MAFIA KEMBAR

MAFIA KEMBAR
KEBERSAMAAN


__ADS_3

Ketika sampai di hadapan Ryan dan Sora, Izumi melirik mereka berdua secara bergantian dengan tatapan curiga.


"Kalian berkelahi?"


Izumi melihat ada luka memar di sudut bibir Sora.


"Ini hanya perkenalan saja. Iya, kan Sora?" tanya Ryan.


"Be-benar, Izumi. Kami tidak bermusuhan."


"Terserah! Anggap saja aku percaya dengan bualan kalian."


Izumi tidak mau ambil pusing dengan apa yang dilakukan oleh para pria ini.


"Yan Yan, kamu mau pulang sekarang atau masih ingin bermain dengan preman sekolah ini?"


"Sora, sampai ketemu di lain waktu!"


Ryan menepuk bahu Sora pelan lalu berjalan menghampiri Izumi.


"Sampai nanti," jawab Sora.


Ryan dan Izumi berjalan meninggalkan Sora yang masih berdiri terpaku melihat kepergian mereka.


...


Sepanjang perjalanan, Izumi dan Ryan tidak banyak bicara. Tidak seperti ketika mereka berangkat makan malam. Wajah keduanya tidak menunjukkan aura bahagia seperti layaknya orang yang sedang berulang tahun.


"Maaf jika pesta ulang tahun kalian tahun ini tidak menggembirakan untuk kalian." Ryuki membuka percakapan.


"Kami bahagia," ucap Ryan mencoba menenangkan orang tua mereka agar tidak merasa bersalah.


"Tapi wajah kalian tidak menunjukkan itu," ujar Ryuki lagi.


Sifat Ryuki yang penuh perhatian dan penyayang, sangat peka dengan hal-hal seperti ini. Berbeda dengan Tera yang acuh dan tidak ingin terlalu ambil pusing dengan masalah kecil seperti ini.


"Kami suka dengan kejutan Mami. Benar-benar membuatku terkejut." Izumi memamerkan senyum yang dipaksakan.


"Mami tau kalau kamu tidak suka dengan kedatangan teman-teman barumu itu."


Ryuki memeluk Izumi.

__ADS_1


"Maafkan Mami!"


"Pengawal bayangan Mami yang salah. Mereka tidak memberikan informasi yang benar."


Ucapan Izumi membuat Ryuki melepaskan pelukannya.


"Mami tidak usah kaget begitu. Aku tahu Mami mengirimkan mata-mata yang selalu mengikutiku ke mana pun aku pergi."


"Mami hanya ingin memastikan keselamatanmu, Sayang."


Ryuki melirik Tera berharap dia ikut berbicara.


"Itu juga akan mama lakukan jika kamu tinggal bersama mama," imbuh Tera.


"Apakah Yan Yan juga Mama awasi terus?"


Pertanyaan Izumi membuat Tera terdiam. Tera tidak mungkin mengatakan jika diam-diam dia juga menyuruh pengawal bayangan untuk terus mengikuti Ryan. Pasti Ryan tidak terima dengan itu.


"Mana mungkin lah. Aku bukan kamu yang ceroboh dan suka seenaknya."


Jawaban Ryan membuat tera merasa lega. Itu tandanya sampai saat ini Ryan tidak tahu kalau dia terus mengawasinya.


"Sebenarnya aku hanya tidak bisa menahan diri saja. Keadaan yang memaksaku untuk berkelahi. Sekolah-sekolah itu saja yang terlalu disiplin dan tidak bisa mentolerir kesalahanku."


"Izumi, dengarkan mama." Tera menatap Izumi lembut.


"Mami Ryuki, melakukan itu karena dia terlalu sayaaaangg banget sama Izumi. Bahkan mungkin rasa sayang mami melebihi sayangnya mama padamu."


Tera memeluk Izumi dan mengecup kepalanya berulang-ulang.


"Maafkan Izumi Ma."


Izumi membalas pelukan Tera.


"Mami boleh ikutan peluk?"


Ryuki ikut memeluk Tera dan Izumi.


"Maafkan Izumi Mi."


Mereka beriga berpelukan. Ryan tersenyum samar melihat para wanita yang sangat disayanginya itu.

__ADS_1


Perjalanan mereka kembali berwarna diselingi dengan canda tawa mereka. Tidak terasa mereka sudah sampai di istana Hiro dan Ryuki. Dengan manja, Izumi meminta Ryan untuk menggendongnya masuk ke dalam rumah.


Sebenarnya Ryan sangat lelah, namun dia dengan suka rela menggendong Izumi. Kebersamaan mereka membuat orang tua mereka merasa senang melihatnya. Ryan berpikir jika momen seperti ini hanya sebentar, beberapa tahun lagi adiknya itu akan menikah dengan pria yang dicintainya.


Mereka tidak langsung tertidur malam itu. Wisnu dan Hiro mengobrol tentang bisnis di ruang kerja. Sedangkan yang lainnya becengkerama di ruang keluarga.


Izumi membawa Ryan berkeliling sambil mengobrol dan membiarkan kedua mamanya mengobrol. Di sebuah ruangan khusus mereka berhenti. Izumi menunjukkan beberapa kamera pengintai yang ada di ruangan itu.


Ada berapa teknologi terbaru yang belum diluncurkan. Izumi juga menunjukkan Organisasi Black Rose yang terus berkembang. Ryan juga merasa kagum dengan jiwa kepemimpinan Izumi yang begitu di segani oleh anak buahnya.


Izumi juga menunjukkan rekaman seseorang yang baru saja bergabung dengan Black Rose. Raghaza, ahli pembuat dan perakit senjata yang sudah mulai bekerja. Izumi bercerita dengan antusias sambil menunjukkan semua koleksi pribadi yang dia miliki.


Ryan mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya. Dia pun menunjukkan semua perangkat lunak hasil ciptaannya dan Tera. Ada juga yang mereka ciptakan bersama-sama.


"Menarik! Bolehkah aku meminta beberapa perangkat lunak ini?"


Izumi menunjuk beberapa perangkat lunak yang bisa menunjang pekerjaannya.


"Papi sudah memilikinya. Kamu minta saja padanya."


"Baiklah!"


Ryan berkeliling untuk melihat-lihat semua koleksi perangkat canggih milik Izumi. Sebagian di antaranya sama dengan yang dimiliki di Indonesia.


"Apa kamu ingin melihat koleksi senjataku?"


Izumi berdiri di samping Ryan.


"Besok saja. Aku sudah mengantuk." Wajah Ryan memang terlihat sangat lelah.


"Baiklah! Ayo kita tidur! Kalau kamu mau aku akan membawamu pergi ke markas besok."


"Baru saja aku ingin memintamu membawaku ke sana," seloroh Ryan.


"Dengan senang hati Yan Yan."


Izumi bergelayut manja di lengan Ryan saat berjalan ke kamar mereka yang bersebelahan. Ryan mengantarkan adiknya masuk ke dalam kamarnya dan membantunya bersiap tidur. Setelah menyelimuti Izumi, Ryan mengecup keningnya dan mengucapkan selamat malam padanya.


Kehangatan seorang kakak yang selalu membuat Izumi rindu. Di balik sikap mereka yang kejam terhadap musuh-musuhnya, terselip kasih sayang mendalam untuk orang-orang yang dikasihinya.


****

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2