
Setelah bibi mengeluarkan barang yang diberikan oleh Paman Riko. Aku hanya bisa menatap barang pertama dan terakhir yang Paman Riko berikan padaku.
Aku sangat terharu Paman Riko memberikan aku sebuah cincin yang sangat unik. Ada tulisan juga dibalik cincin ini. Sayang sekali aku tak bisa memahami arti dari cincin ini.
Huruf cincin ini menggunakan aksara kuno yang sulit untuk di baca oleh orang lain, termasuk aku. Cincin ini memang terlihat sangat cantik dan baru, siapa yang menyangka bahwa cincin ini memiliki sebuah tulisan kuno.
Hadiah yang diberikan oleh Paman Riko langsung aku pakai, aku tidak akan pernah melepaskannya dari jariku karena ini adalah benda yang bisa menghilangkan rasa rinduku pada Paman Riko.
Ayah dan ibu sangat kejam bagaimana bisa ayah dan ibu tidak menyampaikan kabar buruk ini malah meminta semua orang untuk diam dan tidak membicarakan masalah Paman Riko.
Rasa sedih dan kecewa semakin bercampur aduk akibat hal ini aku tidak konsentrasi dalam memilih bahan-bahan perlengkapan sekolah.
Hati ini masih sangat hancur tapi aku juga tidak bisa terus menatapi semua ini. Aku harus bangkit dan terus melanjutkan jalan hidup ini.
Cukup lama aku menunggu ayah di dalam mobil. Sedangkan, sopir baru yang ayah pilih sepertinya tidak memiliki jiwa keramahan pada orang lain. Dari awal aku masuk sampai sekarang sopir ini hanya diam tanpa suara.
Suasana sangat canggung saat berada di dalam mobil. Sopir ini seperti robot saja dia hanya diam dan fokus pada arah depan. Seakan-akan tidak pernah ada aku di mobil ini.
Ayah sudah mulai terlihat batang hidungnya, aku lumayan senang sebab ayah sudah siap untuk berangkat. Ayah membuka pintu sambil lalu menyuruh orang untuk membukakan pintu gerbang.
Rumahku memang sangat besar tapi terletak di pegunungan, banyak orang yang menganggap rumah ini sebagai villa milik keluarga Xi padahal ini adalah rumah.
Aku dan ayah sudah berada di dalam mobil. Ayah memerintahkan kepada supir untuk menuju sekolah kelas atas yang berdiri di perkotaan.
"Ayah, kenapa kita menuju arah kota?" aku bertanya dengan menunjukkan ke arah depan.
"Memang kenapa? Ayah hanya ingin kamu sekolah di kota saja jangan di tempat kumuh lagi seperti kakakmu yang sudah lama di kota." Ujar ayah sambil menatap wajahku.
__ADS_1
"Ya Ayah benar tapi Ayah Kakak sudah lama tinggal di apartemen kota sedangkan aku sama sekali tidak pernah." Aku beralasan pada ayah.
"Makanya besok kamu harus belajar tinggal di kota, di kota sangat nyaman apapun yang kamu butuhkan pasti tersedia di sana." Jelas ayah dibumbui senyuman.
Aku sangat jarang melihat senyum ayah bahkan bisa dibilang tidak pernah sama sekali namun hari ini aku bisa melihatnya.
"Tapi aku minta satu permintaan kecil Ayah, bolehkan?" aku mengajukan satu permintaan kepada ayah tanpa rasa ragu sedikitpun.
"Katakan dulu apa yang kau mau, baru setelah itu aku putuskan iya atau tidaknya." Tutur ayah tanpa ada ekspresi.
"Aku mau tinggal di kota sendiri asal Bibi juga ikut denganku. Gimana bisa ya Ayah?" kusatukan kedua telapak tanganku.
"Bisa, besok kalian berdua berangkat apartemennya akan aku siapkan nanti malam dan semua barang yang kamu butuhkan akan di sediakan nantinya." Jawab ayah.
"Okay, aku setuju Ayah." Balasku sembari tersenyum.
"Ingat semua ini tidak gratis kamu harus membayarnya dengan prestasimu jika tidak kamu tanggung sendiri akibatnya." Ayah memperingati aku.
