
Ya, kali ini aku dan bibi memang seperti seorang bocah yang baru saja mengenal pasar malam. Meskipun aku dan bibi seperti bocah tapi setidaknya kami berdua datang untuk menghibur diri setelah sekian lama aku dan bibi tidak pernah pergi bersama.
Bahagia rasa hatiku saat ini, aku tidak pernah menyangka bibi akan mengajakku ke tempat ini. Meskipun kecil dan berada di tempat terbuka aku sudah sangat bahagia dengan hal ini.
Tawaku saat ini bukan lagi tawa palsu, sekarang aku dan bibi menikmati waktu luang ini dengan sangat baik.
"Bibi aku mau beli eskrim, bolehkan Bibi?" tanyaku pada bibi.
"Boleh sayang kenapa tidak, ayo kita ke toko eskrim terdekat." Ajak bibi lalu turun dari kuda-kudaan yang sedang dinaiki oleh bibi.
"Bibi tapi aku mau eskrim yang besar ya." Pintaku pada bibi sembari berjalan.
"Iya, ayo Nona pilih sendiri mau yang mana," ucap bibi.
Aku menuju toko berwarna biru muda yang berada di tepi jalan raya, toko ini sangat ramai dengan pembeli sampai seperti tempat antrian sembako gratis saja.
Toko ini sangat megah ya seperti toko kelas bangsawan, tapi aku khawatir uang yang bibi bawa tidak cukup untuk membeli eskrim atau bisa saja cukup membeli eskrim tanpa ada sisa untuk ongkos pulang.
"Bibi, apakah Bibi saat ini membawa uang lebih?" tanyaku dengan nada kecil.
"Tentu saja saya membawa uang lebih jika tidak kita mungkin akan jalan kaki ke apartemen." Tutur bibi dengan tawanya.
"Aku tak masalah Bi, jika harus berjalan kaki aku tak mengapa!" aku mengucapkan ini dengan serius.
"Saya tau Nona tidak akan mengeluh jika berjalan kaki tapi apa Nona tidak kasian pada saya yang sudah lansia ini?" tanya bibi yang sedang menatap wajahku ini.
"Kasian, masak iya Bibi mau jalan kaki denganku ya gaklah Bibi. Aku tidak akan mengijinkan Bibi untuk jalan kaki nanti Bibi bisa-bisa kelahan lalu jatuh sakit, Aku sungguh tidak mau hal itu sampai terjadi!"
"Kita lanjut lagi nanti, ayo Nona mau beli eskrim yang mana pilih saja." Tawar bibi padaku saat berada di toko ini.
Banyak sekali varian rasa yang ada di tempat ini membuat diriku bingung ingin yang mana karena bingung aku memutuskan agar bibi yang memilihnya untukku saja.
"Bibi suka rasa apa?" aku bertanya agar bibi menyebutkan apa yang dia sukai.
"Bibi suka rasa coklat, kenapa Nona menanyakan kesukaan saya jangan-jangan Nona ingin membeli sesuai yang saya suka ya?" tebak bibi dengan percaya diri.
__ADS_1
Tebakan bibi memang tidak pernah meleset sedikitpun, iyalah tidak meleset karena bibi sudah merawatku dari kecil sampai sekarang ini.
"Hehehe, iya aku ingin membeli eskrim yang Bibi suka jadi aku bisa berbagi nantinya dengan Bibi," jawabku sembari tertawa dan mengusap rambutku.
"Nona beli saja rasa favorit Nona yaitu susu kenapa harus memaksakan membeli rasa coklat," ucap bibi padaku.
Saat bibi mengucapkan kalimat tadi aku melihat orang yang sama seperti Paman Riko semasa hidupnya, aku langsung berlari mengejar orang ini. Aku sangat yakin dia adalah Paman Riko.
Kondisi sekarang ini sangat tidak mendukung diriku untuk mengejar orang itu, aku malah terjebak di desakan banyak orang.
"Permisi, permisi." Aku menyela dari orang satu ke orang yang lain.
"Haduh, susah banget nerobos antrian ini panjang dan padat. Mana orang itu sudah jauh sekali dari jangkauanku. Yah aku bisa-bisa ketinggalan jejak kalo gini terus." Aku terus menerobos antrian.
