
Di Indonesia.
"Yan Yan!" panggil Tera saat melihat Ryan fokus memakan sarapannya.
"Iya, Ma."
"Jaga kepercayaan mama dan papa. Jangan suka memberi harapan pada wanita jika kamu tidak ingin serius dengannya!" ucap Tera di sela-sela makannya.
"Uhukk ... uhukk ...!" Ryan terbatuk lalu segera mengambil minum dan meneguknya.
Wisnu melirik ke arah Tera dengan tatapan elangnya.
"Ma, biarkan anak kita sarapan dulu," ucap Wisnu kemudian.
Tera melihat ke arah Wisnu dan Ryan bergantian. Mereka tetap berpura-pura biasa dan menikmati sarapannya dengan lahap membuatnya menggeleng tidak habis pikir. Tera tahu jika itu adalah jurus mereka dalam menghindari pertanyaannya.
"Eehemm!" Tera berdehem untuk memulai kembali kasus Ryan yang tadi sempat tertunda saat sarapan.
"Mama, Yan Yan berangkat dulu, ya!" pamit Ryan.
"Tuh, kan!" Tera mendengus sambil melirik kesal ke arah Wisnu.
Ryan menghampiri Tera. Biasanya dia hanya mencium punggung tangannya sebelum berangkat, namun kini dia memeluknya erat.
"Mama, maafkan Yan Yan. Yan Yan tidak bermaksud untuk mengabaikan pesan Mama tadi, kok. Mama jangan khawatirkan, Yan Yan akan berusaha menjadi kebanggaan Mama."
Hati Tera menjadi tenang setelah mendengar ucapan Ryan. Rupanya sikap diam Ryan bukan untuk acuh ataupun mengabaikannya. Tera benar-benar dibuat terharu olehnya.
"Aku percaya padamu. Mama takut kamu terjerumus ke dalam pergaulan yang bebas. Kita memang berkecimpung di dunia bawah, namun mama harap kamu bisa memilah antara tuntutan pekerjaan dan perasaan pribadi."
"Pasti, Ma. Aku tidak akan terpengaruh untuk melakukan hal-hal yang akan merugikan bagi diriku sendiri."
Tera mengagguk dengan mata yang berkaca-kaca.
"Papa tidak di peluk juga, nih!" seloroh Wisnu menimpali.
Ryan melepaskan pelukannya pada Tera dan berpindah untuk memeluk Wisnu.
"Sudah, sudah, nanti kamu telat. Minta diantar pak Eko saja," ucap Wisnu.
__ADS_1
"Yan Yan bareng Awang saja, Pa. Sampai saat ini belum ada yang tahu identitas Yan Yan yang sebenarnya. Semoga saja tetap begitu sampai Yan Yan lulus SMA."
"Bagus, Yan Yan. Seorang mafia sejati memang harus tetap menjaga identitasnya agar tidak mudah dikenali," ucap Tera yang telah berdiri di samping Ryan.
"Aku pergi dulu, Ma, Pa!" seru Ryan.
"Hati-hati, Sayang!" Tera dan Wisnu mengucapkannya hampir bersamaan.
Setelah keberangkatan Ryan, di ruang makan hanya ada Tera dan Wisnu saja. Mereka kembali melanjutkan sarapannya yang belum selesai.
"Bagaimana keadaan kakek?" tanya Tera.
Shuhan sudah dua hari di rawat di rumah sakit karena kondisinya yang menurun. Tera belum mengunjunginya karena ada misi yang dia kerjakan beberapa hari ini. Mungkin dia akan menjenguk Shuhan hari ini.
"Dia sudah terlalu tua. Tubuhnya sudah tidak bisa berfungsi normal tanpa obat-obatan dan alat bantu. Sampai saat ini belum ada obat yang bisa membuat regenerasi sel untuk membuat orang awet muda."
"Kamu ini ada-ada saja. Kenapa tidak tanya Hiro, kali aja dia punya? Dia kan suka membuat penelitian-penelitian yang di luar nalar dan melawan logika."
"Hahaha, iya juga, ya." Tiba-tiba Wisnu tertawa.
Tera memperhatikannya. Aneh. Wisnu juga terlihat masih senyum-senyum sendiri sambil menikmati makanannya. Tidak ingin mengambil pusing dengan hal itu, Tera hanya menggeleng tidak habis pikir.
Rupanya Wisnu membayangkan jika dia bisa selalu awet muda dan tetap tampan seperti ketika dia masih berumur 25 tahun. Usia ketika awal-awal dia menikahi Tera yang baru lulus SMA. Menurutnya waktu berlalu begitu cepat hingga membuat wajahnya terlihat sangat dewasa dan cenderung tua.
