
Aku rasa kepalaku sudah semakin membaik dari pada sebelumnya, aku tak sabar ingin segera menemui ayah untuk membicarakan masalahku yang ingin mengundurkan diri dari sekolah.
Dr. Tama memberitahu akibat benturan ketika kecelakaan terjadi menyebabkan aku sedikit mengingat masa kecilku. Hal ini, seharusnya membawa kabar gembira untuk keluargaku tapi anehnya ayah dan ibu sama sekali tidak tertarik dengan berita ini.
Ayah dan ibu menjadi semakin dingin padaku setelah mendengarkan perkataan Dr. Tama. Ini memang bukan hal yang lazim dilakukan oleh orang tua ketika mengetahui anaknya bisa mengingat kembali kenangan masa kecilnya.
Orang tuaku memang aneh bahkan menurutku sangat aneh, orang tuaku selalu bertindak diluar perkiraanku sebagai seorang anak. Ibu dan ayah hanya mementingkan kakak sedangkan aku seperti tak ada urusannya dengan keluarga ini.
Ibu dan ayah tidak pernah menceritakan tentang memori masa kecilku, aku merasa ayah dan ibu menutupi sesuatu dibalik hilangnya ingatan masa kecilku.
Setiap kali aku bertanya pada ayah dan ibu, ayah dan ibu selalu menghindar dariku. Sampai suatu ketika aku benar-benar ingin tau bagaimana masa kecilku.
"Ibu, aku ingin bertanya sesuatu! Bisakah Ibu menceritakan sedikit tentang masa kecilku? Please Bu, kali ini saja." Aku memaksa ibu menjawab pertanyaanku.
"Untuk apa kamu mengingatnya, tidak penting juga iya! Sudah, lupakan saja! Tidak perlu kau bahas lagi! Mengerti!" ibu langsung menjawab pertanyaanku dengan nada tinggi.
"Ada apa sebenarnya di masa laluku? Sepertinya Ibu sangat tidak ingin aku mengetahuinya. Aku curiga Ibu menyembunyikan sesuatu dariku." Balasku
"Stop don't ever ask this silly thing again! I hate hearing these words! Understand!" ibu menggetakku.
"But mom, what are you hiding?" aku menangis sembari menanyakan hal ini.
"やめる!(berhenti!)" dalam bahasa Jepang.
"Bu." Aku lari meninggalkan ibu dengan air mata yang terus bercucuran.
Hasil yang aku dapatkan sama seperti sebelumnya, lagi-lagi ibu marah dan memasang wajah datar padaku.
Aku sangat benci dengan kondisi seperti ini selalu saja ibu menolak menjelaskan semuanya padaku. Memang benar, aku masih sangat muda tapi pola pikirku berbeda dengan orang normal.
Kali ini aku berusaha bertanya pada Paman Ho, aku berharap dia akan menjawab pertanyaanku dengan jujur.
__ADS_1
Aku mencari Paman Ho kemana-mana sayang sekali aku tak bertemu dengannya. Aku sangat bingung harus mencarinya kemana lagi, mungkinkah dia mengambil cuti atau dia sedang berada di luar untuk mengurus sesuatu.
Perkiraanku ternyata benar Paman Ho sedang berada di luar, Paman Ho sedang di perintahkan oleh ayah untuk mengurus sesuatu yang sangat penting.
Aku tau hal ini dari seorang pelayan yang tidak sengaja membicarakan tentang Paman Ho dengan pelayan lain, pelayanan ini ternyata memang sering menggosip dengan temannya.
Pelayan ini mungkin tidak takut terkena hukuman oleh ayah sebab pelayan-pelayan ini di tempatkan pada tempat yang jauh dari cakupan ayah.
Pemandangan ini memang asing jika berada di dalam rumahku tapi mungkin di tempat orang lain tidak. Kenapa peraturan ini ada karena ayahku sangat membenci kebisingan. Seekor nyamukpun tidak boleh terdengar suaranya.
Aku menunggu Paman Ho cukup lama tetapi Paman Ho tak kunjung kembali juga. Aku tetap bersabar menunggunya untuk mendapatkan jawaban yang memuaskan nantinya.
Menunggu memang sangat membosankan, aku adalah orang yang paling tidak suka menunggu. Namun, mau bagaimana lagi hanya demi sebuah jawaban aku melalukan hal ini.
