Maju Selangkah Mati

Maju Selangkah Mati
Perjalan Yang Tak Tau Arah


__ADS_3

Malam harinya aku di ajak Bibi untuk pergi ke suatu tempat yang aku tidak tau sama sekali tapi aku yakin itu tempat yang mengasikkan untuk di kunjungi.


"Bibi, apakah kita jadi keluar malam ini atau batal?" aku teriak sambil mencari Bibi.


"Haduh Bibi saat ini ada di mana aku mencarimu wahai Bibi tercinta," aku melanjutkan perkataanku.


"Iya Nona tercinta, maaf Bibi barusan dari kamar kecil." Ujar Bibi terbirit-birit.


"Bibi jadi gak kita jalan? Bibi mau ajakin aku kemana sih?" aku menanyakan banyak pertanyaan pada Bibi.


"Kita mau pergi ke pasar malam, tapi Bibi takut Nona tersayang Bibi gak mau," tutur Bibi lalu menekuk wajahnya.


"Mana bisa aku menolakmu Bibiku tercinta." Rayuku pada Bibi dengan perkataan manis.


"Baiklah, ayo kita siap-siap supaya tidak terlambat." Ajak Bibi untuk siap-siap.


"Oke Bibi one the way," kataku sambil berlari ke arah tangga kamar.


Apartemen ini sangat mewah aku merasa ini adalah apartemen kelas atas yang sengaja ayah belikan untukku agar menutupi rasa malu terhadap teman-temannya.


Aku sejujurnya sudah tau bahwa Ayah dan Ibu memiliki rasa gengsi yang tinggi jadi Ayah dan Ibu tidak mungkin membelikan apartemen murahan untukku.


"Apartemen ini tidak kecil, ini sangat besar banyak sekali orang kaya yang berbeda di sini aku tau Ayah sangat tidak mau namanya tercoreng karena masalah apartemen yang kecil." pikirku sembari melangkahkan kaki.


Saat ini aku sedang berganti baju agar terlihat lebih rapi, aku menggunakan baju kaos berwarna putih dengan bawahan berwarna biru. Aku sudah terlihat seperti anak kota yang paling top ini menurutku.


Bibi sudah siap-siap juga walaupun sudah lansia aku tidak akan membiarkan Bibi terlihat kusut. Aku tau selera Bibi tidak terlalu tua, aku juga tau Bibi suka hal yang simpel tanpa ribet.


Aku dan Bibi sudah siap untuk berangkat ini saatnya aku memesan taksi online atau ojek online di sini tidak terlalu susah untuk mencari kendaraan jadi aku bisa sedikit santai dengan Bibi.


"Bibi kita mau naik apa? Ojek apa taksi Bi?" tanyaku pada Bibi.


"Ojek saja biar cepat Nona, setau saya kalo malam di kawasan ini suka macet parah." Cakap Bibi padaku.

__ADS_1


"Okay, ojek online siap meluncur, Bibi tinggal nunggu sekitar sepuluh menit saja cukup untuk kita turun ke bawah tanpa menaiki lift Bi. Hitung-hitung jalan sehat." Kataku pada Bibi sambil tertawa.


"Jalan memang sehat ya sudah ayo kita turun Nona, nanti ojeknya malah menunggu lama di bawah." Ajak Bibi.


Aku dan Bibi langsung menuju ke bawah untuk mengecek keberadaan ojek online. Bibi sangatlah bugar tentu saja aku mengatakan hal ini karena Bibi mampu turun empat lantai tanpa mengeluh sedikitpun apalagi sampai terengah-engah itu sangat tidak mungkin terjadi.


Setelah sebelas menit akhirnya aku dan Bibi sudah berada di luar, ojek juga stay di hadapan aku dan Bibi.


"Pak sini," panggil Bibi.


"Iya Bu," jawab Om tukang ojek.


"Antar kami sesuai kode saya Pak." Ucap Bibi memberikan perintah pada om tukang ojek.


"Baik Bu, silahkan naik!" seru Om tukang ojek ini.


"Bonceng tiga tidak masalah apa Pak? Di kota besar biasanya di larang keras bukan!" tanya Bibi perihal masalah ini.


