
Aku melupakan semua kejadian yang terjadi tadi malam walaupun rasa itu tetap membara aku tetap tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menunggu Paman Ho mengatakan yang sebenarnya padaku pada saat aku berusia dua puluh tahun.
Sakit rasanya hati ini, banyak sekali orang yang aku tanyakan masalah masa kecilku. Tak apa aku akan terus menjalani kehidupan ini seperti yang sudah disenariokan oleh yang kuasa.
Pasrah, aku benar-benar pasrah dengan semua ini. Kali ini aku harus fokus membicarakan bahwa aku ingin pindah sekolah bagaimanapun caranya.
Aku hendak menemui ayah, aku benar-benar sudah tidak ingin kembali lagi pada tempat di mana aku di rendahkan oleh orang lain seakan-akan aku ini tidak ada harganya di mata mereka semua. Apa para penghuni sekolah lupa siapa yang mengangkat derajatnya. Sampai-sampai berani merendahkan aku.
Aku memang masih sangat muda tapi jika harga diriku di injak-injak oleh orang lain siapapun orang itu aku tidak akan diam saja. Aku memang orang yang paling tidak suka di jatuhkan harga dirinya apa lagi yang menjatuhkan hanya orang yang tak berpendidikan dan tak berguna.
Ketika aku mau pergi menemui ayah. Ayah malah datang ke kamarku kebetulan sekali, tak biasanya ayah menyempatkan diri untuk bertemu denganku lebih dulu aku merasa ada sesuatu yang ingin ayah sampaikan padaku.
Wajah ayah terlihat sangat jelas bahwa ayah sedang marah, aku hanya bisa memasang wajah datar saat menyambut ayah. Aku memilih pura-pura tidak tahu sesuatu karena aku ingin tau apa yang membawa ayah datang menemuiku.
"Setan apa yang merasuki ayah hingga datang ke kamarku hari ini atau ayah sudah tau tentang masalah waktu itu. Jadi, ayah datang untuk memarahiku juga. Sudahlah apapun yang terjadi sebentar lagi aku harus tetap memberitahukan pada ayah bahwa aku ingin pindah sekolah." Dalam batinku.
Ayah terlihat sangat tidak sabar untuk mengatakan sesuatu padaku. Namun, ayah sepertinya tidak enak pada Paman Ho yang datang bersama ayah ke kamarku.
"Pak Ho, bisakah kau pergi meninggalkan kami berdua disini? Ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan dengan anakku tersayang ini," ucap ayah tanpa memandang Paman Ho.
"Baik Tuan Besar, saya undur diri dulu. Tolong jaga Nona Muda baik-baik." Paman Ho langsung berbalik dan pergi.
"Tenang saja dia anakku hanya aku yang lebih tau apa yang harus aku lakukan!" Ayah menjawab Paman Ho dengan nada dingin dengan wajah ditekuk.
"Pergi!" ayah melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
Paman Ho pergi menjauh dari pandangan mata ini, ayah sungguh tak berperasaan tega-teganya ayah membentak orang yang sudah lansia seperti Paman Ho.
"Apa-apa ini Ayah? Pagi-pagi seperti ini Ayah datang dengan keributan! Ayah sungguh berdarah dingin bagaimana bisa, Ayah dengan lihainya memarahi Paman Ho tanpa ada kesalahan yang dia perbuat! Sungguh keji dirimu Ayah!" tuturku dengan wajah merunduk.
"Hei anak kecil! berani sekali kamu mengkritik ayahmu ini. Siapa yang mengajarkan perkataan yang tidak sopan itu?" Ayah melototi diriku dengan sangat tajam seperti sebuah pedang.
"Ayah tidak ada seorangpun yang mengajariku untuk tidak sopan padamu. Kamulah yang mengajariku menjadi seperti ini!" seruku kepada ayah.
"Aku? Anak Durhaka! Besar juga nyalimu sampai berani melawan orang tua yang selama ini menafkahi dan merawat dirimu!" ayah menjawabku dengan sangat dingin.
