Maju Selangkah Mati

Maju Selangkah Mati
Olimpiade Sains


__ADS_3

"Huhhhh, sungguh kesal untuk apa dia mengatakan bahwa aku anak tak berguna dasar orang aneh!" gumamku.


Olimpiade sains adalah olimpiade yang di tunggu-tunggu banyak siswa termasuk aku. Banyak sekolah yang berlomba-lomba mengirimkan murid berbakatnya.


Aku sejujurnya mengikuti olimpiade ini hanya iseng saja dan lagi aku di paksa oleh kepala sekolah untuk mengikuti olimpiade ini. Kepala sekolah sampai memohon kepadaku di hadapan banyak guru.


Siapapun pasti akan merasa gugup dan tidak nyaman dengan keadaan seperti itu. Dengan sangat terpaksa aku harus mengiyakan kemauan dari kepala sekolah.


Meskipun aku menolak namaku pasti akan tetap terdaftar pada olimpiade itu, aku mengenal betul seperti apa kepala sekolah, apapun yang menjadi keinginannya harus terpenuhi baik suka ataupun tidak.


Aku sangat tidak suka dengan kemauan dari kepala sekolah tapi kepala sekolah selalu mendapatkan dukungan dari semua guru karena semua guru tau kemampuan yang aku miliki.


Jadi orang yang jenius memang enak tapi jangan lupa terkadang orang jenius masih menjadi pesuruh orang yang memiliki banyak materi. Kadang orang jenius juga sering di manfaatkan kepandaiannya oleh orang lain.


Hari ini, aku dituntut agar ke sekolah lebih pagi dari biasanya. Aku atau kalian pasti sangat benci dengan kemampuan yang egois itu ditambah lagi pihak sekolah biasanya mengancam kita dengan kata "Kalo terlambat silahkan berangkat sendiri."


Aku berangkat dari rumah sedikit terlambat lagian pihak sekolah pasti akan datang lebih terlambat dariku. Pihak sekolah hanya pandai mengatur aku dan teman-teman tapi tak pandai mengatur dirinya sendiri.


"Selamat pagi Kimmy, kamu sudah belajar semalam?" tanya Bu Aigul.


"Pagi, belum," jawabku.


"Kenapa belum? Apa kamu tidak niat mengikuti olimpiade ini?" serunya padaku.


"It's okay, just don't want to study." Ku tatap Bu Aigul.


"Begitu, semangat jangan sampai mempermalukan nama baik sekolah ini," tuturnya padaku.


"Oke! Thanks," balasku.

__ADS_1


Aku tidak terlalu suka dengan guru-guru yang ada di sekolah ini, semua guru hanya mau aku mendapatkan banyak penghargaan untuk sekolah meski aku juga mendapatkan uang dari hasil lomba. Namun, aku tidak pernah tertarik dengan semua acara yang ada.


Sejujurnya aku memang suka mendapatkan uang tapi aku tidak suka jika apa yang harus dilakukan dengan cara di paksa. Gimana perasaan orang lain jika aku memaksakan kemauanku padahal mereka keberatan, kenapa semua orang tidak mengerti akan hal itu.


Semua guru sudah sampai dan waktunya untuk berangkat ke tempat acara di lakukan. Kata guru perjalanan ini membutuhkan waktu sekitar dua jam, aku sangat kaget mendengar hal itu.


"Masak iya, aku harus duduk selama dua jam di mobil yang pengap ini, bau badan orang lain sangat tak nyaman di hirup oleh hidung mancungku ini. Mereka semua selalu melihat ke arahku lagi dan lagi, apa ada yang salah dengan wajah imutku ini."


Yang dikirim untuk mengikuti olimpiade ini sekitar delapan belas orang, tentunya salah satu dari mereka ada yang tidak suka denganku. Mereka semua menantapku seperti seekor singa yang siap menerkam mangsanya.


Di dalam mobil semua orang sibuk membincangkan kehidupan orang lain, aku sangat risih mendengar hal ini. Jadi, aku memutuskan untuk menggunakan handset dan mendengar lagu agar terhindar dari obrolan receh.


