
Bu Vera sungguh adalah guru yang aku suka tapi setelah melihat caranya memberikan hukuman pada siswa yang tidak mengerjakan tugas. Aku mulai sedikit benci pada guru ini dia tidak pernah mengerti keadaan anak lain.
Anak-anak yang tidak mengerjakan tugas di hukum tengah lapangan dan berdiri di depan tiang bendera selama tiga jam sebelum pulang, kasian sekali anak-anak yang terkena hukuman.
Kebetulan cuaca hari ini sangat panas, aku bisa menebak pasti ada anak yang pingsan atau tidak sakit akibat hukuman yang di berikan ini. Ada sekitar lima siswa yang tidak mengerjakan tugas dari guru ini.
Sungguh kasian anak yang terkena hukuman, ada beberapa anak yang sudah ada di UKS. Guru pengurus UKS sampai terkejut karena banyak siswa yang sakit.
Nama guru pengawas UKS adalah Bu Nena Tang, Bu Nena juga salah satu guru di kelas sepuluh atau bisa di sebut guru murid baru yang masih polos dan lugu.
Menurut kepala sekolah hukuman yang diberikan oleh Bu Vera sangatlah wajar, kepala sekolah malah tidak melanjutkan masalah ini dan mengabaikan banyaknya siswa yang jatuh sakit akibat hukuman ini.
Aku juga tidak bisa berkomentar terhadap kejadian ini, aku merasa diriku tak pantas untuk mencampuri urusan kepala sekolah dan guru karena setiap orang memiliki caranya masing-masing atau lebih tepatnya sudut pandangnya masing-masing.
Jam pulang sudah tiba semua siswa dan siswi yang berada di kelas sudah mulai membereskan barang-barangnya. Bu Vera juga sudah mulai membereskan perlengkapan yang di bawanya tadi sebelum mengajar.
Buku siswa dan siswi sudah mulai di bagikan oleh Dani alias ketua kelas yang cukup idiot terhadap para anggotanya. Ada anak yang tersenyum bahagia melihat nilai yang di dapatkan, ada juga yang wajahnya biasa-biasa saja mungkin nilainya pas KKM atau mendekati dan ada juga yang wajahnya murung mungkin nilai yang didapatkan tidak sesuai keinginannya.
Aku hanya bisa melihat semua ini karena aku tidak mendapatkan nilai juga dari Bu Vera. Sebelum pulang aku menanyakan nilai pada Kak Nugraha, aku ingin tau apakah dia termasuk siswa yang pintar atau tidak.
"Kak Nugraha, bukumu sudah dibagikan belum?" tanyaku dengan mimik penasaran.
"Buku ya? Belum masih ada di depan kenapa? Apa kamu ingin meledekku ya?" Kak Nugraha malah menuduhku akan meledekkinya.
Aku langsung kaget dan secara reflek menjawab perkataan Kak Nugraha karena aku tidak mau dia salah paham padaku.
"Siapa yang mau mengejek Kakak, aku hanya ingin tau soal yang diberikan oleh guru. Sumpah aku tidak ada niatan untuk mengejek Kakak sedikitpun!" aku mengatakan semua ini dengan serius di hadapan Kak Nugraha.
__ADS_1
"Baiklah kita tunggu saja sampai buku milikku sampai, aku akan meminjamkannya padamu." Balas Kak Nugraha dengan wajah masam.
"Sip terimakasih Kak," tuturku dengan sangat tenang.
Baru saja aku dan Kak Nugraha mengakhiri obrolan yang super ngeselin. Buku milikinya sudah diantarkan oleh Dani ke Kak Nugraha. Kak Nugraha langsung melemparkan bukunya pada mejaku.
Suara buku ini sangat keras "Plaakk!" hal ini membuat kaget semua orang aku dan Kak Nugraha berusaha menutupinya dengan tertawa.
"Hahahaha." Aku dan Kak Nugraha tertawa keras.
Anak-anak yang lain juga ikut tertawa padahal tidak tau apa yang lucu. Bu Vera malah menanyakan alasan kenapa aku dan anak-anak tertawa.
