
"Akhirnya, libur sudah tiba semua ini terasa membosankan. Kemarin ulang tahun si Canlan idiot itu, aku rasa sekarang perlu jalan-jalan sebentar untuk meringankan beban yang ada di otakku," tuturku dalam hati.
Aku memejamkan mata sebentar agar merasa lebih nyaman untuk bangun. Suara langkah kaki mendekati kamarku, aku hanya diam dan tetap membaringkan tubuhku ini. Tak ingin rasanya aku bangun dari tempat tidur ini.
Suara langkah itu semakin dekat, semakin dekat dan semakin dekat. Traaa! ternyata itu adalah ibu yang datang untuk membangunkanku.
"來吧 寶貝, 醒! (Ayo sayang, bangun!)" Meneriakiku dalam bahasa Cina.
"等等媽媽! (tunggu ma!)" Balasku dalam bahasa yang sama.
"sa'astahim, umiy. (aku mandi dulu ma.)" Aku melanjutkan perkataanku dengan bahasa Arab.
"Baiklah, cepet turun! Semua sudah menunggu." Melangkah pergi.
"Oke, ma!" Aku bangun dari ranjang.
Aku bangun dan menggerakkan badan lalu pergi mandi, aku adalah salah satu orang yang gila bersih. Tentu saja aku benci kotor ibu juga tau hal ini.
Hari ini aku ingin sekali mandi air hangat dan berencana sedikit lama di bak mandi. Aku biasa melakukan hal ini setiap hari mau itu sekolah ataupun libur.
Akibat terlalu lama berendam sampai-sampai aku lupa waktu untuk sarapan padahal keluargaku sudah menunggu dari tadi sekitar satu jaman lamanya.
"Eh, aku lupa ayah dan ibu sudah menunggumu di bawah!" Aku langsung keluar dari bak mandi.
Aku berlari dengan buru-buru agar tidak di marahi oleh ayah.
"Aduh, harus cepat pakai baju dan langsung ke bawah. Gimana sih aku bisa lupa?" Gumam sembari ku mengenakan pakaian.
Selesai mengenakan pakaian aku mulai berlari keluar kamar menuju ke ruangan makan. Aku benar-benar kelelahan akibat terlalu sering berlari.
Sampailah di ruang makan, aku melihat semua orang sudah mulai menatapku dengan pandangan sinis.
"Maaf, maaf. Aku terlambat," ucapku.
"Sudah jam berapa ini, kamu ingin kita semua mati kelaparan menungggumu!" Bentak ayah.
__ADS_1
"I'm sorry! I will not repeat it Daddy!" Bujukku pada ayah.
"Alright, sit down and finish your meal quickly!" Ujar ayah sembari menatapku.
Tanpa menjawab aku langsung saja duduk seperti perintah ayah. Aku dan semua keluarga mulai menyantap makanan masing-masing.
Acara sarapan pagi ini sangat menegangkan bagaimana tidak semua orang hening tidak ada yang berani mengatakan sesuatu. Karena itu, aku makan dengan buru-buru sehingga mengakibatkan aku tersedak.
"Uhk, uhkk." Aku batuk-batuk
"Makanya kalo makan pelan-pelan." Tegur ibu.
Aku mengambil air di sampingku dan langsung minum. Tenggorokanku terasa lega setelah minum air.
"Iya, Bu," balasku.
"Hmm, dasar anak jaman sekarang. Tidak bisa hati-hati!" Timpal ibu.
"Benar sekali sayang, anak jaman sekarang mana ada yang hati-hati." Ayah ikut memarahiku.
Aku sungguh muak mendengar makian dari ayah dan ibu. Akhirnya, aku memutuskan tidak melanjutkan makan dan pergi dari ke kamar.
"Sudah, mungkin dia sudah kenyang." Membuat Alasan.
"Kenyang, mana bisa kenyang baru makan tiga suapan sudah kenyang. Aneh," imbuh kakak.
Ayah, ibu dan kakak melanjutkan sarapannya. Sedangkan aku, tidak jadi kembali ke kamar. Aku memutuskan pergi ke taman belakang. Di sana adalah tempat yang paling cocok untuk membaca buku yang baru aku beli kemarin.
