Maju Selangkah Mati

Maju Selangkah Mati
Hari Yang Membingungkan


__ADS_3

Hari yang membosankan masih aku rasakan, aku masih sangat emosional terhadap perkataan kepala sekolah. Paman Riko menanyaiku perihal wajah murungku.


"Nona, ada masalah apa? kenapa anda terlihat murung apakah saya melakukan kesalahan atau Nona memiliki masalah di tempat olimpiade tadi?" tanya Paman Riko.


"Tidak, hanya pusing saja," aku beralasan pada Paman Riko lalu pura-pura tidur di dalam mobil hal ini aku lakukan agar terhindar dari pertanyaan.


"Baik, maafkan saya Nona," tambah Paman Riko.


Paman Riko menyadari bahwa aku berpura-pura padanya, siapa sangka Paman Riko malah menegurku terang-terangan.


"Nona, tidak usah berpura-pura istirahat. Saya tau Nona menyembunyikan sesuatu, tidak usah di tutup-tutupi dari saya. Walaupun, Nona tidak mengatakannya Tuan Besar pasti akan mendapatkan informasi lengkapnya." Tegur Paman Riko.


Aku bingung harus menjawab apa pada Paman Riko. Sedangkan, Paman Riko terus menekan diriku untuk nengakatakan yang sejujurnya.


"Paaa-Paman, boleh turunkanku di sini? aku ingin tenangkan pikiran dulu!" ku palingkan wajah ini pada jalan.


"Kenapa? Nona takut bertemu dengan Tuan Besar." Paman Riko melontarkan pertanyaannya lagi padaku.


"Kau menantangku? pulang sekarang, tambahkan kecepatan jangan banyak bicara!" secara otomatis aku malah membentak Paman Riko.


Aku paling suka dengan tantangan, setiap tantangan akulah yang harus menang tentunya dengan cara yang adil. Aku memang sedikit berani tapi sebenarnya tidak seperti itu.


Paman Riko menambahkan kecepatan mobilnya sampai tak terkontrol. Akibatnya, aku dan Paman Riko kecelakaannya di jalan raya.


Tak ada seorangpun yang berani menolongku saat kecelakaan terjadi, mobil yang aku tumpangi menggelinding di jalan raya.


Banyak orang yang menonton kejadian ini tapi tidak mau membantu aku. Sebab hal ini, Paman Riko kehilangan banyak darah. Paman Riko sudah tidak sadarkan diri. Sedangkan aku, masih sadar dan merasakan kejadian itu.


Beberapa saat polisi datang, banyak orang yang di tanyakan tentang kronis kejadian tabrakan yang aku alami.


Aku langsung di tolong oleh beberapa orang, orang itu hendak membawaku kerumah sakit karena luka di kepalaku lumayan parah.


"Maaf Pak, ini anak saya namanya Kimmy Xi dia anak bungsuh kita, bawa masuk mobil ya Pak." Hampir saja orang-orang membawaku, ayah dan ibu datang menjemputku kata ayah dan ibu.

__ADS_1


"Tolong teman-teman bantu saya?" meminta pendapat dari teman-temannya.


"Yang malah pergi meninggalkan tempat kejadian perkara atau TKP." Orang itu terlihat sangat kesal pada teman-temannya.


Orang yang menabrakku ternyata sudah meninggal dunia di tempat, padahal aku belum meminta maaf padanya. Kejadian ini, terjadi karena aku yang meminta kepada Paman Riko untuk menambahkan kecepatan mobil.


"Ini semua kesalahanku, aku terlalu egois andai tadi aku tidak menanggapi perkataan dari Paman Riko. Bukan menyelesaikan masalah malah ada masalah baru! Kimmy kau sungguh egois." Aku hanya bisa menyalahkan diri sendiri.


Aku sebaiknya pulang dengan orangtuaku. Aku menyetujui hal ini, karena kepalaku sedang sangat sakit.


Ayah dan ibu memapahku masuk kedalamnya mobil aku kira akan di bawa kerumah sakit ternyata tidak ayah dan ibu hanya membawaku kembali.


Saat di perjalanan, ayah dan ibu tidak mengajakku berkomunikasi sama sekali. Keadaan di dalam mobil sangatlah hening, rasa pusing dan nyeri semakin terasa pada tubuh ini bak di cabik-cabik seekor gagak.


