
Setelah mendengar isyarat dari Mr. Eric, beberapa orang berperawakan sangar maju ke hadapan Izumi dan Mr. Eric dengan membawa sebuah map lalu dia serahkan pada Mr. Eric.
Di hadapan Izumi, Mr. Eric membukanya dan menunjukkan pada Izumi keaslian berkas kepemilikan dan ijin operasional kapal yang dijanjikan.
"Bisa kita mulai sekarang?" Izumi merasa aneh, dari penyelidikan yang dilakukan sebelumnya harusnya tidak mungkin Mr. Eric akan menyerahkan berkas itu dengan mudah.
Gelagat tidak beres dari Mr. Eric mulai terlihat. Berkas yang tadinya dia pegang, dia serahkan kembali pada anak buahnya. Memang anak buahnya tidak pergi dari sana tapi rasanya ini bukan pertanda baik.
"Sayangnya, aku berubah pikiran. Itu kapal satu-satunya yang aku miliki. Jika aku serahkan padamu maka akan menghambat pengiriman barang yang aku lakukan dalam bisnisku." Mr. Eric secara terang-terangan membatalkan perjanjian yang telah mereka buat.
"Sudah aku duga. Kamu bukan orang yang bisa di percaya. Menyesal aku tidak membunuhmu semalam." Izumi masih bersikap tenang.
Mr. Eric terlihat merogoh sesuatu dari balik bajunya. Pistol. Dia mengangkat tangannya ke atas lalu melepaskan sebuah tembakan ke udara.
Semua warga sipil yang berada di sana berlarian untuk mencari tempat berlindung. Rupanya bukan tembakan itu yang mereka takutkan melainkan kedatangan pasukan berwajah sangar dan bertubuh gempal menghampiri tempat di mana Izumi berada. Mereka rata-rata memiliki tubuh besar dan berotot kekar.
Dalam sekejap, Izumi dan pasukannya telah terkepung. Lebih dari 50 orang anggota kelompok Mr. Eric berdiri mengelilingi mereka.
"Nyawamu ada di tanganku sekarang!"
Mr. Eric tersenyum penuh kemenangan.
"Oh, iya?" Bukannya takut, Izumi malah melipat kedua tangannya di dada.
Untuk memberikan perintah pada pasukannya yang berada di sekeliling tempat itu, Izumi menekan tombol aktif pada alat bantu yang tersembunyi di balik rambutnya.
Ketika alat yang mirip dengan earphone itu telah aktif, Izumi bisa berkomunikasi dengan anggota Klan Goritzma yang berjaga di sana.
"Pasukan Goritzma! Majulah!" seru Izumi.
__ADS_1
Mendengar nama Goritzma, Mr. Eric terbelalak. Dia masih tidak percaya jika gadis di hadapannya itu mempunyai pengaruh penting di klan mafia itu. Mr. Eric tidak langsung percaya. Dia berpikir jika Izumi hanya menggertaknya saja dengan pernyataan palsu.
"Hahaha! Jangan melawak, Nona! Mana mungkin Goritzma mendengar perintahmu. Memang siapa dirimu? Hahaha!" Mr. Eric menertawakan Izumi.
"Aku adalah Dewi Kematian. Tidak ada lagi pengampunan untukmu karena aku tidak suka dipermainkan." Sorot mata Izumi terlihat sangat menakutkan.
Tatapan matanya yang tajam dan kejam membuat lawan bicaranya menjadi segan.
"Tidak semudah itu aku percaya. Kamu pikir aku bodoh!" Mr. Eric belum menyadari jika satu persatu pasukannya telah tumbang.
Pasukan Goritzma memang memiliki senjata api yang tidak menimbulkan suara saat digunakan. Musuh tidak akan menyadari jika bahaya sedang mengancam mereka. Goritzma termasuk klan mafia yang kejam, dimana mereka tidak segan-segan menghabisi seluruh anggota lawannya untuk menghindari balas dendam.
"Aku tidak memaksamu untuk percaya kata-kataku, tapi cobalah buka matamu dan lihatlah kesekeilingmu!" ucap Izumi dengan nada santai.
Mr. Eric pun mengikuti apa yang dikatakan Izumi untuk membuktikannya.
"Bodoh! Kenapa kalian diam saja! Serang mereka!" teriak Mr. Eric pada pasukannya yang terisa.
"Sepertinya itu sudah sangat terlambat. Begitu juga dengan dirimu!" Izumi menodongkan pistolnya ke arah Mr. Eric.
Mr. Eric terdesak. Tidak banyak yang bisa dia lakukan saat ini. Perlahan dia bergerak mundur hingga tubuhnya jatuh terduduk di atas kursi rodanya.
"Beb-be-berikan berkas itu padanya!" perintah Mr. Eric pada anak buahnya dengan kata-kata yang terputus-putus karena ketakutan.
"Ambil berkas itu dan pergilah dari sini!" seru Mr. Eric pada Izumi.
Bukannya menghentikan langkahnya, Izumi malah semakin maju mendekati Mr. Eric setelah menerima map itu.
Dorr!
__ADS_1
Sebuah peluru menembus kepala anak buah Mr. Eric yang menyerahkan berkas tadi.
"Kau kejam sekali!" Mr. Eric semakin terlihat ketakutan.
"Aku tidak butuh pendapatmu. Kamu yang memulai permainan ini, maka kamu harus melihat seberapa kejamnya Dewi Kematian!"
"Si-siapa kamu sebenarnya?"
"Aku Princess Goritzma Dewi Kematian!"
"Aku tidak mengira jika Dewi Kematian itu adalah bocah ingusan sepertimu!"
"Ada lagi yang ingin kamu tanyakan agar kamu tidak mati penasaran?" Kini pistol yang di pegang oleh Izumi sudah menempel di pelipis Mr. Eric.
Mr. Eric hanya menggeleng.
"Jatuhkan senjatamu!" perintah Izumi melihat Mr. Eric masih memegang pistolnya sambil mengangkat tangannya di samping kepala.
"Aku mohon lepaskan aku, Nona! Ampuni aku. Kamu bisa meminta apapun lagi selain kapal itu. Biarkan aku hidup!"
Mendengar permohonan itu, Izumi menahan tawa.
"Menggelikan sekali. Kamu begitu mudah berubah. Baru beberapa menit yang lalu kamu begitu percaya diri untuk membunuhku."
Izumi bersiap untuk menarik pelatuk pistol yang dipegangnya.
****
Bersambung...
__ADS_1