"Itu si Kimmy ya, bener kata orang-orang dia sangat sombong. Lihat tingkahnya seperti anak raja saja, beruntung dia pintar jika tidak mungkin sudah di tendang." Membicarakan kekuranganku.


"Dia katanya gak pandai ngomong, gimana bisa ikut olimpiade seperti ini. Kalo di tanya sama guru juga cuek jawabnya dia kira hanya dirinya yang pintar masih banyak di luar sana yang lebih dari dirinya," celetuknya.


"Iya kamu benar, cuma gara-gara kepala sekolah selalu membelanya jadi lupa diri gitu! Mana gak pernah sopan lagi sama guru-guru, pergi ke sekolah telat pulangnya lebih awal. Mau masuk kelas mana aja bebas, dia kira dia siapa bisa seenaknya gitu." Memaki-maki diriku.


Aku tetap tidak membalas perlakuan dari orang tak bermutu seperti mereka semua. Aku lebih suka membalasnya menggunakan otak bukan tenang.


Sebagian orang itu tetap melanjutkan gosipnya, orang itu lupa untuk belajar karena waktu yang dibutuhkan sangatlah sedikit. Sedangkan aku, memanfaatkan semua keadaan agar bisa mencapai puncak lebih awal.


Sampailah aku dan semua orang di tempat olimpiade dilaksanakan, banyak sekali mobil yang simpang siur di hadapan mata ini bukan hanya mobil orang juga banyak sekali sampai aku merasa sedikit pengap.


Olimpiade kali ini di ikuti oleh dua ratus sembilan puluh anak salah satunya adalah aku, anak-anak itu mempunyai bakat dan kemampuannya masing-masing.


Aku tidak berharap menang untuk kali ini karena aku sudah tidak ingin mendapatkan gelar sang juara dalam enam tahun berturut-turut, bagaimana aku bisa mendapatkan gelar itu ya mungkin yang menjadi juri kurang teliti atau memang aku mampu.


Para juri dan peserta sudah mulai mengambil kartu masing-masing, aku mendapat kartu nomer seratus delapan puluh tujuh. Aku tidak merasa keberatan sama sekali dengan tempat yang akan aku duduki saat mengerjakan semua soal olimpiade.

__ADS_1


Bel berbunyi artinya sudah saatnya mengisi lembaran yang sudah di bagikan oleh para pengawas, di lembaran itu tertera jelas peraturannya.


Aku dengan tidak fokus mengisi lembaran itu, aku hanya mengisi kurang lebih delapan puluh sembilan dari seratus soal. Soalnya lumayan tidak terlalu susah jadi aku bisa mengisi dengan santai.


Banyak orang sibuk mengisinya dengan sangat hati-hati dan teliti. Berbeda denganku, yang hanya membaca sekilas lalu mengambil kesimpulan untuk menjawab soal yang ada.


Saat mengisi soal sedang berlangsung ada orang yang duduk di sebelahku tiba-tiba ingin meminjam alat tulis yang aku bawa.


"Maaf Kak, boleh pinjam tipe-x tidak??" berbisik.


"Oh, nih." Ku lempar barang itu padanya.


Orang itu Menghapus beberapa jawaban sambil menutupinya dengan tangannya, orang itu mengira bahwa aku akan mencontek pada dirinya.


"Ngapain sampai di tutupi gitu, emang aku bakal menjiplak miliknya. Sangat tidak mungkin untuk dilakukan oleh diriku yang manis ini."


Tak lama, orang itu melemparkan kembali tipe-x itu padaku dan mengucapkan terimakasih. Aku kira aku sudah bisa tenang setelah orang itu meminjam sesuatu dariku.


Di sisi lain, pangawas menatapku beberapa kali seperti mengisyaratkan sesuatu padaku, aku kira orang itu tidak akan mengganguku ternyata perkiraan ku....


**Hai para reades 😊


Selamat membaca dan semoga suka😉


Terimakasih sudah mampir di sini😘


Jangan lupa like, komen, rate 5 dan vote ya😍


Salam hangat dari author pemula ❤️**

__ADS_1


__ADS_2