Beberapa menit kemudian, aku dan keluarga sudah sampai di rumah semua orang menyambut kehadiran mobil hitam pekat yang di kemudikan oleh ayah.


Mobil yang tadinya melaju seketika berhenti. Bibi Law membukakan pintu dan langsung memapahku dan membawaku ke kamar. Sedangkan, Paman Riko sudah di bawa kerumah sakit oleh polisi dan orang yang tak sengaja berhenti untuk melihat kejadian ini.


Aku sangat menyesal dengan perbuatanku saat itu. Aku sangat sedih mendengar keadaaan Paman Riko saat ini, rasa kesalku padanya sudah hilang akibat kejadian ini.


Setelah bibi menceritakan hal itu, datanglah seorang dokter. Dokter ini adalah dokter Tama Ji sebenarnya dia adalah dokter pribadi keluarga.


Dokter Tama sangat baik padaku, dia selalu memberikan suplemen yang kualitasnya lebih baik daripada milik kakakku.


Aku tau Dr. Tama sangat menyayangi anak kecil tapi entah kenapa setiap kali bertemu dengannya aku merasakan ketenangan. Tapi, jika berpisah kebahagiaan yang aku punya tiba-tiba ikut sirna juga.


Perhatian dari Dr. Tama sangat membantu dalam proses penyembuhan sekaligus pembelajaran karena dia juga seorang dosen yang masih berusia dua puluh satu tahun.


Aku selalu berharap bisa mengikuti jejaknya sekarang dan masa mendatang, aku sangat mengenal Dr. Tama.


Dr. Tama selalu menganggapku seperti anaknya sendiri walaupun dia belum menikah. Dr. Tama siap mengangkatku sebagai anggota keluarganya.


Keadaanku kian jam, berangsur-angsur membaik, meskipun muak rasanya harus meminum obat setiap hari tapi apalah dayaku. Aku tidak bisa menolak aturan dari seorang dokter.

__ADS_1


Tapi ada kabar buruk yang aku terima dari bibi ini tentang Paman Riko.


"Nona ingin tau sesuatu?" tanya bibi padaku sambil meletakkan segelas susu di meja kamarku.


"Sesuatu apakah itu Bi? tolong beritahu padaku!" aku memohon pada Bibi Law.


"Tapi sebelum itu Nona habiskan dulu susunya baru bibi akan menceritakan semuanya pada Nona." Mengangkat gelas yang berisi susu lalu memberikannya padaku.


"Baiklah, aku habiskan dulu susunya. Baru Bibi cerita padaku." Ku ambil gelas susu itu dan mulai meneguknya secara hati-hati.


Ketika aku meneguk susu itu tanpa sengaja aku melihat bibi sedang tersenyum bahagia. Bibi menatap diriku dengan wajah bahagia aku tak tau apa penyebab bibi bahagia.


Susu yang aku minum sudah habis, aku letakkan gelasnya pada tempat semula. Bibi mulai membuka kedua bibirnya untuk berbicara padaku. Apa yang sebenarnya terjadi pada paman saat ini.


Aku sudah siap mendengarkan semuanya dengan serius. Namun, Tante Alexa Mo datang di waktu yang kurang tepat membuat bibi tidak jadi menceritakan semuanya.


Tante Alexa adalah kakak dari ibuku dia merupakan orang yang bermuka dua itu menurut pandanganku. Tante Alexa baru saja mendarat di kota ini, Tante Alexa membawaku banyak sekali buah tangan.


Aku kira Tante Alexa hanya datang sendiri ternyata aku salah dia di temani oleh Sen Mo putra sulungnya yang umurnya tidak jauh berbeda denganku dan Mei Gu putri bungsu keluarga Gu.


Sen Mo dan Mei Gu adalah orang yang berbanding terbalik. Sen Mo orang yang berdarah dingin sedangkan Mei Gu orang yang sedikit pemalu.


Keluarga ini sebenarnya sangat....


Sekian dulu ya.


Maaf buat yang sering mampir di lapakku tapi aku belum mampir.


Setelah Rabu depan saya akan melunasi semua yang sudah komentar.


Terimakasih happy reading.


Salam hangat dari author pemula ❤️

__ADS_1


__ADS_2