Maju Selangkah Mati

Maju Selangkah Mati
Penjahat Kelas Kakap


__ADS_3

"Aku akan memberitahu padamu kapan waktu saja." Tutur paman sembari berdiri.


"Tapi Paman tapi," aku masih saja memaksa agar paman mengatakan semuanya padaku.


"Sudahlah jangan hari ini lain kali saja aku mohon kamu mengerti keadaan hari ini," paman tetep saja menolak untuk menjelaskan semuanya.


"Janji ya Paman aku ingin tau semuanya tanpa ada yang di tutup-tutupi lagi dariku." Pintaku agar paman berjanji padaku.


"Iya Paman berjanji padamu Nona Muda," paman langsung menyetujui untuk berjanji padaku.


Aku dan paman langsung berpisah, kini saatnya aku mencari bibiku tercinta yang tak tau sekarang berada di mana.


Sekarang aku tak tau harus mencari di mana keberadaan bibi, saat aku mencari sana sini eh seketika bibi lewat di hadapanku sayangnya bibi tidak melihatku malah melewati aku yang berdiri di depannya.


"Bibi, Bibi, aku di sini," aku berlari sambil teriak agar bibi mendengar dan berhenti melangkahkan kakinya.


Terus saja aku meneriakki bibi sayang bibi tetap melangkah dan menjauhi diriku, aku tak terus berlari karena perutku sepertinya bermasalah.


"Gimana caraku untuk mengejar Bibi, aku tidak bisa terus berlari perutku sakit. Bibi tolong berhenti aku mohon padamu." Aku hanya bisa menjerit di dalam hatiku alias menjerit tanpa suara.


Tak pernah aku sangka bibi ternyata dapat mendengar suara hati kecilku ini, secara reflek menolehkan kepalanya dan badannya padaku.


Wajah bibi yang awalnya tegang kini pecah menjadi tawa yang tak bisa aku gambarkan dengan kata-kata.


Aku sangat bahagia ternyata aku dan bibi memang sangat dekat ketika mulut tak bisa di dengar maka hati yang mampu untuk di dengar oleh orang yang sangat dekat dengan kita. Mungkin batinku dan bibi sudah menyatu dengan sangat rapat.


Bibi menuju ke arahku dengan berlari, aku juga tidak memperdulikan rasa sakitku saat ini dan langsung ikut berlari menghampiri bibi.


"Nona Manis yang paling saya sayang," ucap bibi dan tetep berlari.


"Iya Bibi aku di sini, maafkan aku telah meninggalkan Bibi sendirian tadi aku lupa bilang kalo keburu ke kamar mandi untuk pipis," aku beralasan pada bibi.

__ADS_1


Karena aku dan bibi sudah bertemu lagi, bibi mengajakku pulang sebab besok aku masih harus sekolah sedangkan sekarang sudah jam sepuluh malam, aku perlu istirahat sekitar delapan jam agar kesehatanku tetap terjaga.


Tubuhku memang kuat tapi mencegah lebih baik daripada mengobati. Sebelum sakit datang menjemput lebih baik menjaga kesehatan terlebih dahulu. Memang benar sakit tidak bisa di duga kapan datangnya tapi berjaga-jaga adalah salah satu hal yang perlu aku dan bibi lakukan saat ini.


Masalah sakit atau tidaknya biarkan takdir yang menjawabnya, aku kini sudah sedang memesan taksi online kembali di handphon**eku kalo di handphone pembaca mana bisa.


Aku seperti biasanya kembali memesan taksi yang aku pakai tadi alasannya sudah jelas tadi, aku dan bibi kini tinggal menunggu kedatangan taksi yang sudah berhasil di pesan olehku walaupun taksi ini terlambat sekitar empat puluh lima menit karena sedang mengantarkan orang lain juga.


Di tempat ini memang ramai kendaraan umum lewat namun bibi tidak mau ambil resiko apalagi ini sudah larut takutnya terjadi hal yang tidak di inginkan oleh bibi.