"Kenapa tertawa? Ada yang lucu atau ada yang melawak?" tanya Bu Vera dengan tatapan kosong.
"Tidak apa-apa hanya ada anak yang tidak sengaja kepalanya terbentur ke meja." Salah satu dari banyak anak di kelas ini berusaha membuat alasan yang masuk akal dan mudah di terima oleh Bu Vera.
Saat Bu Vera mau menjawab bel pulang malah berbunyi.
"Iya Bu," anak-anak menjawab saat posisi duduk.
Anak-anak sudah mulai berdiri dan menggendong tasnya masing-masing termasuk aku. Sebelum itu aku juga tidak lupa untuk memasukkan buku yang di pinjami oleh Kak Nugraha.
Akhirnya semua siswa dan siswi sudah meninggalkan kelasnya masing-masing, aku hampir saja lupa dengan janji yang aku buat tadi pagi dengan Dani. Untung saja Dani memanggil diriku ketika aku hendak pulang.
"Woi Kimmy Xi, jangan pulang dulu. Apa kamu lupa janjimu tadi pagi padaku," teriak Dani dari kejauhan.
Syukurlah, Dani masih menginginkan aku jika tidak mungkin aku sudah pulang. Aku langsung menjawab teriakan Dani.
__ADS_1
"Iya gue inget! Gak usah pake acara teriak segala sakit telinga ini yang mendengarnya," celetukku sambil memasang wajah cemberut.
"Baguslah jika kamu tidak lupa! Tidak perlu memasang wajah seperti itu dihadapanku. Wajahmu sangat jelek jika seperti itu." Timpal Dani sembari mendekatiku.
"Gue tunggu di lapangan basket, kalo lama gue balik," ucapku pada Dani.
Setelah mengucapkan kalimat tadi, aku langsung pergi tanpa mendengarkan jawaban dari Dani. Aku hanya tidak mau mendengar omongannya yang panjang.
Aku berjalan menuju lapangan basket, kondisi sekolah sangatlah sepi hanya di depan yang ramai dengan anak lain sedangkan di lapangan basket tidak ada satupun anak yang lewat.
"Dani ngapain ngajakin aku kelapangan basket, lagian di sini sangat sepi tidak ada satupun makhluk yang lewat. Ini juga gara-gara aku kenapa malah minta ketemu di tempat yang sepi. Aku juga sih ngajuin syarat kok gak pikir panjang sekarang nanggung sendiri akibatnya. Apesnya aku hari ini, semoga saja si Dani gak lama kalo lama tinggalin pulang aja. Hahaha aku emang suka buat orang gregetan sama aku." Sambil berjalan aku malah berdiskusi dengan diriku sendiri di dalam benakku.
Dani ternyata memang orang yang tepat waktu. Baru saja aku hendak duduk di tempat duduk yang berbeda di pinggir lapangan, Dani sudah menampakkan batang hidungnya padaku.
Aku tidak kaget melihat ini terjadi karena Dani adalah ketua kelas jadi tidak mungkin jika memiliki kepribadian yang kurang disiplin terhadap dirinya sendiri maupun sekitarnya.
"Mau ngomongin apa kita di sini kalo gak terlalu penting, lebih baik kapan-kapan saja. Ini sudah waktunya untuk pulang kerumah." Tuturku dengan sedikit ngegas.
"Pentinglah, kalo gak penting ngapain aku sampai ngotot tadi buang-buang waktu saja. Apa kamu pikir aku tidak ada pekerjaan lain ya. Masih banyak yang harus aku kerjakan sebentar lagi, jadi tidak usah kepedean jadi orang." Dani malah memarahiku di lapangan basket.
Aku rasa ini semua karena aku yang terlalu bawel padanya atau dia risih dengan bentakku terhadap dirinya ini hanya tebakkanku saja. Aku tidak bisa membaca pikiran dan perasaan orang lain karena aku bukan dukun.
Hai all 🤗
Jangan bosen ya main di lapakku 😊
Tinggalkan jejak kalian dengan cara like, komen, rate 5 dan vote buat aku 😍
__ADS_1
Terimakasih sudah mampir 😘
Salam hangat dari author pemula ❤️