Maju Selangkah Mati

Maju Selangkah Mati
Kenalan


__ADS_3

Bel istirahat sudah berbunyi tidak ada lagi orang di kelas kecuali aku dan laki-laki yang sedang molor dari tadi, aku sangat heran kenapa orang ini sangat kuat tidur bahkan tidak pernah menggerakkan badannya sama sekali.


Aku sempat berpikir bahwa laki-laki ini sudah meninggal dunia tapi tidak ada yang sadar dengan hal ini, aku tentu saja memanfaatkan keadaan ini untuk melihat wajah laki-laki yang sedang tidur pulas ini.


Hampir saja tanganku menyentuh rambut yang menutupi wajahnya. Sayang sekali, laki-laki ini malah bergerak ke arah berlawanan atau lebih tepatnya membelakangi aku.


"Dasar cowok nyebelin, aku cuman mau melihat wajahmu bukan menggores wajah yang kamu punya! Kenapa malah membelakangi aku bikin susah aja mau lihat wajahmu." Aku semakin geram dan mencemooh laki-laki ini di dalam hatiku.


Sekarang yang perlu aku lakukan adalah berdiri di hadapan wajah laki-laki ini. Aku berharap ini akan berhasil, aku sungguh ingin melihat wajahnya.


Kini aku sudah berdiri di hadapan laki-laki ini aku mendekatkan kepalaku pada wajahnya. Ketika aku mendekatkan kepalaku pada wajahnya dia malah membuka matanya dan menggeser rambutnya.


Aku langsung jadi salah tingkah, aku sungguh tidak ingin laki-laki ini salah paham padaku. Akhirnya, aku bisa melihat wajah laki-laki ini. Laki-laki ini sangat tampan matanya yang biru rambutnya yang berwarna pirang menjadi pendorong ketampanannya.


Mata laki-laki ini sangat indah sampai aku tak mau berpaling dari pandangannya. Aku sungguh mati gaya di buatnya bagaimana tidak aku tadi sedang mencoba mengintip wajahnya. Alhasil dia malah bangun dan langsung menatapku dengan aneh.


Aku hanya takut laki-laki ini berfikir bahwa aku akan menciumnya atau melakukan hal yang tidak seharusnya aku lakukan sebagai seorang wanita. Akibatnya, aku langsung mencari alasan agar laki-laki ini tidak salah paham padaku.


"Ma-maaf aku tadi sedang mencari busurku." Aku beralasan dengan wajah sedikit panik.


"Busur? Oh inikah busurmu? Maafkan aku sudah menidurinya." Laki-laki ini sungguh manis padaku.


"Eh, gak apa-apa kok lagian ini salah aku juga meletakkannya sembarangan." Aku mengambil busur yang berada di tangan laki-laki ini.


"Tunggu, kamu terlihat sangat asing bagiku! Apakah kamu anak baru atau gimana?" laki-laki ini mengambil kembali busur yang awalnya sudah berada di tanganku.


"Tentu saja asing, memang benar aku ini anak baru di sini dan sekarang kita teman sebangku." Jawabku sambil menatap busur karena aku tidak berani memandangi wajah laki-laki ini sebab laki-laki ini memiliki sepasang bola mata yang menjerat diriku didalamnya.


"Benarkah kita sebangku? Kenapa kamu mau duduk denganku? Apakah kamu tidak takut padaku?" orang ini melontarkan banyak sekali pertanyaan sehingga aku bingung harus menjawab yang mana terlebih dahulu.


"Bisakah kamu menanyakan itu semua satu persatu agar aku bisa menjawabnya dengan mudah," tururku pada orang ini.

__ADS_1


"Ok, Benarkah aku dan kamu duduk di bangku yang sama?" orang inipun mengulang pertanyaannya.


"Beneran sekali, apakah ada yang salah jika kita satu bangku?" aku juga melontarkan pertanyaan untuk orang ini.


"Tidak, kenapa kamu mau duduk denganku?" laki-laki ini menjawab lalu melanjutkan pertanyaannya yang kedua.


"Aku tidak punya masalah denganmu lalu apa alasan bagiku untuk menolak duduk denganmu." Aku menjawab pertanyaannya menggunakan kelihayan dalam berdebat dengan orang lain.


