Maju Selangkah Mati

Maju Selangkah Mati
Sebangku Dengan Gadis Misterius


__ADS_3

"Maaf!" Kataku dengan nada dingin.


"Ya." Memalingkan wajahnya.


Guru fisika pun melanjutkan pelajarannya saat di tengah dia menjelaskan aku dengan sengaja bertanya padanya.


"Maaf Bu, bukankah penjelasan itu keliru?" Tunjukku pada arah tulisan yang menarik perhatianku.


"Memang salah! Saya hanya mengetes. Apakah ada anak yang sadar dengan ini?" Judes.


"Oh .... begitu." Menganggukkan kelapaku.


"Kamu terlihat pandai di materi ini! Apa kamu anak yang di banggakan setiap guru itu?" Berjalan ke arahku.


"Tidak juga. Mungkin!" Jawabku dengan sangat singkat.


"Oke ... saya tes saja kalo gitu!" Maju terus sampai di depan papan tulis.


Aku tak menjawab guru itu, ku rasa guru ini ingin mempermainkan diriku. Apalagi murid yang duduk di sampingku selalu mencuri-curi pandang padaku.


Langsung saja aku tegur dia dengan nada dingin.


"Apa?? Kenapa selalu melirikku seperti itu? menyebalkan!" Ku sentak gadis itu.


"Tak ada, biasa saja," balasnya padaku.


"Oh!" Ucapku pada gadis itu.


Bu Aan hanya melihat pertengkaran ku dengan gadis itu tanpa memisahkan atau menghentikan ku.


Mungkin guru itu mulai kesal akhirnya dia berkata.


"Sudah! Cukup!" Pandangan mata membesar.


"Baik!" Ujarku dan gadis itu.


Aku sudah tidak kerasan lagi duduk dengan gadis itu. Seperti biasa aku langsung pergi kelas lain.


"Maaf Bu, aku pamit pergi dulu! Terimakasih sudah menerimaku di kelas Anda." Bangkitlah aku dari tempat duduk yang tak nyaman itu.


"Oke!" Cuek.


Tak ku sangka ternyata gadis tadi adalah orang yang akan menjadi temanku di kemudian hari.


"Aku sudah bosan, lebih baik pulang saja! Di sini sangat tidak enak." Dalam batinku.


Ku telepon Paman Riko untuk menjemputku.


Drrrtttt, Drrrtttt, Drrrtttt ....


"Eh ini telepon dari Nona Muda. Ini masih jam sepuluh, ada apa ya?" Terkejut melihat telepon dariku.


Aku sebel menanti Paman Riko mengangkat telepon dariku.


"Halo! Non maaf, tadi handphone-nya ada di mobil saya lagi di warung mampir ngopi." Alasan Paman Riko.

__ADS_1


"Oke, jemput sekarang!" Aku menggerutu pada Paman.


"Siap, Saya berangkat sekarang," tutur Paman Riko.


Aku menunggu Paman cukup lama hingga bertemu dengan kepala sekolah. Diapun menyapaku dari kejauhan.


"Kimmy .... " Teriak dari kejauhan.


"Iya Pak!" Berteriak balik.


"Sedang apa kamu diluar sana." Lari menghampiriku.


"Aku mau pulang Pak!" Kataku pada kepala sekolah.


"Kenapa? Apa kamu sedang tidak enak badan atau ada yang membuatmu tak nyaman?" Penasaran.


"Tidak apa-apa, Aku hanya ingin pulang Pak!" Aku berbicara jujur saja pada kepala sekolah.


"Ohhh, hati-hati di jalan," ucap kepala sekolah.


"Tidak ada masalah, jika aku pulang Pak." Aku merasa keheranan akibat kepala sekolah.


"Tak apa, kau adalah murid yang berbakat dan berprestasi di segala hal. Anggap saja ini hari libur untukmu." Tertawa kepadaku.


Aku tidak menghiraukan ucapan kepala sekolah. Tak lama, Paman sudah terlihat batang hidungnya. Akhirnya sampai juga Paman Riko.


"Aku pulang dulu Pak! Daaaahhh." Melambaikan tanganku.


"Hati-hati, daaahhhh." Sorak kepala sekolah sekaligus melambaikan tangannya.


Naiklah aku ke mobil. Paman Riko terlihat begitu senang bertemu denganku lagi, entah apa yang membuat dia senang.


"Gak papa, cuman kesel aja." Ku jawab dengan jutek.


