya hingga menampilkan sebuah senyum ejekan.


Mata elang Ryan mengawasi gesture tubuh pak Zack dan mencoba menganalisa gerakan yang akan dia lakukan. Untuk serangan pertama, pak Zack memadukan gerakan tangan dan kakinya. Teknik menjegal dan mengunci lawan dengan jurus Elang Merah.


Ryan tersenyum dan bersiap untuk mengimbangi serangan dari guru Zack. Kaki dan tangannya begitu lincah menghindar dan memukul balik pak Zack. Serangan mematikan itu tidak berhasil melumpuhkan Ryan.


Merasa usahanya tidak berhasil, pak Zack terus melakukan serangan beruntun dan berharap Ryan tidak mampu menghindari gerakan cepat yang dia lakukan.


Kenyataan yang terjadi tidak sesuai dengan harapannya, Ryan lebih lincah dalam bergerak dengan jurus-jurus yang tidak diketahui oleh pak Zack.


Emosi telah menguasai pikirannya, pak Zack mulai bertarung dengan mengeluarkan seluruh kemampuannya. Akan sangat memalukan jika dia sampai dikalahkan oleh bocah ingusan seperti Ryan. Pertarungan mereka sangat sengit dengan gerakan yang sama-sama cepat dan terarah.


Lompatan, tendangan, pukulan, dan gerakan lincah mereka berujung pada kekalahan Zack. Dia terpelanting dan punggungnya menghantam lantai ketika Ryan berhasil menjegal kakinya. Dengan gerakan cepat, Ryan lalu membalikkan tubuh Zack hingga posisinya menjadi tengkurap.


Ryan menarik tangan Zack ke belakang dan menguncinya dengan lututnya.


"Kamu menyerah atau aku harus mematahkan tanganmu terlebih dahulu?" Ryan berbicara di sela napasnya yang masih memburu.


****


Bersambung...

__ADS_1


Kak numpang promo novel keren karya temanku ya...



__ADS_2