
"Tunggu, Nona!" pekik seorang wanita yang tidak di kenal oleh Izumi.
Wanita itu terlihat hamil besar. Dia sedikit kesulitan saat berjalan melewati mayat-mayat untuk menghampiri Izumi dan Mr. Eric. Perutnya yang besar itu menghalanginya untuk melihat sesuatu yang akan dilewati.
"Xena!" seru Mr.Eric pada wanita hamil itu.
"Apa-apaan ini? Permainan apalagi yang sedang kamu mainkan, Mr..Eric?!" Izumi terlihat sangat geram.
Pistol yang dia pegang dia tekan di pelipis Mr.Eric kuat-kuat, membuat Mr. Eric semakin ketakutan.
Wanita hamil itu akhirnya sampai di hadapan Rubby.
"Nona! Tolong lepaskan suamiku! Aku nohon! Aku janji kami akan pergi jauh dari sini dan tidak akan pernah muncul di hadapanmu lagi." Wanita itu memohon dengan linangan air mata.
.
'Dasar, wanita bodoh?! Kamu tidak tahu saja suami macam apa yang sedang kamu bela itu. Suami yang suka membagi ayam jagonya pada banyak wanita. Menjijikkan!' Izumi bergidik.
"Terlambat!" seru Izumi.
Bugg!
Tubuh Mr. Eric tumbang setelah Izumi menembak kepalanya.
"Lalu bagaimana dengan anak ini?" tanya wanita itu terisak.
"Kalian akan mati juga! Aku bukan orang yang berbelas kasihan. Kamu sendiri yang mengantarkan nyawamu ke sini. Kalau bukan aku yang membunuhmu tentu yang lain juga akan melakukannya!" seru Izumi tanpa rasa iba sedikitpun.
"Kamu kejam sekali, Nona! Suamiku sudah kami bunuh dan sekarang kamu akan membunuhku." Wanita itu menangis sambil menggigit bibirnya agar tidak menimbulkan suara.
"Aku Dewi Kematian, tugasku hanya membunuh siapa saja yang menghalangi jalanku. Tidak ada ampunan karena ampunan adalah sebuah ancaman untukku. Kau tahu, suamimu hampir melecehkanku semalam, aku menghajarnya namun membiarkannya hidup. Lalu lihatlah apa yang dia lakukan sekarang. Dia membalasku dengan menyiapkan banyak pasukan."
Wanita itu tampak berpikir setelah mendengar ucapan Izumi.
"Apa kamu benar-benar tidak ingin melepaskanku?" tanya wanita itu melihat Izumi yang masih berdiri di depannya sambil menatapnya tajam.
"Tidak!" jawab Izumi singkat sambil mengamati reaksi dan gerak gerik wanita itu.
Di dalam dunia mafia tidak boleh ada rasa belas kasihan terhadap lawan karena itu bisa menjadi bumerang untuknya, baik saat ini atau di masa mendatang.
__ADS_1
Awalnya wanita itu hanya pura-pura menangis sambil memeluk suaminya, namun tangannya perlahan mengambil senjata api milik Mr. Eric yang terjatuh.
Izumi tersenyum jahat.
Duaarrr!
Baru saja wanita itu ingin mengangkat dan menodongkan senjata itu ke arah Izumi namun Izumi menembak pergelangan tangannya yang memegang senjata.
"Aarrrgghh!" pekik wanita itu menahan rasa sakit di pergelangan tangannya.
Darah segar menetes dari sana karena peluru melukai tepat di nadinya.
"Bibirku belum kering saat bicara bahwa jika aku melepaskanmu akan jadi boomerang. Baru beberapa detik saja kamu sudah melakukannya apalagi jika aku membiarkanmu hidup lebih lama."
Izumi menjambak rambut panjang wanita itu hingga si empunya meringis kesakitan.
"Aku hanya ingin melindungi diri!"
"Alasan klise! Kamu pikir bisa membodohiku dengan mudah, haa? Tempat pertarungan bukan tempat yang aman untuk melindungi diri. Tapi tempat untuk mengantarkan nyawa!"
"Aku mohon, lepaskan aku!" Wanita itu memasang wajah memelas namun Izumi tahu jika itu tidak tulus.
Sebelum melakukan transaksi semalam, Izumi sudah mempelajari karakter dan semua yang berhubungan dengan Mr. Eric.
Mendengar ucapan, Izumi wanita itu terbelalak, namun dia berusaha untuk menyembunyikan keterkejutannya dengan berpura-pura bersikap biasa.