Aku lupa bibi berada di kasir untuk membayar tagihan uang eskrim yang aku beli barusan, aku belum berpamitan padanya. Aku masih tetap sibuk mengejar orang itu tanpa menyadari bahwa aku sudah jauh dari tempat bibi berada saat ini.
"Eh, aku lupa sesuatu seperti. Oh ya aku ke sini bersama Bibi aku lupa berpamitan padanya. Haduh Bibi saat ini pasti sedang mencariku saat ini." Aku langsung berbalik arah ke tempat bibi berada saat ini.
Aku kembali menerobos antrian panjang ini lagi, banyak sekali orang yang memaki diriku satu persatu.
Saat aku berbalik untuk melihat siapa orang yang menepuk pundak ini.
"Eh, ini, ini, ini, Paman Riko? Benarkah ini Paman Riko!" aku langsung terbata-bata.
"Iya ini aku Nona Kimmy, apakah kamu sudah tidak mengenali diriku lagi?" tanya Paman Riko padaku.
"Aku tidak bermimpikan?" aku bertanya balik ke Paman Riko.
"Tidak kau tak sedang bermimpi saat ini." Cakap Paman Riko dengan pandangan sadis.
"Paman aku merindukanmu, bolehkah aku memelukmu sebentar saja." Pintaku pada Paman Riko.
Aku melihat Paman Riko yang jauh berbeda saat ini, aku ingin Paman Riko memeluk diriku walaupun hanya sedekapan saja.
Paman Riko menatapku tanpa henti lalu Paman Riko duduk di depanku dan dia mengangkat tangannya yang mengarah padaku.
__ADS_1
Aku tak menyangka ternyata Paman Riko mau memelukku dengan erat. Mata ini tak sanggup lagi aku langsung menangis dan membalas pelukan erat Paman Riko.
"Paman Riko kenapa semua orang mengatakan bahwa dirimu sudah meninggal dunia, aku tidak bisa menerima kenyataan ini." Aku mengucapkan ini sambil menangis.
"Aku masih hidup Nona tapi aku di anggap mati oleh keluargamu saat ini." Jawab paman.
"Paman bolehkah aku menemui beberapa jam sekali selama seminggu?" tanyaku tanpa basa-basi dengan paman.
"Boleh, aku juga merindukan Nona kecilku yang manis ini. Aku juga tidak bisa jauh-jauh dari Nona kecilku ini," balas paman.
"Terimakasih Paman aku sungguh sangat bahagia mengetahui bahwa Paman masih hidup."
Aku malah lupa untuk mencari bibi, aku melupakanmu semuanya akibat bertemu paman saat ini.
"Oh tidak, Paman aku lupa aku sedang mencari Bibi saat ini." Aku langsung teriak dengan heboh.
"Nona tolong rahasiakan ini semua termasuk pertemuan kita sekarang jika tidak semuanya akan menjadi kacau balau nantinya." Paman Riko memintaku untuk tidak membicarakan ini semua pada siapapun termasuk bibi sekalipun.
"Baiklah Paman aku berjanji padamu tidak akan menceritakannya pada siapapun termasuk Bibi juga tapi apakah Bibi tau bahwa Paman masih hidup sebenarnya?" tanyaku lagi karena penasaran.
"Tidak Ibu Law tidak tahu masalah ini karena itu aku tidak ingin dia menjadi syok saat ini akibat mendengar kabar bahwa aku masih hidup."
"Tolong rahasiakan ini semua untuk beberapa tahun kedepannya Nona, aku percaya Nona tidak akan mengungkapkan janjinya dan aku minta maaf atas kejadian waktu itu sebab hal itu Nona mengalami penderitaan." Paman melanjutkan perkataannya.
"Tapi Paman apa alasan orang tuaku mengatakan soal kematian dirimu?" aku lagi-lagi penasaran dengan semua ini.
Hai all 🤗
Terimakasih sudah mampir ke lapakku 😊
Jangan lupa like, komen, rate 5 dan vote ya 😍
Tinggalkan jejak supaya mudah feedback-nya 😉
Salam hangat dari author pemula ❤️
__ADS_1