
Setelah selesai melakukan ritual sarapan, Bella bangkit dari duduknya dan berniat untuk membereskan bekas makanan yang ada di meja tapi di tahan oleh Rangga.
"Mau ngapain?" tanya Rangga dan menahan tangan Bella yang mau mengambil sebuah piring di meja.
"Mau beresin ini Mas," jawab Bella.
"Gak usah, biar Mbak Mimin aja yang beresin, kita harus segera berangkat ke kampus sekarang!" ucap Rangga.
Semenjak kejadian kecelakaan Bella yang terkena pecahan piring itu, Rangga memang gak pernah mengizinkan Bella untuk melakukan pekerjaan rumah tangga.
Bella pun menurut dan meletakkan kembali piring kotor yang sempat ia ambil dari meja.
"Yuk," ucap Rangga.
"Yuk, kemana?" tanya Bella.
"Ke kampus Bell." jawabnya.
"Maksudnya, kita berangkat bareng gitu?" tanya Bella.
"Iya Bella, waktu kita sudah sempit ayok kita berangkat sekarang!" ajaknya.
"Nggak Mas, aku naik taksi aja." jawabnya.
Sampai saat ini Bella masih saja menolak berangkat bareng dengan Rangga karena dia takut teman-temannya curiga dan rahasianya terbongkar.
Kali ini Rangga memaksa Bella untuk ikut dengannya karena waktu yang sudah tidak memungkinkan lagi untuk memesan taksi.
"Bella, kali ini kamu harus nurut sama aku, waktu kita sudah mepet, tolong kamu mengerti dan nurut saja sama suami kamu ini!" perintahnya.
Bella pun terpaksa mematuhi perintah suaminya, tidak butuh waktu lama mereka langsung masuk ke dalam mobil dan Rangga segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Saat di perjalanan tiba-tiba suara telpon dari ponsel Rangga berbunyi, tapi Rangga kesulitan untuk mengambil ponsel dari saku celananya, ia tidak sempat untuk meminggirkan mobilnya karena saat ini ia sedang mengejar waktu yang sebentar lagi kelasnya akan dimulai.
"Bell, tolong ambilkan ponselku!" perintahnya.
"Dimana Mas?" tanyanya.
"Di saku celana Bell, cepatlah!" ucapnya lagi.
Bella pun langsung meraba-raba celana Rangga, ia kesulitan saat ingin meraih ponsel yang berada di saku celana sebelah kanan milik suaminya itu, tubuh Rangga tiba-tiba menegang karena tanpa disadari Bella sempat menyentuh bagian sensitifnya.
__ADS_1
"Nah, ini dia." ucap Bella dan langsung mengambil ponselnya.
"Kamu lihat siapa yang menelpon dan tolong angkat telponnya!" ucap Rangga yang berusaha menetralkan sesuatu yang menegang dibawah sana.
"Papa aku Mas yang nelpon," jawab Bella
"Yaudah angkat!" perintahnya.
Dengan cepat Bella pun langsung mengangkat telpon dari Papanya.
"Hallo, Pa?" sapa Bella
"Bella, kenapa kamu yang angkat telponnya, kamana suami kamu sayang? ada hal penting yang mau Papa bicarakan sama dia," ucap Papa Bella.
"Ada kok Pa, ini di samping Bella lagi nyetir mobil, jadi Bella yang angkat, kalo Papa mau bicara bicara aja Pa ini Bella load speaker kok." jawab Bella.
"Iya Pa, ada apa? ini Rangga lagi nyetir kita mau berangkat ke kampus," jelas Rangga.
"Oh iya, jadi gini. kalian nanti malam datang ke acara makan malam di rumah Papa ya, sekalian ada hal penting yang mau Papa bicarakan sama kalian berdua terutama kamu Rangga!" jelasnya.
"Iya Pa, nanti kita pasti datang ke acara Papa," jawab Rangga.
"Iya Nak, jangan lupa kasih tau Ayah sama Bunda kamu ya, Papa tunggu kalian nanti malam!" ucapnya lagi.
"Ada apa ya Papa ngadain acara makan malam di rumah, terus ada hal penting apa yang mau Papa bicarakan sama kamu Mas?" tanya Bella penasaran.
