
Bu Sinsu ternyata adalah wali kelas IPA 1, kelas yang di bina oleh Bu Sinsu adalah kelas terpopuler serta fasilitasnya terlengkap daripada kelas lain. Banyak siswa yang ingin sekali masuk kelas ini tapi sayangnya modal masuk kelas ini sangatlah sulit menurut beberapa orang.
Sungguh suatu kehormatan bagi diriku mendapatkan ajakan untuk menjadi bagian di kelasnya walaupun tidak menetap seperti siswa pada umumnya. Bu Sinsu juga tau bahwa aku bebas dan tidak terikat dengan kelas manapun.
Kelas ini memang sangat lengkap dan siswa yang ada didalamnya juga sangat rapi dan disiplin tidak ada satupun yang acak-acakan. Aku juga baru tau bahwa aku saat ini sekelas lagi dengan wanita yang menyebalkan tadi.
Akhirnya, guru menyuruh diriku memperkenalkan diri pada siswa lain tentu saja dengan kelihayanku aku bisa memperkenalkan diri sesuka hatiku.
"Hai, selamat pagi anak-anak! Pagi ini kita kedatangan anggota baru. Silahkan masuk!" panggil Bu Sinsu dengan melambaikan tangannya padaku sebagai arti bahwa dia sedang memanggil diriku.
Aku langsung masuk kedalam kelas, suasana di dalam kelas ini sedikit kacau.
"Terimakasih Bu, hello all perkenalkan namaku Kimmy Xi. Hobiku membaca dan menulis, aku pindahan dari sekolah lain. Nice to meet you all." Aku menyapa siswa lain sekalipun memperkenalkan diri.
"Hai Kimmy, nice to meet you too." Serentak semua siswa menjawab perkataanku.
Ada beberapa siswa yang mengabaikan perkataanku, salah satunya adalah siswa yang duduk di belakang dan kelihatannya sedang tertidur pulas.
"Baiklah Kimmy, silahkan duduk di sana." Guru Sinsu menunjuk ke arah anak yang sedang tidur di belakang.
"Okay Bu, terimakasih." Jawabku tanpa menolak karena aku penasaran pada wajah laki-laki yang sedang tidur itu.
"Hehehe, akhirnya si pemalas ada teman sebangku setelah sekian lama." Ejek beberapa siswa.
Aku baru sadar bahwa di kelas ini juga ada yang namanya Dani Zi, dia adalah ketua kelas di sini. Dani sesekali melirikkan matanya padaku, aku berpura-pura tidak tau agar Dani Zi bisa stop memandangi wajahku.
Laki-laki yang ada di samping tempat dudukku ini sangat misterius, dia tidak pernah mendongakkan kepalanya dan tidak ada satupun guru yang menegur tingkahnya yang kurang sopan ini. Laki-laki ini terus tertidur walaupun pelajaran berjalan.
__ADS_1
Dua jam aku duduk dengan laki-laki ini, entah mengapa semakin lama aku semakin ingin melihat wajah laki-laki ini secara paksa. Aku menunggu waktu istirahat tiba karena aku sudah merencanakan untuk melihat wajah laki-laki ini.
Jam pelajaran terus berganti tidak ada satu gurupun yang mengusik tidur laki-laki ini, namanya juga tidak pernah di sebut oleh guru dan anak-anak lain. Hal ini, semakin membuatku penasaran.
Semua guru mapel memberikan tugas individu pada kami. Entah kenapa aku ingin membangunkan laki-laki ini agar dia juga dapat mengumpulkan tugasnya pada guru mapel.
Ketika aku hampir meletakkan tanganku pada lengan laki-laki itu Dani malah memanggil namaku. Aku merasa sedikit geram pada Dani, dia sudah merusak rencanaku untuk membangunkan laki-laki ini.
Dani meminta diriku untuk mengambil jurnal baru di ruang guru. Aku tidak mengerti dengan alasan Dani sebab aku bukan bagian dari anggota pengurus kelas, aku hanya sekedar anggota biasa.
