
Siang harinya aku menyiapkan semua peralatan sekolahku dan menunggu kabar dari ayah kapan aku akan mulai masuk sekolah lagi tapi sebelum itu aku diajak oleh ayah untuk mengurusi semua yang diperlukan.
Saat aku berada di meja makan, Ayah melambaikan tangannya padaku. Aku secara tidak sadar malah menoleh ke arah belakang, aku kira ayah tidak memanggil diriku melainkan orang lain yang tidak sengaja berada di belakangku.
"Dibelakang tidak ada siapa-siapa lalu siapa yang Ayah panggil. Bisa saja Ayah memang memanggilku." Aku menolehkan kepala.
Di sisi lain ayah sudah mulai geram.
"Anak ini di panggil bukannya menghampiri malah buang muka maunya dia apa!" ayah menggerutu.
Aku ingin memastikan bahwa ayah benar-benar melambaikan tangannya padaku. Jadi aku menunjuk diriku sendiri.
Ayah langsung menganggukkan kepalanya pada saat aku menunjuk diriku sendiri. Tanpa banyak isyarat, aku berdiri dan menghampiri ayah karena aku takut ayah akan marah padaku jika aku tak kunjung datang. Aku meninggalkan makanan yang sedang aku makan.
"Aku kira bukan aku yang Ayah panggil," tuturku tanpa melihat wajah ayah.
Aku sangat takut pada ayah sampai menatapnya saja aku tidak berani.
Ayah malah menertawai sikapku ini.
"Hahaha. Apa yang sedang mencari alasan wahai Budak Kecilku?" ayah menggoda diriku.
"Aku tidak berani wahai Ayah, tidak ada yang bisa aku sembunyikan dari Ayah bahkan sebutir debu cepat atau lambat Ayah juga akan mengetahuinya," jawabku sambil memasang wajah lugu.
"Oke, Budak Manis. Hari ini aku akan mengajakmu untuk pergi mengurus semua kebutuhan yang akan kamu gunakan di sekolah barumu besok." Balas ayah.
"Ayah aku rasa hanya perlu mengurus masalah seragam saja untuk yang lain aku bisa mengurusnya sendiri nanti," tuturku
Aku sengaja mengatakan hal ini agar bisa lekas bebas dari pantauan ayah karena ayah adalah orang yang super protektif terhadap orang lain.
"Itu terdengar lebih bagus, jangan sampai melalaikan urusan ini." Ayah berjalan.
"Iya Ayah, Ayah tenang saja aku bukan orang yang ceroboh dalam melakukan sesuatu." Aku meguntiti ayah.
"Kamu tunggu saja aku di dalam mobil nanti aku akan menyusul. Ingat tetap tenang!" kata ayah dengan sedikit mengancam.
"Okay," jawabku.
__ADS_1
Aku berlalu dari hadapan ayah, aku langsung duduk di mobil sedangkan di dalam mobil ada sopir baru yang baru saja ayah pilih setelah Paman Riko meninggal akibat terlambat mendapatkan pasokan darah.
Sungguh kabar duka yang aku dapat dari bibir bibi waktu itu.
Mode flashback on
Hari itu bibi memang gagal memberitahukan padaku bahwa Paman Riko telah meninggal dunia. Tetapi setelah kedatangan dr. Tama bibi memberitahukan kabar ini padaku.
Waktu itu, setelah dr. Tama berpamitan kepada diriku. Bibi datang menemui diriku dan menyampaikan kabar duka.
Kabar ini sengaja di rahasiakan oleh ayah dan ibu dariku begitu juga kakak. Tak ada seorangpun yang mengabariku bahwa Paman Riko telah pergi untuk selama-lamanya.
Bibi datang menemui diriku sekitar pukul empat pagi, ketika itu aku baru tersadar dari mimpi burukku.
"Nona, apakah anda baik-baik saja? Kenapa anda berteriak berkali-kali, apakah anda mimpi buruk Nona?" tanya bibi dibumbui rasa khawatir terhadap keadaanku.
"Tidak juga Bi, mungkin Bibi salah dengar saja." Aku mengelaknya.
"Anda sungguh baik-baik saja Nona? Tolong beritahu yang sebenarnya apa yang terjadi tadi. Teriakan Nona terdengar jelas dari luar, jangan bohong bibi yang tua dan reot ini." Bibi tetap menayangkan hal yang sama.