"Ya gak tau Bella, kan belum di kasih tau juga." jawabnya.
Mereka pun hampir sampai di parkiran kampus, dengan was-was Bella melihat sekitar, memastikan bahwa tidak ada teman sekelasnya di sana.
"Mas stop, di sini aja turunnya!" panik Bella.
"Gak, emangnya ini angkot bisa di berhentikan seenak penumpangnya." jawab Rangga sengaja.
"Tapi Mas, gimana kalo ada yang lihat kita satu mobil," ucap Bella.
"Biarin aja mereka lihat, biar pada tau status kita." ujar Rangga.
"Suamiku yang ganteng dan baik hati please..... turunin aku di sini ya!" godanya membuat Rangga terkekeh pelan lalu ia segera menghentikan mobilnya.
"Oke, kalo gitu kamu turun disini tapi kalo kamu telat masuk kelas, kamu akan saya hukum!" tegas Rangga mengancam.
__ADS_1
"Iya siap bapak dosen ku yang ganteng dan terhormat." ejeknya
Bella pun langsung membuka pintu mobilnya dengan langkah cepat ia bergegas menuju gerbang universitas.
"Permisi--" ucap Bella dengan tergesa-gesa melewati beberapa mahasiswa yang menghalangi jalannya hingga beberapa kali ia menyenggol dan menyingkirkan beberapa orang dihadapannya.
5 menit lagi. panik Bella sembari melihat jam ditangannya.
Bella semakin mempercepat langkahnya bahkan ia sempat berlari hingga ia sesak nafas.
Rangga yang baru selesai membereskan berkasnya, ia pun segera mengambil laptop dan bergegas menuju kelas.
3 menit sebelum kelas dimulai, Bella pun akhirnya sampai di depan kelas, ia berhenti sejenak karena nafasnya saat ini benar-benar sesak.
Begitu ia tau kalo Rangga belum sampai di kelas, ia menyenderkan dirinya di tembok depan kelas. Ega yang sedang berjalan menuju kelasnya pun melihat Bella yang sedang bersandar sambil ngos-ngosan dan ia segera menghampirinya.
"Ya ampun Bella, Lo kenapa ngos-ngosan gitu, Lo sesak nafas ya?" tanya Ega khawatir.
"Ega, gue abis lari dari gerbang soalnya takut telat masuk kelas." jelas Bella.
"Ya ampun Lo sampe keringetan begini Bell, nih gue ada minuman buat Lo, cepetan lo minum!" ucap Ega menyodorkan air mineral.
"Thanks ya Ga." ucap Bella yang langsung meminum air pemberian dari Ega karena ia benar-benar haus saat ini.
"Pelan-pelan minumnya Bell, ntar keselek loh!" ucap Ega sembari mengelap keringat Bella dari kepalanya.
Rangga yang hampir sampai di depan kelas tiba-tiba menghentikan langkahnya karena melihat Ega yang sedang mengusap-usap kepala istrinya, membuat Rangga merasa cemburu dan ia gak tau lagi harus bersikap seperti apa terhadap Ega yang selama ini berusaha mendekati istrinya itu.
Ditambah lagi dengan bisik-bisik para mahasiswa yang melihat Ega begitu perhatian terhadap Bella.
"Duh sosweet banget sih si Ega, gue yakin deh kalo mereka udah jadian." ucap salahsatu murid yang melewati Rangga.
"Tuh kan gue bilang juga apa, kalo Ega itu emang beneran suka sama si Bella, mereka udah jadian belum ya, soalnya mereka tuh serasi banget tau nggak." sambung murid lain membuat Rangga semakin panas seperti mau terbakar.
Rahang Rangga mengeras ia mengepalkan tangannya di samping dan menghampiri Ega yang masih saja mengusap-usap kepala Bella.
"Kalian sedang apa di sini?" tanya Rangga yang membuat keduanya kaget dan sontak Ega pun melepaskan tangannya dari kepala Bella.
"Eh, bapak. permisi Pak Bell gue ke kelas dulu ya, minumannya buat lo aja." ucap Ega yang langsung melangkah pergi.
"Bella ayok masuk!" ucap Rangga dengan nada dinginnya.
__ADS_1
"I-iya Mas, eh Pak." jawab Bella gelagapan.