"Kita jalan-jalan dulu ya Non, biar Non lebih tenang." Bujuknya.


"Terserah."


Diriku memang berbeda dari Kakakku jika di ajak jalan-jalan dia pasti mau dan bahagia sedangkan untuk menyenangkan hatiku. Caranya dengan membelikan sebuah buku yang isinya sangat menarik jika tidak ya percuma saja membujukku.


Beberapa menit kemudian Paman berhenti di sebuah taman yang cocok dipakai untuk membaca buka. Di sini juga ada perpustakaan kecil, aku bingung dari mana Paman Riko tau bahwa aku suka membaca.


Karena rasa penasaranku, tanyalah aku pada Paman.


"Paman, tau dari mana semua ini?" Menaikkan alisku.


"Gak sengaja, Paman mendengar dari Tuan." Tersenyum.


"Begitukah ... terimakasih Paman!" Ku lanjut berjalan mencari tempat duduk yang nyaman.


"Di sini sangat bagus. Jarang-jarang aku punya kesempatan untuk mengunjungi taman baca. Karena, terlalu sibuk dengan pelajaran dari sekolah." Dalam hatiku.


Akhirnya aku menemukan tempat duduk yang sangat strategis dekat dengan kolam ikan dan perpustakaan kecil.


"Aku duduk di bangku ini saja," ucapku.

__ADS_1


"Nona, Paman tinggal beli ice cream dulu ya." Teriak dengan sangat kencang padaku.


"Baiklah," jawabku.


Kebetulan aku sudah sendiri di tempat ini jadi, aku langsung mengeluarkan semua buku yang bisa aku baca. Buku yang ku punya memang tidak terlalu banyak tapi jangan heran kenapa aku pintar dan jenius. Itu semua karena dalam satu buku yang aku baca sudah mencakup beberapa materi.


Cara memilih buku juga tidak bisa asal ambil. Aku membacanya terlebih dahulu sebelum aku beli. Aku termasuk orang yang jeli dan teliti dalam memilih buku.


Dalam lamunanku.


*Kakakku juga termasuk jeli tapi sayangnya dia kurang mengasah kemampuannya untuk menjadi sepertiku.


Tak masalah masih ada aku yang bisa membantunya belajar. Tapi aku rasa di sedikit tidak suka denganku.


Sudahlah aku tidak terlalu memikirkan perasaan orang lain terhadapku. Mau seperti apa mereka berpendapat tentangku. Aku tidak perduli.


Karena ini kehidupanku kenapa harus mereka yang mengatur bukankan hal yang tidak pantas untuk di lakukan*.


Lama sekali aku menunggu kedatangan Paman. Sudah sekitar satu jam aku menunggu di taman itu, tanpa terasa semua buku sudah aku baca.


"Kemana Paman Riko lama sekali, apa dia lupa sedang bersamaku? Atau dia mengalami masalah?" Muncullah beberapa pertanyaan dalam benakku.


Karena khawatir aku hendak mencari Paman. Tapi, dia sudah kembali membawa dua potong ice cream yang terlihat lezat.


"Pamannnnnn," ku soraki Paman dengan kencang.


"Iya Non. Maaf lama!" Berlari.


Setelah berada di hadapanku Paman langsung memberikan ice cream itu padaku.


"Ini untuk Nona yang cantik dan pandai," sanjungannya.


"Terimakasih Paman." Ku ambil dari tangan Paman yang sebelah kanan.


"Yang satu lagi??" Menyerahkan lagi.


"Untuk Paman saja." Mendorong tangan Paman dengan pelan.


"Terimakasih Nona cantik." Candanya padaku.


"Oke." Ku buka pembalut ice cream itu.


Aku dan Paman menikmati ice cream dengan sangat lahap. Sampai-sampai membuat comot muka ku dan Paman


Melihat ini aku tertawa kecil. Sambil menegur Paman untuk membersihkan sisa ice cream yang menempel pada wajahnya.


"Haha ... Paman ada sisa ice cream yang menempel di wajah hitam manismu!" Makan sembari tertawa.


"Hmmm, maklum gak pernah makan ice cream Non." Membalas tawaku.


"Emang Paman baru kali ini makan ice cream?" Tanyaku pada Paman Riko.


"iya, bisa di bilang begitu." Tetap tertawa.


Ku sodorkan satu lembar tisu pada Paman Riko.

__ADS_1


"Ini Paman, bersihkan wajahmu."


"Terimakasih Non." Mengambil tisu itu.


__ADS_2