
Aku sudah sampai di rumah, rumah ini sangat sejuk dan asri tentu saja karena aku tinggal di sekitar pegunungan. Orang tuaku sangat tidak suka kebisingan kota.
Setiap kali pulang aku pasti akan duduk dulu di halaman depan walaupun sekedar duduk-duduk manis sambil mendengarkan kicauan burung.
Rumah memang adalah tempat ternyaman untuk kita kembali dan merasakan kehangatan, tidak bisa dibohongi bahwa rumah menjadi salah satu kerinduan yang mendalam ketika berada di kejauhan.
Jika sudah merasa bosan aku akan pergi ke taman belakang rumah untuk menyiram bunga dan tanaman. Aku suka menyibukkan diri dengan kegiatan tersebut. Kadang aku di temani oleh Bibi Law juga sesekali.
Bibi Law yang mengajarkan aku menyayangi tumbuhan, bintang dan manusia mungkin salah satunya kamu.
Aku juga suka berkebun meski hanya menanam wortel dan beberapa sayuran lain.
"Bibi, aku ingin menanam ketela pohon di sini bisa tumbuh atau tidak Bi??" Ku pegang benih ketela pohon di genggaman.
"Boleh, bisa hidup asalkan di rawat sepenuh hati," ucap Bibi Law.
Ketika mendengar perkataan Bibi Law aku langsung mencari tempat yang cocok untuk di tanami benih ini. Beberapa saat, aku menemukan tempatnya.
Senang sekali rasanya bisa menanam benih itu. Walaupun, hanya lima benih yang bisa aku tanam sendiri. Sisanya ku berikan pada pengurus kebun.
"Maaf Paman, bisakah kau membantuku menanam benih ini," pintaku pada paman yang berdiri tak jauh dariku.
"Dengan senang hati Nona." Setuju tanpa syarat.
"Baiklah, terimakasih paman." Aku berlari ke arah kran air.
Ku bersihkan tangan yang penuh dengan tanah basah. Tangan imut ini banyak menghasilkan perubahan dalam diriku. Karena tangan ini aku mendapat julukan si pandai.
Seusai mencuci tangan, aku berlari menuju ke ruang makan. Orang tuaku sudah menunggu kehadiranku di meja makan yang luas ini.
Aku langsung duduk dan menunggu giliran mendapatkan jatah makanan. Kebetulan hari ini Bibi Law memasak makanan ke sukaanku.
Akhirnya jatahku sampai juga di tangan imut ini. Dengan tidak sabar aku langsung menyantap makanan itu. Ayah hanya melihatku dan menggelengkan kepalanya. Aku pikir ayah goyang DJ ternyata ayah sedang memperhatikan tingkah lakuku.
Beda halnya dengan ibu dia hanya menapku dengan waktu yang cukup lama. Aku tak merasa jika di perhatikan oleh ayah dan ibu. Sebab hal ini aku terus saja makan seenak hati.
Dalam seketika aku menjadi bahan tontonan di rumah.
__ADS_1
"Sayang, bisakah kamu lebih santai makannya? entar bisa tersedak kalo makannya masih seperti itu," protes ibu.
"Bentar kata Ibumu pelan-pelan saja tidak ada yang akan merebut makananmu!" timpal ayah.
"Maaf." tetap mengunyah makanan yang ada di dalam mulutku.
"Anak perempuan makan kok kayak kucing kelaparan." Celetuk kakakku.
"Sudah, jangan bertengkar di meja makan! Menghilangkan mood saja." Imbuh ibu.
"Lanjutkan makan, setelah ini kita pergi ke taman belakang," balas ayah.
"Yeyyy, asikkkkkk!" teriakan bahagia dari kakak.
"Hemm." Aku geram pada kakaku.
Kakak melanjutkan makannya sedangkan aku sudah kehilangan mood makanku akibat perkataan kakak yang mengiris hati ini.
"Dia, kira siapa dia! Berani sekali mencemooh tentangku." gumamku.
Aku sangat kesal dengan tutur kata kakak jadi, aku memutuskan untuk masuk ke kamar untuk mandi dan berendam air panas. Untuk menenangkan pikiran dan tubuh mungilku ini.