Baru saja aku dan bibi keluar dari tempat perbelanjaan di tepi jalan ini malah ada orang yang mencurigakan seperti sedang mengincar sesuatu dari bibi, aku tetap tenang karena bibi dulunya adalah atlet karate ternama dan aku salah satu muridnya saat ini.


Jika orang ini berbuat macam-macam siap-siap saja patah tulang akibat pukulan bibi yang sangat keras, umur bibi memang terbilang nenek-nenek tapi masalah banting membanting bibi masih kuat bahkan tenaga yang di gunakan hanya satu perempat saja.


"Bibi sepertinya ada yang ingin berniat jahat kepada kita," aku berbisik kepada bibi.


"Kita kerjain saja gimana Non, kita lihat siapa yang lebih pandai. Kita atau penjahat abal-abal satu ini." Bibi membalas bisikanku dengan menundukkan kepalanya.


"Bibi mau kalo Nona buat dia jera gimana, sambil lalu mengetes kemampuan Nona sudah sampai di mana." Bibi mengedipkan matanya padaku memberikan pertanda bahwa aku harus melakukan rencananya sekarang.


Aku mengerti apa yang di maksud oleh bibi jadi aku belagak seperti terpisah dari bibi, aku tau orang itu pastinya mengincar bibi yang sudah tua karena menurut pemikiran orang umum yang tua adalah orang yang lemah.


"Kasian sekali orang ini, berniat jahat pada orang yang salah bukannya dapat sesuatu yang berharga malah dapat babak belur akibat kelakuan aku dan bibi nantinya. Kerjaan di sini banyak tapi masih banyak saja orang yang menggunakan cara yang salah seperti ini. Sungguh aku kecewa pada orang yang melakukan kebodohan hanya untuk materi." Aku sebal sekali hingga menghentakkan kaki dengan sangat keras.


Kehidupan memang susah untuk di taklukkan siapa yang berusaha dia yang menang itu adalah kata orang bijak tapi memang bener jika tidak usaha lalu untuk apa ada tenang.


Pola pikir manusia sungguh tidak bisa di tebak oleh beberapa orang dan ada juga yang bisa menembaknya dengan sangat mudah bahkan sampai mengetahui apa yang ada di dalam pemikiran orang itu dengan sangat jelas.


Di sisi lain....


Bibi sudah mulai memainkan triknya pada orang jahat satu ini, bisa di bilang si bibi adalah orang yang sangat pandai dalam berakting.

__ADS_1


"Nak tolong bantulah aku mengejar Cucuku yang pergi barusan." Bibi pura-pura memasang wajah sedih di hadapan orang jahat ini.


"Baiklah Bu," orang ini langsung memapah bibi untuk mengejar diriku.


Orang ini sudah masuk dalam jebakan maut milik bibi.


"Nak sepertinya Cucuku pergi ke arah sana," bibi mengajak orang ini ke tempat yang sepi dengan cara halus hingga orang ini tidak sadar bahwa dirinya sedang dalam bahaya.


Aku sudah menunggu bibi di tempat yang sepi seperti yang bibi bisikkan padaku sebelum berpencar, yang di tunggu akhirnya mulai terlihat.


Bibi sungguh berhasil melakukan ini tanpa kehilangan barang yang bibi bawa satupun. Bodohnya orang ini tetap saja memapah bibi hingga berada di hadapanku.


"Terimakasih Om sudah mengantarkan Nenekku kesini," kataku dengan sangat santai.


"Ya, sama-sama." Jawab orang ini sembari mengarahkan tangannya pada tas yang di bawa oleh bibi.


Orang ini malah nekat tetap ingin mengambil sesuatu dari bibi. Orang ini tidak tau kalau dirinya akan aku beri pelajaran tanpa ampun kali ini.


Hi all 🤗


Terimakasih sudah mampir ke lapakku 😊


Jangan lupa like, komen, rate 5 dan vote ya 😍


Tinggalkan jejak juga supaya mudah feedback-nya 😉


Tenang feedback langsung nyusul ya besok 😘


Kasih saran juga boleh 🥰


Salam hangat dari author pemula ❤️

__ADS_1


__ADS_2