Maju Selangkah Mati

Maju Selangkah Mati
Lima Tahun Yang Lalu


__ADS_3

Saat aku masih berusia sepuluh tahun, kedua orang tuaku sangat menyayangiku tak ada yang di bedakan antara aku dan kakak.


Ibu dan Ayah selalu berusaha menyediakan waktu untuk kami. Meski hanya tiga puluh menit itu sudah memuaskan rasanya.


Aku memiliki sifat usil dari kecil, kalo di lihat dari keluarga tidak ada yang memiliki sifat sepertiku. Apalagi Ayah dia orang yang sangat serius.


Setiap selesai bekerja Ayah dan Ibu membawa oleh-oleh untukku dan kakak. Walaupun hanya sepotong roti dan satu bungkus permen kesukaanku.


Banyak sekali memori bahagia di usia sepuluh tahun itu, hal yang paling aku ingat saat Ibu menyuapiku dengan tangan lembut yang penuh rasa hangat.


Aku memang tidak pernah diantar ke sekolah oleh Ayah tapi itu tak mengapa karena aku selalu berusaha memahami kesibukan yang Ayah miliki.


"Ayah, hari ini aku berangkat dengan siapa?" Tanyaku pada Ayah.


"Maaf putriku sayang, hari ini kamu berangkat dengan Pak Riko saja ya!" Mengelus rambut dan mencium keningku


Tanpa menolak aku langsung pergi ke halaman depan untuk bertemu Paman Riko.


"Paman, ayo kita berangkat sekarang." Cemberut.


"Mari non, tapi ada syaratnya!" Duduk dihadapanku.


"Apa Paman, pagi-pagi gini udah minta sesuatu aja." Aku melirik ke arah Pak Riko.


"Syaratnya mudah cukup tersenyum saja Non." Kembali berdiri.


"Baik, Paman aku senyum ya🙂." Senyum ringan yang aku suguhkan pada Paman Riko.


"Bagus, ayo kita berangkat sekarang." Menarik tanganku dengan lembut.


Didalam mobil Paman Riko mengajakku berkomunikasi. Sayang sekali aku tak pandai berkomunikasi seperti orang lain.


"Non hebat, umur segini sudah kelas dua SMA, sekolah Non juga sekolah kelas elite di tambah lagi Nona bisa lompat kelas setiap tahunnya." Memujiku.


"Biasa saja Paman Riko," jawabku.


"Tidak Non, ini bukan hal yang bisa. Mana ada anak yang sangat jenius seperti Nona. Sangat jarang ditemui. Kakak Non, Non Canlan tidak bisa seperti Nona, buktinya dia masih SD sedangkan Nona sudah SMA perbandingan yang sangat jauh." Paman Riko terus-menerus memujiku.


"Sudahlah, Paman Riko aku mau cek tugasku dulu." Aku membuka tas dan mencari buku tugas milikku.


"Silahkan Non, Anda sangat rajin pantas saja Nona bisa lompat kelas." Masih saja memujiku.


"Terimakasih Paman, tolong jangan ganggu konsentrasiku." Aku meminta Paman Riko untuk diam karena sebenarnya aku muak mendengar pujiannya.

__ADS_1


Mobil yang ku naiki terus berjalan menuju sekolah. Belum juga aku mengecek semua buku tugas ternyata aku sudah sampai di depan sekolah.


Turunlah aku dari mobil itu dan berpamitan pada Paman Riko tak lupa juga aku memberi tahukan padanya untuk menjemput lebih awal daripada biasanya.


"Paman, tolong jemput aku jam sebelas pas. Kalo bisa jangan telat ya Paman," pintaku pada Paman Riko.


"Beres Non, sampai jumpa!" Melambaikan tangannya padaku.


"Oke, bye Paman!" Ku melangkah masuk.


Pergilah menjauh mobil tadi dariku. Aku sangat terburu-buru masuk ke sekolah hingga menabrak seorang gadis imut dengan rambut kepang dua.


"Eh, maaf." Membantu memilih buku yang jatuh berserakan akibat aku tabrak.


"Tidak apa-apa, aku yang seharusnya minta maaf." Menolehkan wajahnya padaku.


"hmm," sahutku.


Setelah kejadian tadi, membuat aku harus berjalan dengan hati-hati. Akhirnya sampai juga aku di depan kelas. Aku sebenarnya anak IPA tapi bisa juga masuk di IPS dan juga Bahasa Indonesia.