Beranjaklah aku dari bak mandi lalu membukakan pintu untuk orang itu.
"Siapa?" Berjalan ke arah pintu.
"Ini Ayah sayang." Suara dibalik pintu.
"Ada apa Yah," tanyaku pada ayah.
"Ayo ke taman belakang, Ayah ingin bermain denganmu dan Canlan." Ajak ayah padaku.
Sayang sekali aku harus menolaknya karena tidak ingin bertemu dengan kakak yang nyebelin itu.
"Maaf Yah, tugasku sedang menumpuk. Lain kali saja ya Yah." Ku tolak mentah-mentah.
"Kali ini saja." Paksa ayah.
__ADS_1
"Maaf, tidak Ayah." Tetep ku tolak.
Dengan raut wajah sedih ayah meninggalkan kamarku. Aku tau ini sangat tidak pantas tapi jika sudah kesal terhadap seseorang pasti akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Aku merebahkan tubuh mungil ini pada ranjang yang empuk ini. Baruku sadari bahwa ada beberapa materi yang harus aku pelajari untuk lomba olimpiade sains minggu ini.
Seperti biasa aku langsung mencari semua materi yang aku butuhkan baik dari internet maupun buku. Yang aku pelajari hanya dasarnya saja untuk selebihnya hanya mengandalkan kemampuan otak saja.
Sejujurnya aku termasuk anak yang malas nah kalian pasti bertanya kenapa begitu karena aku jarang sekali belajar. Beda dengan kakak yang harus di kebut setiap ada kesempatan.
Akhirnya materi yang aku cari sudah berada di genggaman tanganku. Tanpa basa-basi aku mempelajarinya dengan detail. Sehabis belajar aku biasanya akan mencari sedikit cemilin di dalam lemari es.
Tubuhku memang mungil tapi perut ini masih muat untuk di isi terus menerus. Biasanya ibu yang datang mengantarkan cemilan untukku.
Keluarga ini memang sangat hangat, siapa yang tak betah berlama-lama menginjakkan kakinya di sini. Banyak tamu yang datang ke rumah ini setiap hari baik itu pagi, siang, sore bahkan malam hari.
Rumah ini sangat ramai jadi tak ada alasan untuk merasakan takut saat berada di rumahku. Setiap tempat ada yang menjaga secara ketat dan teliti.
Maklum rumah takutnya ada hewan buas yang singgah di rumah meskipun hewan buas singgah tak ada yang akan menyentuhnya apalagi menyiksa hewan itu. Oh iya, hampir saja aku lupa bahwa di rumah ini sejujurnya banyak hewan buasnya seperti: Citan, Harimau, Singa dan Beruang.
Salah satu dari hewan ini adalah peliharaan pribadiku. Pasti di dalam otak orang normal ini adalah hal yang aneh. Ayahku suka memelihara hewan buas tak perlu heran ini sudah menjadi kebiasaan darinya.
Dulu ayah memiliki banyak hewan buas yang penurut. Namun, ada satu hewan yang sampai saat ini belum ada yang bisa menaklukkan dan menjinakkannya kecuali aku. Hewan itu bahkan sangat patuh padaku aneh bukan. Padahal aku tak pernah berinteraksi sebelumnya tapi ketika pertama kali bertemu hewan ini sangat menyukaiku.
Sejak saat itu hewan ini ayah berikan padaku. Sedangkan kakak belum bisa memilih hewan yang dia mau tak tau apa alasan ayah melarang kakak memelihara hewan buas, malah ayah menggantinya dengan seekor kelinci imut yang saat ini di beri nama cute tidak jauh dengan wajah kelinci itu.
Aku merasa ada keanehan akibat tingkah ayah yang tidak biasanya membedakan aku dan kakak.
Assalamualaikum reades
Selamat membaca dan menikmati alurnya.
Semangat buat yang puasa dan yang tidak ya harus lebih semangat.
Jangan lupa like, komen, rate 5 dan vote.
Supaya aku lebih semangat nulisnya.
__ADS_1
Terimakasih semua 😘😘
Salam hangat dari author pemula ❤️❤️