"Ya, masuk akal juga jawabanmu. Apakah kamu tidak takut padaku?" setelah mendengar jawabanku laki-laki ini memberikan pertanyaan terakhirnya padaku.


"Untuk apa takut, lagian kamu tidak akan menggigit diriku iyakan!" aku menggurui orang ini.


"Tentu saja tidak!" orang ini menjawabku dengan tegas dan langsung berdiri dari tempat duduknya.


"Kenapa kamu berdiri?" aku mulai memasang insting kewaspadaanku terhadap orang ini.


"Kamu kira duduk terus tidak capek! Rasanya kakiku kesemutan saat ini dan aku sangat benci kesemutan." Saat berdiri orang ini menggerakkan kedua kakinya.


"Woiii, ngapain bengong. Lagi mikirin aku dalam lamunanmu ya!" orang ini menggoda diriku.


"Dasar jantan, jangan kepedean deh jadi orang! Hampir saja aku lupa, namamu siapa?" aku sedikit membentak laki-laki ini lalu menanyakan nama laki-laki ini.


Laki-laki ini terlihat seperti kebingungan saat aku menanyakan namanya. Laki-laki ini sungguh unik mana ada orang di tanya nama sendiri terlihat bingung atau lebih tepatnya lupa sama nama sendiri itu sungguh aneh.


"Namaku ... Nugraha Bo dan kamu?" laki-laki ini juga menanyakan namaku.


"Namaku Kimmy Xi, senang berkenalan denganmu Tuan Bo." Balasku dibumbui tawa riang.


"Eh tunggu, Nugraha Bo? Kamu adalah anak tunggal dari keluarga Bo yang sangat kaya di kota ini bukan! Aku sedikit mengingat marga ini ketika Ayahku membicarakan tentang kerjasama dengan keluargamu." Aku melanjutkan perkataanku.


"Sepertinya aku juga tidak asing dengan margamu. Margamu Xi ya? Aku baru ingat Keluarga Xi adalah salah satu saudara dekat Keluarga Bo jika aku tidak akan salah menebak." Tutur Nugraha dengan nada semangat seperti orang yang baru saja menang lotre.

__ADS_1


"Kamu tidak salah keluargaku dan keluargamu memang saudara dekat. Ayah juga sering menceritakan tentang keluargamu saat Ayah memiliki waktu senggang." Aku membernarkan perkataan dari Nugraha.


"Jika tau seperti ini aku tidak akan canggung lagi saat bertemu denganmu," cakap Nugraha.


Aku baru sadar ternyata Nugraha bukan orang yang dingin seperti Antartika tapi Nugraha memiliki sikap hangat seperti Indonesia.


"Oke, semoga kita bisa berteman baik kedepannya Kakak Nugraha." Aku menyalami tangan Nugraha.


"Kenapa kamu memanggil diriku Kakak? Bukankah usia kita sama alias seri ya?" Nugraha kaget mendengar sapaanku padanya.


"Kakak Nugraha lupa ya, aku ini anak termuda di keluarga Xi." Aku berusaha mengingatkan Kakak Nugraha.


"Oh ya? Kamu adalah anak manis yang selalu aku beri permen jika datang berkunjung ke rumahmu benarkah?" Kakak Nugraha berusaha mengingat tentang kenangan saat dia datang kerumahku untuk bertamu.


"Iya Kakak Nugraha benar, aku sering mendapatkan gulali dari Kakak setiap bulan saat Kakak datang bersama om untuk bertemu Ayah atau Ibu." Aku tidak mengelak dari kenyataan yang dikatakan oleh Kakak Nugraha.


"Wah, ternyata kamu sudah SMA juga, Kakakmu kelas berapa sekarang?" Nugraha menanyakan tentang Kakak padaku.


"Kalo tidak salah di baru saja masuk SMP bulan lalu, emang Kakak Nugraha kenapa nanyain Kakakku. Kak Nugraha ada rasa ya sama Kak Canlan ya. Hayo ngaku kamu Kak, gak boleh bohong." Aku berusaha menebak hati Kak Nugraha saat ini.


Hai all🤗


Terimakasih sudah mampir😊


Jangan lupa like, komen, rate 5 dan vote ya😍


Sampai jumpa di bab berikutnya😘


Salam hangat dari author pemula ❤️


.

__ADS_1


__ADS_2