
Setelah memakan ice cream aku dan Paman langsung pulang ke rumah. Takutnya orang tuaku khawatir terhadap keadaanku.
Aku melanjutkan perjalanan menuju rumah bersama Paman mengendarai mobil yang sangat nyaman. Aku suka tidur juga di mobil itu tapi jika kelelahan saja kalo tidak ya aku di ajak mengobrol dengan Paman.
Di tengah perjalanan menuju rumah ada kakek-kakek yang mengetok kaca mobilku. Aku langsung saja berkata pada Paman untuk membuka kaca mobil ini.
Tokk, tokkk, tokk
"Paman tolong turunkan kaca mobil ini," ujarku sembari melihat wajah lelah kakek itu.
"Baik, Nona." Menekan tombol kaca.
Turunlah kaca mobil ini, aku langsung bertanya pada kakek itu.
"Maaf Kek, ada yang bisa di bantu." Ku nampakkan wajah ini pada Kakek itu.
"Iya Nak, jika boleh Kakek ingin menumpang." Tersenyum sumringah padaku.
Aku tak memandang kondisi Kakek itu. Dia berpakaian kumuh dan bau. Aku tidak risih sedikitpun melihat dan mendengar bau dari pakaian Kakek itu.
Langsung saja aku memberikan tumpangan pada Kakek itu tanpa ada rasa ragu sedikitpun di hatiku.
"Silahkan Kek, naiknya hati-hati takut Kakek terjatuh," ucapku pada Kakek itu.
"Terimakasih Nak." Naik ke dalam mobil.
Aku juga masuk ke dalam mobil menyusul sang kakek.
"Maaf, Kakek tinggal di mana?" Tanya Paman Riko.
"Aku beri arahan saja ya Nak." Menatap wajahku.
Entah mengapa aku merasa ada keanehan pada kakek ini. Dia melihatku berkali-kali membuat risih karena hal itu. Jujur saja aku tak bisa di lihat berkali-kali apa lagi oleh orang asing.
Karena penasaran aku langsung bertanya pada sang kakek.
"Maaf Kek, apakah ada yang salah di wajahku?" Sembari mengusap wajahku.
"Tidak, Anak baik. Kau terlihat cantik, tunggu aku punya sesuatu untukmu." Mengeluarkan jepit yang begitu kuno tapi memiliki keunikan tersendiri
"Ini pakailah, jangan hilangkan jepit ini. Anggap ini sebagai kenang-kenangan dariku." Menyerahkan jepit itu padaku.
"Aku rasa, aku tidak pantas untuk mendapatkan jepit ini." Beralasan agar kakek itu tetep menyimpan jepit yang diberikan padaku.
"Apakah ini jelek? Hingga kau tak mau menerimanya!" Tutur kakek itu dengan sedikit bersedih.
__ADS_1
Aku merasa tidak enak hati melihat kakek itu bersedih. Aku langsung berubah pikiran untuk menerima pemberian kakek itu.
"Maaf Kek, aku terima jepit ini dan berjanji tidak akan pernah menghilangkannya." Ku ambil jepit itu dan langsung memakainya.
Saat aku menggunakan jepit itu, kakek tadi merubah ekspresi wajahnya padaku.
"Terimakasih sudah mau menerima ini dan berjanji untuk tidak menghilangkannya," balas kakek itu.
"Jika boleh tau, nama Kakek siapa?"
"Namaku Samanta bisa di panggil Tanta, Anak baik namamu siapa?" Mengulurkan tangannya dan tersenyum.
"Namaku Kimmy Xi Kakek panggil saja aku Kim." Ku jabat tangan Kakek itu.
Tak lama mobil melaju, aku melihat ada toko pakaian di sebelah kananku. Otakku memerintahkan untuk berhenti dan membeli beberapa baju untuk kakek.
"Paman, bisa balik arah tidak?"
"Bisa Non, apakah ada yang ketinggalan Non?" Balik bertanya padaku.
"Tidak ada, aku hanya ingin membeli beberapa pakaian baru." Aku beralasan pada Paman.
"Baik, kita putar arah sekarang," ucap Paman Riko.
"Terimakasih Paman." Ku beri senyuman manis.
Mungkin hal ini, membuat kakek kaget melihat toko yang besar dan mewah sedangkan penampilan kakek sangat kumuh dan dekil.