"Memang tidak boleh Bu tapi, adik ini masih sangat kecil." Kata orang ini.


"Bukannya di kota gak boleh ya bonceng tiga mau itu anak kecil ataupun orang dewasa, di sini bukannya ketat aturan ya kok malah ada orang yang melanggar. Saya rasa orang ini sedikit tidak benar." pikir Bibi dalam batinnya.


"Bi, kenapa bengong. Jadi gak kita jalan apa mau ganti pake taksi aja Bi?" aku mencolek Bibi dan menanyakan tentang persetujuannya saat ini.


"Gak jadi ngojek deh Pak, saya pindah ke taksi aja." Bibi mengubah pemikirannya akibat memiliki firasat buruk.


"Maaf Om, aku cancel dulu ya aku kasih uang muka aja buat Om. Sekali lagi maaf!" aku meminta maaf pada tukang ojek ini.


"Iya gak papa yang penting di ganti uang muka, saya tidak akan mengeluh." Wajah tukang ojek ini berubah menjadi seram.


"Okay!" seruku padanya.


Saat ini aku mulai mencari taksi online sekarang masih jam tujuh malam ya lumayan banyak waktu untukku mencari taksi yang nyaman seperti tadi sore setelah pulang sekolah.

__ADS_1


Butuh waktu sekitar tiga menit baru aku menemukan tukang taksi yang tadi sore kebetulan sekali, tukang taksi ini sedang kosong maka aku berhak mengorder taksinya.


"Untung yang tadi sore gak ada orderan jadi bisa pakai jasa orang ini lagi, di tambah lagi orang ini sangat rapi dan suka kebersihan. Pintar ambil hati penumpang lagi kerjanya juga bagus, wajib bintang lima deh buat Mamang yang satu ini." Tuturku dalam hati kecilku.


Baru saja aku order taksi yang aku pesan sudah sampai saja hanya dalam waktu tiga menit lebih cepat daripada si tukang ojek.


"Ayo Bi naik, ini taksi yang aku pesan tadi sore Bi untuk mengantarkan pulang eh sekarang malah aku pakai lagi buat kita jalan-jalan. Silahkan Bibi katakan saja arahnya pada sopir atau nama alamatnya supaya bisa di cari di google map." Aku mentitah Bibi agar memberi tahukan jalannya pada sopir taksinya sambil memasuki taksi.


"Jalan Menang Arum, alun-alun kota ya Nak." Titah Bibi saat di dalam taksi pada sopir.


"Baik Bu, silahkan gunakan sabuk pengamannya agar lebih waspada saat di perjalanan. Jika membutuhkan sesuatu ucapkan saja pada saya." Sambutan sopir ini sangat hangat dan membuat Bibi suka pada taksi yang aku pesan ini.


"Baik Nak terimakasih, kamu sangat hangat pada penumpang dan sangat ramah pada kami berdua." Cakap Bibi berniatan memuji sopir taksi ini.


"Ibu bisa saja, ini sudah kewajiban saya ramah pada penumpang saya Bu, jika tidak ramah penumpang pada kabur semua dong Bu." Canda sopir taksi ini.


Malam ini aku menggunakan jepit rambut pemberian dari Kakek Tua yang misterius pada waktu itu. Anehnya, sopir taksi ini malah menatap ke jepit rambut ini berkali-kali bahkan sampai tidak fokus menyetir mobil ini.


"Maaf Om, tolong fokus saat berkendara jangan celingak-celinguk seperti orang kebingungan." Aku menegur sopir taksi ini.


"Iya, saya hanya sedang memperhatikan jepit rambut yang adik gunakan seperti ada yang sedang memburu pemilik jepit rambut ini, tapi saya lupa siapa orang yang sedang memburu Nona." Pak tukang taksi mengakui bahwa dirinya sedang memperhatikan jepit rambutku dan juga menambahkan pernyataan tentang jepit rambut ini.


Hi all 🤗


Selamat datang di lapakku 😊


Semoga suka 😉


Jangan lupa like, komen, rate 5 dan vote ya 😍


Oh iya komen biar enak feedback-nya 😙


Terimakasih sudah mampir 😘

__ADS_1


Salam hangat dari author pemula ❤️


__ADS_2