MAFIA KEMBAR

MAFIA KEMBAR
BEBAS DARI SANKSI


__ADS_3

Ryan sudah kehilangan selera makannya, dia meraih tasnya yang dia letakkan di kursi sebelahnya dengan cepat lalu menyandangnya.


"Jika Anda ingin masalah ini menjadi panjang, maka bawalah aku ke kantor wali kelas. Aku tidak akan memperpanjang urusan jika Anda membiarkanku pergi!" seru Ryan dengan tatapannya yang dingin dan mengintimidasi.


Bu Dona yang merasa lebih dewasa dan mempunyai wewenang di sekolah itu, menganggap ucapan Ryan itu sebagai lelucon.


"Kamu terlalu besar mulut, anak muda! Kalian berdua, ikut aku ke ruangan pak Joko!" Bu Dona tidak menggubris ancaman Ryan.


Tanpa Ryan ketahui, ternyata Bu Dona adalah anak dari pemilik saham terbesar yayasan sekolah itu. Itulah yang membuatnya sangat percaya diri. Bu Dona tidak mengetahui latar belakang yang dimiliki oleh Ryan.


Bu Dona berjalan paling depan diikuti oleh Ryan dan Awang menuju ke ruangan wali kelas.


Pak Joko yang sedang berada di ruangannya mempersilakan Bu Dona masuk setelah dia mengetuk pintu ruangan itu.


Ryan dan Awang ikut masuk dan duduk di kursi yang berada di depan Pak Joko, sedangkan Bu Dona memilih berdiri karena hanya ada dua kursi untuk tamu.


Bu Dona menceritakan apa yang dia lihat dan apa yang dikatakan oleh Ryan kepada Pak Joko. Menuutnya, Ryan sudah melanggar tata tertib yang ada di sekolah ini dan meresahkan para guru. Jika Ryan dibiarkan saja tanpa diberi sanksi maka dia akan menjadi contoh yang kurang baik untuk murid-murid yang lainnya.


"Aku menyesal bersekolah di sini. Permisi!" ucap Ryan sambil beranjak dari duduknya.


"Tunggu Ryan! Kami belum selesai bicara, kamu mau ke mana?" tanya Bu Dona kesal.


"Pulang."

__ADS_1


"Kamu benar-benar murid yang tidak bisa diatur, Ryan. Lihat ini, Pak Joko. Inikah murid yang kita bangga-banggakan?" Bu Dona kembali mengeluarkan kata-kata bernada profokasi.


Entah siapa yang melapor tentang keributan yang dilakukan Ryan pada kepala sekolah. Tiba-tiba dia datang ke ruangan Pak Joko dengan langkah cepat dan sedikit terburu-buru berharap semuanya belum terlambat. Wajahnya terlihat sangat panik dan sedikit ketakutan.


"Selamat pagi, Pak Joko!" Pak Kepsek memberi salam sebelum masuk ke ruangan itu.


Bu Dona terkejut dengan kedatangan pak Kepsek. Urusannya benar-benar akan menjadi panjang sekarang. Dia menatap Ryan dan Awang secara bergantian seolah memberi isyarat pada mereka untuk pergi dari ruanga itu.


Sebenarnya Ryan paha dengan maksud Bu Dona yang menginginkannya pergi dari ruangan itu dan melupakan masalah di antara mereka atau membahasnya lain kali. Namun Ryan tidak bergeming dan ingin membuat semuanya menjadi jelas di hadapan kepala sekolah


"Selamat pagi, Pak. Mari silakan duduk!" Pak Joko memberikan tempat duduknya untuk kepala sekolah.


"Bu Dona juga ada di sini, tentu kalian sedang membahas sesuatu yang penting."


Bu Dona hanya mengangguk dan tidak berani mengatakan sesuatu.


Ryan terlihat biasa saja, berbeda dengan Awang yang terus bergerak dan tidak tenang dalam duduknya karena merasa takut.


"Maaf jika saya mengganggu waktu Pak Joko dan Bu Dona. Saya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tadi ada yang melapor kepada saya jika Bu Dona membawa Ryan pergi ke ruangan Pak Joko."


Bu Dona akhirnya menceritakan apa yang dilakukan oleh Ryan dan membuat pernyataan-pernyataan yang membuat Ryan terpojok.


Ryan merasa jengah dengan sikap bu Dona yang terlalu memperbesar-besarkan masalah yang sebenarnya tidak terlalu berarti itu.

__ADS_1


"Pak Joko, Bu Dona, sebelumnya saya minta maaf jika aku ikut campur dalam masalah ini. Kita sebaiknya memaklumi alasan keterlambatan Ryan karena selain tidak di sengaja, dia juga baru pertama kali terlambat datang ke sekolah."


Pak Joko dan Bu Dona saling berpandangan setelah mendengar keputusan yang dibuat oleh kepala sekolah. Mereka merasa ada yang aneh dengan keputusan ini. Namun, mereka berdua tidak berani protes.


Kepala sekolah meminta Awang dan Ryan kembali ke kelasnya dan melupakan masalah ini.


Ryan mengucapkan terimakasih lalu meminta diri untuk kembali ke kelasnya. Matanya menatap tajam ke arah Bu Dona saat melewatinya. Ada kebencian dan amarah yang tersirat dari sorot matanya.


Bu Dona membalas tatapan itu dengan tatapan yang sama. Dia juga merasa benci dan marah karena Ryan bisa bebas dari hukuman. Harusnya kepala sekolah tidak datang ke sana.


Setelah kepergian Ryan, kepala sekolah meminta Pak Joko dan Bu Dona untuk duduk. Wajahnya terlihat sangat serius, berbeda dengan ketika Ryan masih berada di sana tadi. Kepala sekolah itu melihat Bu Dona dan Pak Joko secara bergantian sebelum dia mengatakan hal yang penting kepada mereka berdua.


"Maaf jika saya membebaskan Ryan dari sanksi dari kesalahannya. Selain kesalahannya yang memang tidak terlalu berat dan masih bisa ditolerir, saya juga membebaskannya mengingat latar belakang Ryan. Jika Anda berdua tahu sejak awal tentang siapa Ryan sebenarnya, mungkin Anda berdua tidak akan berani mengusiknya."


Pak Joko dan Bu Dona membali saling berpandangan mendengar cerita kepala sekolah.


"Maksud bapak? Latar belakang Ryan yang seperti apa?" Bu Dona belum tahu siapa Ryan sebenarnya.


Kepala sekolah terlihat menghela napasnya kasar.


"Ryan memiliki latar belakang yang kuat dan mungkin akan membuat Anda berdua tercengang."


Bu Dona terlihat tidak sabar dan merasa jika kepala sekolah sedang bermain teka teki dengannya.

__ADS_1


****


Bersambung ...


__ADS_2