Kejenuhan menghampiriku sudah tiga jam aku menunggu Paman Ho di ruang makan. Akibatnya aku pindah ke halaman depan dan duduk di kursi yang biasa aku duduki setiap pulang sekolah.
Tak berapa lama aku duduk di kursi panjang ini. Akhirnya, mobil yang di bawa Paman Ho memasuki kediamanku. Aku sangat senang melihat hal ini.
Sungguh lelah jika harus terus menunggu di tambah lagi menunggu hal yang tidak pasti seperti ini, tak tau kapan akan keluar dari ruangan pribadi ayah. Bisa saja Paman Ho keluar dari kamar ketika hari mulai gelap.
Aku menantikan Paman Ho tepat di depan pintu masuk ruangan pribadi ayah. Aku hanya bisa bersandar dan pasrah menantikannya.
"Kapan Paman Ho akan keluar, ini sudah setengah jam aku menunggunya di depan pintu ini. Apakah aku harus masuk kedalam dan menanyakan semuanya pada Paman Ho, tapi Ayah pasti akan langsung mengusirku tanpa pikir panjang. Bagaimana sekarang, kakiku sudah mulai lelah berdiri jika terus dipaksakan akan berpengaruh pada kesehatanku." Aku memikirkan bagaimana aku harus membuat Paman Ho keluar dari ruangan ini.
Setelah satu jam aku menunggu akhirnya Paman Ho keluar juga dari ruangan ini, aku yang awalnya duduk dengan bersandar pada dinding langsung berdiri tegak.
"Paman Ho, bisakah kita bicara sebentar? Ada yang ingin aku tanyakan." Aku ajak Paman Ho.
"Maaf Nona Muda, saya tidak bisa sekarang ada beberapa pekerjaan yang harus saya kerjakan sekarang, anda tau sendiri bagaimana konsekuensinya jika saya meninggalkannya." Paman Ho secara terang-terangan menolakku.
"Ini hanya perlu tiga menit saja Paman Ho, please Paman Ho kali ini saja." Kubujuk Paman Ho.
__ADS_1
"Tidak bisa Nona, maafkan saya. Jika memang Nona sangat ingin berbicara dengan saya nanti saja setelah semua pekerjaan selesai. Nanti malam saja saya akan menemui Nona Muda bagaimana?" Paman Ho tetap saja menolakku tapi Paman Ho memberikan saran yang cukup membuatku senang.
"Baiklah Paman, jam tujuh lewat empat puluh menit kita bertemu di taman belakang. Tolong jangan membohongiku, ini sangat penting bagiku Paman. Aku benar-benar butuh bantuan darimu." Jelasku pada Paman Ho.
"Saya tidak berani membohongi Nona Muda, apa kempauan saya untuk menipu Nona. Nona tenang saja saya akan menepati janji saya pada Nona Muda." Jawab Paman Ho dengan sentuhan senyuman.
"Oke Paman, aku tunggu Paman menemuiku nanti malam," ucapku pada Paman.
"Iya Non," Balas Paman Ho dan melangkah perlahan meninggalkan aku di depan pintu ruangan pribadi milik ayah.
Aku sangat puas mendengar apa yang dijanjikan Paman Ho padaku. Kemudian, aku pergi ke taman belakang. Aku sungguh merindukan tempat yang aku temui ketika hari libur minggu lalu.
"lalalalal...." Aku bernyanyi dengan gembira saat menuju tempat itu.
Burung-burung juga ikut bernyanyi bersama denganku. Ini merupakan pertanda baik semoga saja semua yang aku tanyakan nantinya pada Paman akan terjawab satu persatu.
Aku sudah sampai di tempat minggu lalu, tempat ini tetap sepi, sangat tepat untuk menenangkan diri di sini.
Tapi tiba-tiba ketika aku hendak menaiki batu dan aku....
"Thor, lanjut dong jangan bikin penasaran aja!" seru para pembaca.
"Kalian jangan lupa! ini semua hanya Kimmy yang tau, sedangkan aku hanya mengikuti perintahnya saja!" tutur author.
Happy reading😘
Selamat membaca dan mengomentari tulisan ini😁
Terimakasih sudah selalu setia🤗
Tunggu aku dihari Kamis😊
__ADS_1
Salam hangat dari author pemula ❤️