"Menafkahi baiklah aku akui itu benar tapi masalah merawat diriku kamu tidak pernah melakukannya sedikitpun." Jawabku dengan sedikit emosional, maklum diriku hanya gadis kecil yang memang benar-benar butuh belayan kasih sayang orang tua.
"Kamu kira dirimu Tuan Putri dari kerajaan hingga ayahmu ini juga harus repot mengurus kebutuhanmu! Apa guna para pelayan yang aku bayar mahal-mahal jika pekerjaan sepele seperti itu masih aku yang melakukannya!" ayah terus saja membenarkan argumennya.
Aku benar-benar tidak berdaya dengan semua ini, keterbatasanku dalam komunikasi sangatlah minim bagaimana caranya aku bisa memenangkan debat ini dengan ayah. Ayah memang bertindak semaunya dan aku adalah salah satu boneka yang bisa ayah mainkan kapan saja.
"Kamu benar-benar anak tak tau sopan santun, apa yang kamu katakan pada kepala sekolahmu hingga dia menyatakan bahwa kamu di DO dari sekolah!" ayah membetakku hingga membuat telingaku terasa sakit.
"Oh, masalah itu! Kepala sekolah saja yang tidak tau diri. Kepala sekolah berniat menjatuhkan nama baik keluarga kita bagaimana bisa aku hanya duduk diam menyaksikan semua itu." Aku berbohong pada ayah.
"Apa yang dia katakan tentang keluarga ini?" tanya ayah padaku.
"Dia mengatakan bahwa 'Anak dari keluarga Xi tidak ada yang pintar, anak yang ada di sana hanya sampah yang tidak berguna!' itu yang kepala sekolah katakan." Aku pura-pura memasang wajah geram.
"Berani sekali rakyat jelata seperti dia mengomentari tentang keluarga Xi, cari mati saja dia. Aku akan mendaftarkan dirimu pada sekolah yang lebih tinggi lagi, kita lihat saja siapa yang tak lebih dari sampah kepala sekolahmu atau anak keluarga ini." Ayah mengepalkan tangannya.
__ADS_1
"Baiklah Ayah aku setuju dengan saranmu, aku akan membuktikan bahwa sekolah itu tak bisa apa-apa tanpa adanya aku anak dari keluarga Xi." Aku setuju dan berjanji pada ayah akan membuktikan bahwa aku bisa di banggakan.
"Oke, siap-siap saja besok aku akan mengabarimu. Semoga saja kamu benar-benar bisa membanggakanku dan mengharumkan nama baik keluarga ini." Ayah berbalik badan dan langsung pergi dari kamarku.
Aku benar-benar senang mendengar semua ini, jadi aku tak perlu repot-repot menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada saat itu pada ayah.
"Hmm, akhirnya aku bisa lepas juga dari cengkeraman kepala sekolah yang seenaknya itu. Aku akan membuat sekolah itu menjadi sepi, hehehe ... aku benci kamu kepala sekolah benar-benar benci. Aku bersumpah tidak akan ada satupun anak yang mau mendaftar dirinya pada sekolahmu itu!" Otakku mulai memikirkan sesuatu yang jahat.
Aku mengetik sebuah pesan singkat sebagai kejutan untuk kepala sekolah tercintaku itu. Aku ingin tau apa reaksinya jika aku memusuhinya.
[Ingat baik-baik aku bisa menjadi baik dan manis pada siapapun, aku juga menjadi jahat melebihi iblis jika orang itu berani mengusik ketenangan dan kedamaian yang aku punya. Jika baik diinjak-injak maka jahat adalah solusi utamanya.]
kurasa kepala sekolah akan sangat kaget ketika membaca pesan yang aku tulis ini mungkin juga kepala sekolah akan merengek meminta maaf padaku.
Ting!
Ponselku sepertinya menerima satu pesan baru. Ketika aku membacanya ternyata ini dari kepala sekolah, dia....
Halo semua ๐ค
Apa kabar kalian semua ๐
Sehat dong tentunya, gimana kritikan aku di novel kalian ada yang salah mohon maafkan๐
Terimakasih sudah mampir ๐
__ADS_1
Salam hangat dari author pemula โค๏ธ