
"Dah beres, udah gak keliatan" ujar Amel.
"Oke thanks ya Mel" ucap Bella.
"You're welcome bestii"
"Ya udah yuk kita ke ruang tengah lagi, kasian mereka udah pada nunggu dari tadi" ujar Bella.
"yuk"
Mereka pun kembali menuju ruang tengah untuk menghampiri teman-temannya yang sudah lama menunggu dari tadi. ditambah lagi gara-gara ada insiden tanda merah, jadinya mereka menunggu semakin lama.
mereka berencana untuk pergi ke salah satu tempat wisata di Bali.
para wanita sudah siap dengan pakaian elegan nya, begitu juga para pria dengan pakaian santai nya. Adit yang memakai kaos oblong dan celana selutut serta kacamata yang diselipkan di leher nya, Reyhan dengan kaos tipis dibalut dengan kemeja kotak-kotak serta celana pendek, Reza dengan kaos pendek dengan celana pendek serta topi dikepalainya semakin membuat penampilan nya terlihat keren, sementara Rangga, dia memakai kaos pendek dengan sweater dan celana pendek selutut ditambah kacamata yang bertengger di matanya membuat penampilan nya semakin keren dan tampan...
"Sorry ya guys gara-gara gue, kalian jadi nunggu lama" cicit Bella ketika sudah sampai di depan mereka.
"Tau, heran gue. para wanita emang suka lama kalo dandan, kayak mau ke kondangan aja, padahal penampilan nya pada biasa aja tuh." sindir Adit.
"Apa lo bilang? kita udah capek-capek dandan cantik kayak gini lo bilang kita bisa aja?" syok Sindi.
"Lagian gue dandan cantik juga bukan buat lo kali, bllee" ujar Bella menjulurkan lidahnya.
"Tau nih Adit nyebelin banget, udah lah jangan dengerin orang kek dia. mending kita berangkat sekarang," sambung Amel, mata Amel melirik ke arah Reza yang sedari tadi menatap nya tanpa berkedip.
"Kenapa kak Reza natap gue kayak gitu ya? apa jangan-jangan ada yang salah dengan penampilan gue?" ucap Amel dalam hati sembari membenarkan pakaian nya.
Reza yang ditatap balik oleh Amel hanya bisa menampilkan senyum manis nya.
"Huwaaaaa manis banget senyum nyaa" teriak Amel dalam hati.
Sementara Rangga? jangan ditanya, ia masih terpesona dengan penampilan sang istri.
"Mas, kok bengong?" tanya Bella
"Enggak sayang, kamu cantik banget hari ini" celetuk Rangga membuat pipi Bella memerah.
"Ya ampun Pak Rangga, ternyata bapak ini bisa manis juga ya" kata Adit.
"Apa ada masalah jika saya memuji istri saya sendiri? dan tadi apa kamu bilang, penampilan istri saya biasa aja? itu artinya penglihatan kamu sudah rusak" tanya Rangga kembali berekspresi dingin.
"Ehh enggak kok Pak, bapak bebas muji Bella dan bener kata bapak Bella hari ini cantik banget" ucap Adit yang malah di tatap tajam oleh Rangga.
__ADS_1
Bagaimana tidak, Rangga memang tak suka jika ada pria lain yang memuji istri nya.
"Lah kok gue malah di pelototi gitu sih pak? jadi serba salah gue" gugup Adit menundukkan kepalanya.
"udah udah kalo debat terus kapan berangkat nya?" teriak Bella.
"Baiklah karena semuanya sudah siap, ayo kita berangkat sekarang agar tidak terlalu panas nanti nya, dan untuk kendaraan, saya sudah menyewa mobil" jelas Rangga diangguki oleh semuanya.
Segera mereka menuju mobil yang telah Rangga sewa dan sudah terparkir di depan villa.
"Eh pak Rangga, kok ada di sini?" tanya seseorang yang tiba-tiba muncul di depan villa
"Eh Bli, apa kabar?" tanya Rangga yang ternyata Rangga pun mengenalinya membuat semua orang bertanya tanya.