Tanpa ragu-ragu aku mengajak kakek untuk masuk ke dalam toko itu. Banyak sekali orang yang menatap dengan tatapan sinis, ada juga yang mencaci kehadiranku bersama kakek.
Aku tetap fokus menuntun kakek ke dalam dan memilihkan beberapa baju. Kebetulan sekali di sana ada kamar mandi jadi aku meminta pelayanan untuk mengantarkan kakek mandi.
"Kak ... maaf boleh tanya kamar mandinya di pinjam untuk mandi?" Ku lambaikan tangan dan berteriak.
"Boleh, boleh." Tersenyum.
"Tolong antarkan Kakek ini ke sana! Jaga dari luar ketika dia mandi takutnya menemukan kesulitan di sana," ujarku.
"Baik." Berjalan mendekati kakek.
Kakek dan kakak itu berlalu pergi menuju kamar mandi. Sedangkan aku sibuk memilihkan pakaian ganti untuk kakek. Untungnya aku sangat mengerti dengan ukuran tubuh setiap orang hanya dengan sekali lihat.
Jangan kaget, aku belajar ini ketika masih SMP sudah lama sekali. Aku sudah menemukan beberapa baju yang cocok untuk kakek.
Sekitar lima belas menitan aku menunggu kedatangan kakek. Akhirnya kakek itu selesai juga mandi. Aku cukup terkejut melihat wajah kakek itu. Dia sangat tampan berbeda dengan tadi.
__ADS_1
Tiba-tiba mulut ini mengeluarkan kata-kata yang lumayan manis menurutku.
"Kakek Tanta sangat tampan!" Ku sanjung kakek itu.
"Kau lebih cantik Anak baik." Menghampiriku.
"Terimakasih Kakek." Senyum malu.
Ku bayar semua barang belanjaan tadi. Tak lupa aku hadiahkan beberapa pakaian baru untuk kakek. Tapi, aku simpan dulu sebagai kejutan untuknya.
Ketika kakek dan aku hendak keluar lagi-lagi banyak orang yang memperhatikan kami dan sekarang malah memuji bahwa kakek sangat tampan.
Manusia memang suka merendahkan orang lain giliran orang itu sudah berubah malah menyanjungnya. Seakan-akan menjilat ludah yang sudah jatuh ke tanah. Sangat menjijikkan.
Paman Riko sudah menungguku begitu lama. Ketika melihat aku dan kakek keluar dia langsung berlari ke arah untuk menjemput kami di sebrang jalan.
Aku merasa nyaman di temani oleh Kakek Tanta ini aneh rasanya. Perasaan hangat seperti keluarga sendiri. Aku kebingungan akibat hal ini tapi aku tetap saja diam.
Aku menyebrangi jalan sendirian sedangkan kakek dan paman masih ada di belakang. Maklum kakek itu lumayan tua, namun tidak mengurangi ketampanannya di usia sekarang ini.
"Kakek ini sangat awet muda, mungkin dia sudah berumur sekitar enam puluh tahunan tapi wajah tampannya masih seperti berusia tiga puluhan saja." Dalam hati.
Paman, aku dan kakek melanjutkan perjalanan, tak jauh dari tempat pakaian tadi Kakek Tanta malah meminta Paman Riko menghentikan mobilnya.
"Berhenti ... berhenti!" Sembari memukul bahu Paman Riko.
"Baik Pak, maaf kelewatan kita mundur lagi ya Pak!" Melihat wajah kakek dan meminta maaf.
"Tidak usah, aku bisa berjalan sendiri Nak. Kamu tidak perlu khawatir padaku." Berusaha membuka pintu mobil.
"Kakek yakin tidak mau aku antar saja." Tawarku pada Kakek Tanta.
"Tidak Nak, nanti merepotkanmu. Ingat jaga jepit itu karena ini milik istriku dulu!" Mengingatkan untuk menjaga jepit yang ku gunakan.
"Pasti aku jaga dengan baik Kek, Hati-hati semoga kita bisa bertemu lagi di kemudian hari."
Kakek itu turun dari mobil membuat hatiku terasa sepi kembali ada apa denganku. Tak biasanya ada orang yang bisa sedekat ini denganku kecuali keluarga kecilku.
"Siapakah kakek itu?" Tanya pembaca.
"Aku juga tidak tau, yang tau hanya Kimmy Xi seorang," jawab author.
Happy reading kak🌺
Terimakasih kak 😘
__ADS_1
Sudah mampir ke novelku 😊
Salam manis dari author pemula 😉