"Aku istrinya. Kamu jangan sembarang menuduh!" Pupil mata wanita itu terlihat bergerak ke kanan kiri efek dari ketidakjujurannya.
"Heemh! Penipu! Kamu hanya simpanannya yang entah simpanan ke berapa. Kamu sebenarnya sudah berada di sini sejak semalam. Dan saat ini kamu sebenarnya ingin membunuhku agar kamu bisa leluasa mengusap harta milik Mr. Eric setelah kematiannya." Mendengus kesal sambil melirik wanita hamil itu.
Wanita itu tidak berkutik karena semua yang Izumi katakan memang benar adanya. Lebih baik diam daripada menyanggah atau mengiyakannya. Lawan bicaranya orang yang tahu segalanya.
"Kamu ingin mati sendiri atau mati di tanganku!" Izumi memberi tawaran yang sama-sama tidak enak untuknya.
Menyesal. Itulah satu kata yang ada di otak wanita itu. Harusnya dia tidak muncul tadi. Diam-diam dia pasti bisa mengeruk dan menikmati harta Mr. Eric jika dia tidak muncul.
Sekarang tidak ada jalan lagi baginya selain menerima kematiannya.
Wanita itu memilih menembak dirinya dengan pistolnya tadi.
__ADS_1
Di belakang Izumi, Raghaza tampak tertegun melihat aksinya. Dalam hati dia mengakui kehebatan Izumi. Bocah seusianya biasanya hanya tahu bermain-main dan menghabiskan uang dari orang tuanya, namun Izumi mampu memimpin sebuah organisasi dengan otak cerdasnya.
Pasukan musuh habis tak bersisa. Bau menyengat cairan peluruh mayat memenuhi tempat itu. Izumi berjalan cepat meninggalkan tempat itu menuju tempat di mana mobilnya terparkir. Raghaza mengikutinya.
"Terimakasih sudah memberiku kesempatan untuk melihat aksi hebatmu," ucap Raghaza ketika mereka sudah sampai di samping mobil.
"Kamu terlalu melebih-lebihkan!" seru Izumi sambil melepaskan beberapa atributnya dan mengambil tisu basah untuk membersihkan diri.
"Aku berkata apa adanya."
Izumi menoleh ke arah Raghaza. Sebenarnya dia sangat senang dengan pujian itu, tapi dia berpura-pura untuk bersikap biasa-biasa saja.
"Aku masih anak-anak yang butuh belajar. Menjadi mafia harus terus berlatih dan pandai membaca situasi." Izumi berbicara sambil pura-pura sibuk dengan map berisi berkas kapal rampasannya.
'Kamu memang iblis kecil. Tidak bisa bersikap manis, namun itu malah menjadi daya tarikmu,' gumam Raghaza.
"Aku memang cantik, tidak perlu kamu terus menatapku seperti itu."
Raghaza gelagapan dan menjadi salah tingkah. Dia tidak menyangka jika Izumi tahu saat dia memandanginya. Padahal Izumi terlihat tidak meliriknya sama sekali.
"Ma-maaf, Nona." Raghaza menunduk malu.
Izumi tersenyum jahil. Pemandangan yang jarang sekali dia lihat dari seorang Raghaza. Ternyata dia punya sifat pemalu juga.
"Aku merasa sangat penat sekali beberapa hari ini. Bagaimana kalau kita mengunjungi pusat perbelanjaan? Aku ingin membeli beberapa barang."
Lagi-lagi ucapan Izumi membuat Raghaza tidak bisa mengontrol dirinya. Antara senang dan tidak percaya. Tapi dia tidak ingin langsung mengiyakan ajakan Izumi. Berhati-hati akan lebih baik untuknya mengingat sifat Izumi yang kadang suka seenaknya. Izumi bisa saja punya rencana untuk mengerjainya.
"Mau tidak? Kalau tidak mau ya sudah. Aku pergi sama Jiro dan Ren saja," ucap Izumi sambil memeluk map di tangannya.
"Apa kamu sungguh-sungguh, Nona?" tanya Raghaza sambil melihat Izumi ragu-ragu.
"Bodoh! Aku tidak suka bercanda. Aku juga ingin memperbaiki penampilanmu. Kamu tidak dengar tadi Eric sialan itu menghinamu."
Izumi terlihat kesal.
Raghaza semakin tertegun dibuatnya. Merasa bingung dengan Izumi yang memiliki sisi lain yang satu persatu mulai terbuka. Sebelumnya dia hanya melihat sisi kejam dan arogansinya saja.
****
__ADS_1
Bersambung...