"kabar saya baik pak, gimana kabar pak Rangga baik?" tanya nya.
"Alhamdulillah saya juga baik" jawab Rangga.
"Mas, dia siapa? kok kalian bisa saling kenal?" tanya Bella heran.
"Oh ini Bli Aji sayang. Bli kenalin ini istri saya Bella " ucap Rangga mengenalkan keduanya.
"Oh ini istri nya pak Rangga. perkenalkan nama saya Aji, pengurus villa milik Pak Rangga di sini" jelas nya.
"OMG Bell, gilaa suami lo yang punya villa ini?" tanya Sindi dengan wajah bingung nya.
"Lah mana gue tau, ini aja gue kaget denger nya" jawab Bella.
"Oh jadi ini istri nya pak Rangga, cantik istri nya. saya do'akan semoga rumah tangga kalian langgeng sampai maut memisahkan" ucap Bli Aji.
"Amiinn! terimakasih Bli" ucap Rangga.
"Bli, nanti uang sewa villa yang ini tolong dikembalikan lagi ya" kata Rangga pada Aji.
"Siap Pak"
"Wah Alhamdulillah duit gue aman," ucap Adit.
"Iya Dit, lumayan tuh buat neraktir cewek" celetuk Reyhan dan dihadiahi cubitan oleh Sindi.
"Aww sakit sayang, kok kamu nyubit aku sih?" lirih Reyhan.
"Kamu ini, bukannya bilang makasih sama Pak Rangga" oceh Sindi.
__ADS_1
"Eh iya, makasih Pak Rangga" ucap Reyhan.
"Iya pak, makasih banyak ya, aku gak nyangka ternyata bapak ini sangat baik hati, ramah tamah, rajin menabung dan tidak sombong" ujar Adit.
"Adiiit ko lo malah bercanda sih, yang benar dong" ucap Amel melotot pada Adit.
"siapa yang becanda Mel, orang gue serius kok. lagian yang aku ucapkan ada benernya ya kan Pak?" ucap Adit.
"Hmmm" jawab Rangga.
"Huuhh gak kebayang deh uang bulanan Bella berapa ya dari pak Rangga" bisik Sindi pada Amel.
Dengan iseng Amel mencolek tangan Bella.
"Bell, jadi penasaran gue. uang bulanan lo berapa dari pak Rangga?" bisik Amel.
"Lah rahasia ibu rumah tangga itu mah" jawab Bella
"Yaelah main rahasia rahasiaan dia" sambung Sindi.
"Ya udah gue kasih tau, sini mendekat. gue bisikin" ujar Bella
Lalu mereka pun nurut dan mendekat pada Bella saking penasarannya.
"Mas Rangga cuma ngasih ini ke gue, katanya sih buat keperluan gue" jelas Bella sembari menunjukkan sebuah kartu berwarna hitam pada Sindi dan Amel.
"Woow black card? gillaaa tajir banget Pak Rangga, lo beruntung banget sih Bell, pak Rangga sampe ngasih black card sama lo" teriak Amel membuat semua yang mendengar menatap pada dirinya.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Rangga.
"Eh enggak kok mas, udah yuk kita berangkat sekarang keburu makin panas cuaca nya" ajak Bella pada Rangga.
Mereka pun masuk ke dalam mobil dan posisi saat ini, Rangga yang menyetir mobil dan Bella duduk di samping Rangga.
"Gue sama Reyhan di kursi tengah ya" ujar Sindi.
"Ya udah kalo gitu gue di belakang" kata Adit.
"Eehh enggak enggak, lo di sini sama kita. biarkan kak Reza sama Amel di belakang" ujar Sindi sengaja mendekatkan Amel dengan Reza.
"Lah kok gitu Sin? gue sama lo aja di tengah ya" ucap Amel.
"enggak, pokonya lo di belakang titik" kekeuh Sindi.
__ADS_1