Tak ada yang bisa melarangku masuk di kelas yang aku suka. Baik itu guru, wali kelas dan kepala sekolah sekalipun mungkin karena aku pintar. Bisa jadi juga karena aku banyak menyumbang mendali emas setiap minggunya.


Hari ini, aku putuskan untuk mengikuti kelas IPS walaupun sedikit bosan tetap saja harus masuk. Ternyata pelajaran jam pertama adalah tentang hukum, aku menjadi semakin bersemangat mengetahui hal ini.


"Hai anak-anak, gimana kabar kalian hari ini," sapa guru itu kepada semua siswa termasuk aku.


"Eh, di sini ada Kimmy Xi." Tampak heran melihat kehadiranku.


"Iya Bu," balasku pada guru itu.


"Baiklah, sepertinya pelajaran kali ini akan seru. Berkat kehadiran sang jenius Kimmy." Bersemangat sekali guru itu.


"Pasti, pelajaran kali ini tentang materi yang susah," keluh seseorang yang tak jauh dari tempat dudukku.


Benar saja guru itu memang memberikan pelajaran yang susah dan sulit dipahami oleh anak lain, berbeda denganku yang mengerti semua yang guru itu jelaskan.


"Baik anak-anak sampai di sini ada pertanyaan??" Ujar guru itu.


"Saya ... Bu saya." Mengacungkan tangannya keatas.


Banyak sekali orang yang mengacung tangannya. Sampai-sampai membuat guru itu pusing melihatnya.


"Sabar ya anak-anak, satu-satu ya," cakap guru itu.

__ADS_1


Guru itu selalu melihat ke arahku entah ada yang salah atau dia tidak mampu menjawab pertanyaannya.


Akibatnya aku merasa risih di sini, pamitlah aku pada guru itu.


"Bu, maaf saya tinggal dulu ya." Berbalik pergi.


"Oh ya, silahkan." Memberikan izin tanpa ragu-ragu.


Keluarlah aku dari kelas itu. Lalu, mencari kelas lain yang pelajarannya lebih menantang. Daripada hukum seperti hitung-hitungan atau nama lainnya matematika dan fisika.


Kebetulan sekali pas di sebelah kelas tadi, ada guru yang terlihat sangar dia bernama Bu Aan yah dia adalah guru fisika murni.


Ku ketok pintu kelas itu sembari berkata "Permisi Bu, boleh saya bergabung di kelas ini?" Tanyaku dengan sopan pada guru itu.


"Hahhh, tidak salah dengarkan! Kamu kelas berapa jurusan apa??" Melontarkan pertanyaan padaku.


"Saya kelas dua Bu, jurusan saya bebas mau IPA, IPS ataupun Bahasa Indonesia." Jelasku padanya.


"Kok bisa gini ya?? Saya jadi heran. Tunggu di situ saya telepon dulu kepala sekolah sebentar." Heran sekaligus kesal mendengar jawabanku.


"Baiklah." Ku tundukkan kepala sedikit.


"Halo pak, maaf ini ada satu siswa yang bilang jurusan dia semua kelas! Benarkah ini pak?"


"Benar Bu, dia bernama Kimmy Xi. Tolong izinkan dia masuk mengikuti mata pelajaran Anda." Sembari tertawa menjawab pertanyaan itu.


"Siap pak, saya tanyakan dulu mamanya!" Ragu-ragu.


Terputuslah telepon itu, guru itu dengan menakutkan menuju ke arahku.


"Kamu Kimmy Xi??" Menaikkan alisnya.


"Iya, saya Kimmy Xi!" Mendongakkan kepalaku ini.


"Oke, Masuk!" Berbalik.


"Terimakasih," ucapku.


Aku kesal dengan guru ini, kesan pertama kali bertemu sudah sejelek ini apalagi selanjutnya. Maklum dia guru baru jadi tidak terlalu tau menau tentang diriku.


Ku buntutin guru itu. Setelah berada di dalam aku bertanya lagi padanya.


"Mohon maaf Bu, di sini tidak ada bangku kosongkah??" Aku menolehkan kepala pada setiap sudut.

__ADS_1


"Yang lain boleh geser sedikit!" Sindir guru ini pada siswa lain.


Bergeserlah satu anak, mukanya begitu kesal melihatku. Entah apa salah yang aku perbuat padanya hingga tatapan matanya begitu tak mengenakkan.


__ADS_2