"Apa? Hemm ... bisa jadi, sih!"
Jawaban Wisnu membuat mata Tera melotot dengan mulut yang terbuka.
"Jadi ... jadi .... Ah, Papa. Siapa dia?" Tera masih sulit berkata-kata.
Wisnu semakin ingin tertawa ketika melihat reaksi Tera dan melihatnya seperti orang yang sedang cemburu buta.
"Yakin mama ingin tahu? Mama sudah siap?" tanya Wisnu.
Tera mengangguk dengan perasaan yang campur aduk tak menentu.
"Ikut aku!" Wisnu menarik tangannya dan membawa Tera berjalan.
Tera hanya menurut saja tanpa perlawanan. Hatinya terasa panas membayangkan wanita lain yang membuat suaminya tergoda. Tera tahu Wisnu tidak akan berani macam-macam, tapi keterusterangan ini juga tidak kalah menyakitkan.
__ADS_1
Mereka berjalan menaiki anak tangga menuju ke lantai dua. Wisnu sengaja membawa Tera melewati tangga agar bisa memegang tangannya lebih lama. Terlalu cepat jika mereka berjalan menaiki lift.
Kamar tidur yang mereka tempati ada di lantai dua. Tidak pernah pindah ataupun bergeser dari sana walaupun sudah menempatinya bertahun-tahun sejak kepindahannya ke Kalimantan. Tidak peduli berapa kali rumah itu telah dibangun dan direnovasi.
'Di kamar? Suamiku menyimpan foto atau apa, sih? Tapi jika itu ada di kamar, kenapa aku tidak melihatnya?'
"Bersiaplah, Tera. Maafkan aku. Aku cuma ingin jujur saja sama kamu." Wisnu berpura-pura sedih dan menampilkan wajah penuh penyesalan.
Tera mengangguk tidak bersemangat.
Wisnu berdiri di belakang Tera dan memegang kedua bahunya lalu perlahan mendorongnya berjalan ke arah sofa. Namun itu hanya untuk mengecohnya saja. Saat mereka melewati meja rias, Wisnu menghentikan langkah mereka.
"Tunggu!" seru Wisnu.
"Tentang siapa wanita itu, emm. Dia sedang berada di hadapanmu," ucap Wisnu setelah membalikkan tubuh Tera menghadap cermin.
Tera masih tidak percaya. Dia merasa tidak puas dengan jawaban yang diberikan oleh Wisnu. Dia masih belum percaya jika wanita itu adalah dirinya.
"Ini ... ini ... kamu yakin tidak ada wanita lain yang membuatmu puber kedua selain aku?" tanya Tera sambil menunjuk ke arah cermin.
Wisnu tidak langsung menjawabnya. Dia melingkarkan tangannya di pinggang Tera dan menempelkan dagunya di pundak. Hembusan nafasnya membuat bulu kuduk Tera meremang.
"Hatiku sudah penuh dengan gadis nakal ini. Hanya dia yang memenuhi hati dan pikiranku hingga tidak menyisakan ruang untuk sekedar mengagumi wanita atau artis idola sekalipun."
Hati Tera menghangat mendengar kata-kata Wisnu yang begitu romantis.
"Setiap saat aku ingin selalu di dekatmu layaknya seperti seorang remaja yang sedang di mabuk cinta. Aku tidak ingin kalah dengan jiwa muda Ryan yang sedang mencari arti sebuah perasaan. Aku ingin tetap seperti ini meskipun sekarang kita sudah tidak muda lagi, Sayang."
Wisnu mengeratkan pelukannya dan mulai bertingkah nakal. Tangannya meraba-raba bagian sensitif Tera hingga membuatnya melayang. Wisnu tahu bagaimana cara membuat Tera terbakar meskipun sebelumnya dia tidak menginginkannya.
"Kamu tidak ke kantor?" tanya Tera mencoba tetap menguasainya dirinya.
"Malas. Aku ingin bersamamu seharian, Sayang." Wisnu semakin liar.
Mereka mengisi pagi itu dengan aktifitas suami istri yang membuat mereka berkeringat. Rencana mengunjungi kakek Shuhan di rumah sakit harus tertunda. Kebutuhan batin mereka juga tidak kalah penting dari semua kebutuhan yang harus mereka penuhi.
****
Bersambung...
__ADS_1
Numpang promo novel keren karya temanku ya kak... semoga berkenan untuk mampir... terimakasih...