"Pria? Mungkin hanya kebetulan saja Nona, tidak usah terlalu dipikirkan lagi!" ucap bibi sambil menghela napas.
"Aku rasa ini bukan kebetulan Bibi. Aku sudah memimpikannya dua kali, bagaimana bisa kebetulan terjadi secara terus-menerus. Bukankah itu sangat aneh Bibi." Aku tetap kokoh pada argumenku.
"Hmm, baiklah lupakan! Nona ingin tau sesuatu tidak?" tawar bibi sekaligus mengalihkan topik.
"Soal apa Bi?" aku bertanya balik kepada bibi.
"Ini tentang rahasia, rahasia besar yang ditutupi oleh semua orang kepada Nona. Apakah Nona tertarik mendengarkannya?" ujar bibi dengan menggunakan ekspresi yang membuatku semakin penasaran dengan berita yang dibawakan oleh bibi.
"Aku tertarik asal ini ada kaitannya denganku dan orang yang Bibi ceritakan bukan orang asing bagiku," jawabku dengan sangat cepat.
"Ini ada kaitannya dengan Nona, orang yang saya bicarakan juga bukan orang asing untuk Nona. Nona sungguh tidak punya gambaran orang itu!" bibi menjawabku sekaligus membuat diriku semakin penasaran siapa orang itu.
Aku sama sekali tidak ingat bahwa Paman Riko sedang berada di rumah sakit dan membutuhkan banyak darah waktu itu.
"Tolong ceritakan Bibi siapa orang yang dimaksud oleh Bibi saat ini, aku sungguh tidak tau siapa orangnya." Aku sedikit merengek pada bibi.
__ADS_1
"Iya-iya, bibi akan menceritakan semuanya pada Nona. Asal Nona janji tidak akan menyalakan diri sendiri." Bibi memintaku untuk berjanji padanya.
Perkataan bibi semakin membuat diriku tak karuan akibat rasa penasaran. Aku sangat ingin tau siapa orang yang bibi ceritakan saat ini.
"Janji aku tidak akan menyalakan diriku sendiri Bi." Aku langsung berjanji tanpa rasa ragu sedikitpun.
"Sebenarnya orang yang bibi bicarakan adalah Paman Riko. Supir yang selalu mengantar jemput Nona, mungkin juga salah satu orang yang perhatian pada Nona." Bibi memberitahukan orang yang bibi bicarakan.
"Paman Riko memang salah satu orang yang perduli padaku Bi!" seruku pada bibi.
"Tebakan bibi benar, Nona tau bagaimana keadaannya sekarang?" tanya bibi dengan mata sedikit berkaca-kaca.
"Paman Riko pasti sudah membaikkan Bi, sekarang dia sedang beristirahat di rumahnya. Iyakan Bi." Aku hanya menebak-nebak saja.
Sejujurnya aku tidak siap mendengar kabar buruk karena tebakan diriku Paman Riko sudah mulai membaik dan mengambil cuti beberapa hari lalu kembali lagi kemari.
"Iya, Paman Riko sedang beristirahat di rumahnya, Nona tau di mana rumah Paman Riko sekarang?" bibi terus bertanya padaku.
" Apakah Paman Riko pindah rumah Bi? Bisakah lain kali kita berkunjung ke rumah Paman Riko?" aku malah memberikan pertanyaan pada bibi.
"Benar Paman Riko pindah rumah dan Paman Riko tidak akan bangun dari istirahat abadinya. Jika ada waktu bibi akan mengajak Nona mendatangi tempat peristirahatannya." Bibi mulai menetaskan air matanya.
"Maksud Bibi, Paman Riko meninggal? Bibi tolong jangan bercanda." Aku menjerit dengan mata berkaca-kaca mendengar kabar ini.
"Benar Nona, dia menitipkan sesuatu untuk Nona pada bibi sebelum dia meninggalkan kita semua." Air mata bibi terus bercucuran.
"Apa yang Paman Riko titipkan?" tanyaku dengan air mata yang sudah tak bisa aku bendung lagi.
"Ini, tolong jangan di buka sekarang Nona." Bibi mengeluarkan sesuatu.
Terimakasih sudah mampir 🤗
Komen ya kalo sudah baca biar enak feedback-nya 😊
See you next time 😘
Salam hangat dari author pemula ❤️
__ADS_1