"Kenapa Dani menyuruh diriku padahal aku ini siswa baru bagaimana caraku mengetahui letak jurnal itu berada. Memang sekertarisnya gak ada? Bikin emosi aja, aku ini murid baru kenapa harus ikut terjun pada urusan kelas lalu apa gunanya ada para pengurus kalo masih menyusahkan orang lain." Aku malah marah-marah di dalam batinku. Hal ini, sengaja aku lakukan karena aku masih baru di sini andai saja aku siswa lama mungkin aku akan protes atau komplen pada ketua kelas gak becus ini.
Aku keluar dan mencari ruang guru untuk mengambil jurnal yang di minta oleh ketua kelas yang aneh itu. Aku tidak kerepotan saat mencari tempat ruang guru karena sebelumnya kepala sekolah sudah mengajakku berkeliling dari tempat satu ke tempat lain.
Apa yang dilakukan oleh kepala sekolah sungguh sangat bermanfaat bagiku saat ini. Dengan mudahnya aku menemukan tempat ruang guru dan langsung bertanya tempat penyimpanan jurnal pada petugas yang ada di sana.
"Maaf Pak boleh aku bertanya," cakapku pada orang yang sedang bertugas.
"Tempat penyimpanan atau pengambilan jurnal di sebelah mana ya Pak, maaf aku anak baru di sini. Jadi, kurang memahami yang ada di sini." tanyaku pada orang ini sembari menggaruk-garuk pipiku.
"Tinggal lurus belok kiri sedikit, terus ada meja besar ke kanan. Itu aja petunjuknya gak ribetkan." Ucap orang ini dengan wajah datarnya.
"Baiklah terimakasih Pak." Aku meninggalkan Bapak ini.
Bapak itu hanya memandangi jalanku, mungkin Bapak itu tidak percaya bahwa aku adalah salah satu murid di sini. Aku tidak terlalu memperdulikan masalah ini, intinya aku harus mendapatkan jurnal lalu kembali ke kelas dan membangunkan laki-laki itu.
Lumayan lama aku melangkah akhirnya aku sampai juga di tempat yang di maksud oleh Bapak tadi sekaligus ketua kelas nyebelin itu. Aku langsung mengambil dua buah jurnal karena aku tidak ingin bolak-balik ke ruang guru.
__ADS_1
"Yes, akhirnya dapat juga ini jurnal. Hehehe ketua kelas, kamu kira bisa mengerjai aku dengan cara kuno seperti ini. Aku bukan orang tak berotak hal sepele seperti ini saja kau membuat aku kerepotan. Dasar ketua kelas manja," ucapku dalam hati sembari berjalan menuju kelas.
Di perjalanan menuju kelas aku melihat seorang guru yang sudah lansia mengangkat sesuatu yang kelihatannya sangat berat. Aku langsung menghampiri guru ini dan membantunya membawa barang yang sedang dia bawa di tangannya.
"Maaf Bu, tolong jangan tolak saya. Bisakah saya membantu Ibu." Aku izin terlebih dahulu pada guru ini.
Guru ini sepertinya sudah sedikit kurang mendengar jadi aku memutuskan untuk mengambil barang yang dibawanya.
"Maaf Bu," aku mengambil barang yang Ibu guru ini bawa. Benar dugaanku barang ini lumayan berat.
Tidak ada satupun orang yang mau membantu guru ini, padahal guru ini terlihat sangat butuh bantuan dari anak muda seperti aku. Aku sungguh menyayangkan sikap siswa yang hanya melihat guru ini membawa barang berat tanpa ada niatan membantunya.
Aku bertanya kemana barang ini hendak di bawa oleh guru ini.
"Bu barang yang Ibu bawa ini mau diletakkan di mana?" aku bertanya dengan nada sedikit keras agar guru ini bisa mendengar perkataanku.
"Letakkan saja di perpustakaan Nak, terimakasih sudah menolong saya." Ujar guru ini.
"Tidak masalah, Bu guru bisa kembali saja ke ruang guru. Biar saya yang membawa semuanya ke perpustakaan." Balasku pada guru ini.
"Terimakasih Nak," guru ini berbalik ke arah ruang guru.
Hai all 🤗
Terimakasih sudah mampir 😚
Jangan lupa like, komen, rate 5 dan vote 😊
__ADS_1
Semangat jalani hari 🥳
Salam hangat dari author pemula ❤️