Di sisi lain ....
Kakak sedang berusaha menjatuhkan aku di hadapan ayah dan ibu. Memang darah lebih kental dari pada air tapi hal ini tidak berlaku di keluargaku, hanya orang yang pandai dan jenius yang di percaya.
Aku memang pandai dan jenius tapi keluargaku tidak memandang hal ini. Apalagi kakakku yang sok pintar itu, dia hanya manis di depan sedangkan di belakang pahit dan seorang pendusta.
"Dad, kau tau sesuatu? Adik tidak akan mungkin menghargai kalian berdua! Kenapa aku berkata begitu karena, Adik adalah orang jenius dia tak akan mendengarkan kalian." Menjelekkanku di hadapan ayah dan ibu.
__ADS_1
"Mungkin memang benar, orang pintar tidak pernah tunduk pada yang bodoh! Tapi, Ayah adalah orang yang pandai," jawab ayah.
"Ibu juga orang yang berpendidikan tinggi, kenapa Kimmy tidak akan mendengarkan Ibu? Apa dia merasa bahwa dirinya sudah sangat pandai begitu!" Berdiri dan menjawab perkataan kakak.
"Aku tau, kita semua dari keluarga yang terpandang dan berpendidikan. Adik memang sangat sombong buktinya dia tidak menghargai kalian!" Balas kakak.
"Rasakan itu, adikku sayang kamu kira aku hanya akan diam melihat kau berada di langit! Hehe, jangan bodoh aku akan menghancurkan kamu! Jika bisa aku ingin kau sengsara setiap detik!" Dalam hati kakak.
"Kita lihat saja nanti, siapa yang lebih pandai!" Tutur ayah.
"Benar, bocah seperti Kimmy mana bisa melawan kita berdua!" Ibu geram mendengar ucapan kakak.
Aku sudah mengambil buku di ruang baca, ku mulai dengan mencari suasana yang enak dan hanya ada aku di sana tanpa ada orang yang bisa mengganggu ketenangan yang aku dambakan.
Tempat itu sudah aku temukan, tempatnya begitu indah banyak pohon rindang dan tebing. Aku menaiki batu besar yang ada tepat di hadapan wajah ini. Aku duduk di atas pohon yang cabangnya begitu besar tentu saja itu juga kokoh.
Pohon yang aku dudukki sangat rindang sampai daunnya seperti menutupi semua area badan pohon utama. Aku sangat senang, tidak ada yang bisa menggangguku.
"Huuuhhhh, baru tau di sini ada pohon yang sangat nyaman mungkin aku bisa beristirahat juga di sini." Ku sandarkan badanku pada pohon itu.
"Baca buku ini dulu deh, habis ini istirahat juga di pohon ini," ucapku sembari membuka halaman buku.
Aku mulai membaca buku itu, tak lama aku mendengar kicauan burung yang begitu indah takku sangka aku terbawa alunan suara indah burung itu.
"Merdunya kicauan burung ini, membuatku ingin memejamkan mata indahku. Sudahlah, aku pejamkan saja sebetar agar bisa lebih menikmati kicauan merdu ini." Ku pejamkan mata ini.
Baru saja aku memejamkan mata, aku mulai merasa mengantuk tapi aku tetap berusaha terjaga. Burung itu terus berkicau, membuat pikiran kacauku tadi sedikit lebih baik.
"Seekor burung saja bisa membawa ketenangan, kenapa ayah dan ibu tidak bisa memberikan hal yang sama padaku. Benar memang alam selalu mendukung kita dari belakang tapi kita tidak sadar akan hal ini, aku baru saja membandingkan kedua orang tuaku dengan alam. Apa yang aku lakukan mereka berdua adalah keluargaku walaupun tidak pernah memberikan dukungannya padaku." Pikiranku mulai berterbangan kemana-mana.
Halo para reades 😊
Semoga kalian suka dengan cerita ini😉
Terimakasih sudah mendukungku😘
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, Rate 5 dan vote ya😍
Salam hangat dari author pemula ❤️