
"Bangunlah!" seru Izumi pada orang asing itu.
Orang itu bangun dengan tidak bersemangat. Dia masih mengira jika Izumi akan membuat perhitungan dengannya. Wajah menyedihkan itu berdiri di hadapan Izumi tanpa berani menatapnya.
"Berapa umurmu?" tanya Izumi.
"40 tahun," jawabnya singkat.
"Jika aku memberimu kehidupan kedua, apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Izumi.
Sejenak orang asing itu berpikir sebelum dia memberi jawaban. Membebaskan dirinya dari kematian adalah sebuah keajaiban besar. Sepertinya gadis kejam ini tidak sejahat yang dia pikirkan.
"Mengabdikan hidupku padamu, Nona."
Jawaban orang asing itu membuat Izumi terkejut.
Sungguh jawaban yang sangat berani, namun Izumi menyukai itu. Dia tahu bagaimana cara membalas budi dan mengerti jika nyawanya di hargai. Seorang seperti Izumi adalah tipe mengayomi meskipun dari luar terlihat sangat keras dan arogan.
"Apa kamu yakin? Dunia mafia itu bukan dunia yang indah. Kenyataannya lebih kejam dari sebuah drama pembunuhan," jelas Izumi.
"Sejak aku mulai mengusikmu dan menjatuhkan diri di hadapanmu, maka aku yang dulu telah mati. Saat ini aku rela mati untukmu, Nona."
Meski ucapan orang asing itu benar-benar yakin, namun itu tidak serta merta membuat Izumi langsung percaya.
Izumi memungut pisau milik orang itu lalu menyerahkannya padanya.
"Potong ujung kelingkingmu!" seru Izumi.
Itu adalah ujian ketulusannya dan kepatuhannya pada Izumi. Jika dia sanggup melakukannya, berarti dia benar-benar bisa di percaya.
Orang asing itu sedikit terkejut, namun dia segera melakukannya.
Dia menempelkan pisau di ujung jari kelingking kirinya. Perlahan dia memejamkan matanya dan bersiap untuk menarik pisau itu ke belakang. Ketajaman pisau diperkirakan bisa membuat ujung jari kira-kira sepanjang dua centimeter itu putus seketika.
Craasshhh!! Praanggg!
Baru setengah jalan pisau itu memotong, Izumi menendang tangan kanan orang asing itu hingga pisau terjatuh.
__ADS_1
Goresan luka yang cukup dalam membuat darah segar menetes dari kelingking kirinya.
Izumi berjalan mengambil tasnya dan melemparkan sebuah plester luka untuk orang asing itu.
"Pakailah!"
Wajah Izumi terlihat lebih bersahabat dari sebelumnya. Dia kembali duduk di depan api yang masih menyala kecil. Raghaza sudah berada di sana lebih dulu untuk menyalakan api.
"Terimakasih, Nona!" orang asing itu berlutut di hadapan Izumi.
"Hmm."
Izumi menjawab tanpa melihat ke arahnya.
"Namaku Kora. Selain bela diri aku juga memiliki keahlian lain dalam menempa logam. Pisau itu adalah hasil buatan tangan saya."
Izumi menatapnya.
Awalnya dia tidak tertarik untuk mempekerjakan Kora, namun mendengar kemampuan itu dia merasa perlu untuk merekrutnya.
"Saya, Nona." Raghaza medekat.
"Apa kamu butuh seorang penempa?" tanya Izumi serius.
"Sangat butuh, Nona. Apalagi seseorang yang sudah berpengalaman dalam mengolah dan memadukan beberapa jenis logam."
Mendengar jawaban Raghaza, Izumi lantas melirik Kora.
"Pergilah ke markas Black Rose di jalan M besok pagi!" perintah Izumi.
Kora merasa sangat senang. Dia langsung bersujud di depan Izumi.
"Terimakasih, Nona. Terimakasih!"
"Pergilah!" usir Izumi.
Kora pergi dari sana dengan berbagai macam perasaan yang campur aduk. Yang jelas saat ini dia merasa Dewi Fortuna sedang berpihak padanya. Sudah sejak lama Kora menantikan kesempatan untuk masuk ke dalam sebuah organisasi.
__ADS_1
Hati Kora yang sedang berbunga-bunga, membuatnya lupa untuk menanyakan apakah dia bekerja di dalam markas yang di sebutkan Izumi, atau di tempat lain.
Langkahnya terasa sangat ringan meskipun dia pulang hanya membawa sedikit uang. Di matanya terbayang senyum manis istrinya saat mengetahui berita ini. Namun, Kora ingin mengatakannya ketika tidak sedang bersama anak-anak mereka. Lebih baik dia merahasiakan identitasnya yang baru sebagai anggota baru di organisasi Black Rose.
Hujan sudah mereda, namun demikian harus sudah sangat malam.
"Ghaza! Sepertinya hujan yang turun tinggal sedikit lagi, ya?" Izumi menatap Raghaza intens.
"Iya. Kalau kamu mau, kita bisa pulang sekarang." Raghaza merapikan jaketnya.
Aneh. Bukannya senang dan segera bergegas pulang, namun Izumi malah sebaliknya. Dia merapikan penampilannya dengan malas.
"Langsung ke rumah saja. Lain kali aku akan membawa kamu pergi jalan-jalan. Anggap saja ini hutang, aku pasti akan segera membayarnya."
Mereka berdua saling berpandangan.
"Aku tidak merasa meminjamkan sesuatu. Dan kebersamaan ini lebih dari cukup." Mata Raghaza berkaca-kaca.
Izumi larut dalam gelombang dasyat yang tercipta diantara keduanya. Tidak peduli status dan usia mereka yang memiliki jarak yang cukup curam.
Perlahan Izumi mendekatkan wajahnya. Sepertinya tidak ada penolakan dari Raghaza. Izumi tidak mau memikirkan motif dari kepatuhannya itu. Yang entah karena dia bawahannya atau memang memiliki perasaan yang sama dengan Izumi.
Cup!
Izumi memberanikan diri memberi kecupan sekilas di bibir Raghaza.
"Terimakasih telah menjagaku malam ini," bisiknya di telinga Raghaza.
Raghaza seakan melayang menerima perlakuan Izumi, namun dia tidak ingin terlalu percaya diri dan merasa diistimewakan.
Dia berpikir, mungkin Izumi juga melakukan hal yang sama pada pria lain mengingat statusnya yang tinggi, di mana dia bisa mendapatkan pria yang dia sukai.
Sementara itu, Raghaza berpikir jika dia bukan apa-apa dan merasa tidak pantas untuk Izumi.
****
Bersambung...
__ADS_1