"Oke kita lihat saja hasil yang kamu berikan padaku nantinya jika mengecewakan jangan harap aku membanggakan kamu lagi. Pasti kamu akan aku buang jauh-jauh." Ucap ayah.
"Ya kita lihat saja!" seruku sekaligus mengakhiri percakapan dengan ayah
Sejujurnya aku sangat tidak suka pekotaan, mau bagaimana lagi aku tak bisa menolak kemauan ayah. Jika tidak aku pasti akan mendapatkan hukuman yang sangat berat darinya.
Aku meminta permintaan itu agar nantinya aku bisa ke pemakaman Paman Riko walaupun hanya sebentar setidaknya aku bisa melihat tempat peristirahatan terakhirnya.
Perjalanan aku dengan ayah cukup cepat. Akhirnya, aku dengan ayah sudah sampai di depan gerbang sekolah Ebacir. Sekolah ini adalah salah satu sekolah kelas atas yang memiliki banyak jurusan dan fasilitas bagi seluruh siswanya.
__ADS_1
Sekolah baru ini sangat asing bagiku, meskipun demikian guru-guru yang ada di sini sangat ramah padaku. Mungkin karena aku masih anak baru, aku tidak bisa menjamin semua jika hanya di awal saja.
Seragam sekolah ini sangat bagus baik dari bahan dan warnanya sungguh mengikuti seleraku. Aku juga di berikan kebebasan oleh guru-guru dan kepala sekolah yang bernama Ida Ca. Kepala sekolah di sini adalah wanita yang sangat hebat.
Kepala sekolah sangat baik padaku. Kepala sekolah juga tidak sombong beda dengan kepala sekolahku yang dulu.
"Wahai Kimmy apakah kamu suka suasana sekolah ini? Kapan kamu akan bergabung dengan keluarga besar kami ini?" ibu kepala sekolah langsung menanyakan sesuatu padaku.
"Aku sangat suka sekolah ini, fasilitasnya sangat lengkap dan aku akan bergabung dengan sekolah ini besok." Jawabku dengan nada sopan.
"Bagus, semoga kamu bisa memberikan contoh pada anak-anak yang lain ya besok! Oh iya, kamu akan mengambil jurusan apa?" kepala sekolah sangat senang mendengar perkataanku lalu kepala sekolah bertanya lagi padaku.
"Di sekolah lamaku aku bebas masuk ke semua jurusan, itu adalah satu hadiah yang diberikan oleh pihak sekolah padaku. Jadi, aku tidak bisa memutuskan untuk mengambil jurusan apa saat ini karena semua jurusan sangat aku sukai." Aku menjelaskan pada kepala sekolah agar dia juga memberikan aku kebebasan seperti sekolah lamaku.
"Baiklah Kimmy aku sekarang sudah bisa memutuskan kamu akan aku berikan hadiah karena kamu adalah anak yang sangat berprestasi. Hadiah yang aku berikan adalah kamu bebas masuk di kelas manapun aku akan menyampaikan ini pada semua wali kelas." Kepala sekolah tanpa ragu langsung memberikan aku hadiah.
"Terimakasih Ibu kepala sekolah, aku tidak akan menyia-nyiakan hadiah yang ibu berikan padaku." Aku langsung mengucapkan rasa terimakasihku pada kepala sekolah.
Sebagai besar guru-guru yang ada di sekolah baruku ternyata mengenal diriku. Semua ini akibat dari seringnya aku mengikuti lomba sampai guru yang ada di sini tidak bisa memalingkan pandangannya padaku.
"Eh, diakan Kimmy Xi seorang murid yang selalu membawa piala emas setiap minggu untuk sekolahnya kenapa dia ada di sini?" ucap satu guru dan bertanya pada guru lain.
Guru yang satu lagi sangat fokus memandangi diriku sampai dia....
Terimakasih sudah mampir 😊
Jangan lupa like, komen, rate 5 dan vote biar aku lebih semangat lagi nulisnya.
__ADS_1
Minal Aidin Wal Faizin Mohon Maaf Lahir dan Batin 🙏
Salam hangat dari author pemula ❤️