Maju Selangkah Mati

Maju Selangkah Mati
Perjalanan Pulang


__ADS_3

"Kimmy Xi, aku tau kamu adalah anak yang berbakat dan selalu mendapatkan penghargaan dari banyak sekolah maupun pemerintahan. Ada satu hal yang ingin aku bahas denganmu, aku tau ini sangat lancang dan kurang sopan tapi aku tetap harus mengatakan ini. Aku mohon jadilah teman dekatku, aku hanya meminta ini padamu. Aku tidak berharap bisa berpacaran atau semacamnya denganmu." Dani mengatakan ini dengan tegas namun matanya seperti berkaca-kaca ketika mengatakan hal ini.


Aku menjadi semakin penasaran apa sebenarnya tujuan dia mengajakku berbincang di tempat ini, aku mencoba mengambil perhatiannya agar Dani mudah terkecoh.


"Dani Zi anak orang kaya ternama yang selama ini selalu menjadi populer di manapun anak keluarga Zi berada. Aku tidak ada maksud untuk menolakmu menjadi teman dekatku tapi," cakapku menggunakan nada manis yang sebenarnya tidak pernah aku gunakan pada siapapun kecuali Dani pada ayah dan ibupun aku tidak pernah menggunakan nada ini.


"Apa yang kau katakan, tapi. Tapi apa tolong jangan potong perkataan darimu katakan saja semuanya! Jangan memenggal ucapanmu lanjutkan saja!" akhirnya Dani mulai terkecoh dengan semua ini.


"Aku akan mengatakannya, tapi aku tidak bisa berteman dekat denganmu bisa-bisa wanita yang tadi pagi malah mengamuk lagi padaku apa kamu masih tidak mengerti!" gertakku pada Dani.


"Aku paham benar semua ini, aku bisa mengurusnya nanti kamu tenang saja. Aku jamin dalam waktu setengah hari dia akan mengerti semuanya, aku tidak ada niatan untuk berkenalan dengannya apalagi untuk berpacaran dengannya." Dani menjelaskan ini dengan wajah cemberut.


Aku sangat mengerti apa yang Dani rasakan bahwa dirinya sangat risih terhadap kelakuan wanita itu, aku masih belum menanyakan siapa nama wanita itu.


"Aku setuju untuk menjadi teman dekatmu tapi jika wanita itu mengusikku aku tidak akan melanjutkan pertemanan ini. Jadi aku harap kau mengerti semua ini," aku mengecamkan ini pada Dani.


Dani dan aku memutuskan untuk melanjutkan percakapan ini di lain waktu saja karena aku takut Bibi mencari diriku dan bisa saja Bibi sudah memanggil polisi saat ini.


"Dani ayo kita pulang aku takut Bibi membuat kekacauan atau bisa jadi sudah memanggil polisi saat ini," tuturku padanya.


"Baiklah ayo kita pulang, aku tidak mau di awal pertemanan antara aku dan kamu malah di awali dengan aku sebagai tersangka kasus penculikan, hahhaha." Dani tiba-tiba menjadi orang yang suka bercanda.


"Ayo kita pulang sekarang, kalo masih meneruskan percakapan ini kita tidak akan pulang." Aku langsung menarik tangan Dani sekuat tenaga.


Akhirnya aku dan Dani sudah berada di depan pintu gerbang sekolah. Suasana sudah sepi dan hanya tersisa aku dan Dani di sana mungkin semua orang sudah pulang dari tadi.

__ADS_1


"Kenapa sudah sangat sepi di sini sudah seperti tempat yang jarang di gunakan, eh iya Bibi kemana apa dia sudah menjemputku tadi. Apa Bibi mengiraku sudah pulang dari tadi atau gimana, semoga saja Bibi menungguku di rumah dan tidak pergi kemana-mana."


Sebuah mobil melaju kencang, mobil ini mengarah ke sekolah lalu setelah berada di depan gerbang mobil ini berhenti. Orang yang berada di dalam mobil ini adalah orang tua dari Dani Zi, orang tua Dani Zi sangat cantik dan tampan. Siapa yang menyangka orang tuanya masih sangat muda.


"Kimmy aku duluan ya, apa kamu sudah menelepon orang rumahmu?" tanya Dani sambil melambaikan tangannya.


"Sudah kok tadi, hati-hati di jalan ya. Sampai jumpa besok pagi." Aku membalas lambaian tangan dari Dani.


Orang tua Dani juga menyapa diriku dan melambaikan tangannya juga padaku.


"Kamu yakin sudah menelepon orang rumahmu? Jika tidak biar kami antar kamu pulang saja." Orang tua perempuan Dani menawarkan aku tumpangan.


"Sudah kok Tante, terimakasih ajakannya." Aku menjawabnya dengan wajah tersenyum.


Keluarga Dani Zi sangat harmonis seperti yang dikabarkan pada media massa, koran maupun televisi. Keluarga ini selalu menjadi sorotan publik setiap harinya.


Kini hanya tinggal aku sendiri menanti di dalam sepi tanpa ada yang menemani. Aku mulai berfikir bahwa aku harus memesan taksi online jika tidak mungkin aku akan pulang besok pagi.


Aku mulai membuka handphone sudah banyak pesan di WeChat, Facebook, Twitter dan WhatsApp. Pesan ini tidak lain di kirim oleh ayah untukku, aku tidak memperdulikan isi pesan yang dikirim oleh ayah ataupun ibu.


Saat ini aku membuka aplikasi pemesanan taksi online, aplikasi ini sangat mudah digunakan katanya. Walaupun sulit digunakan tetap saja akan terasa mudah bagiku masalah sepele seperti ini tidak bisa menggangu diriku.


Aku sudah memesan taksi, tinggal menunggu beberapa menit saja taksi yang aku pesan sudah tiba. Aku langsung memasuki taksi ini, di dalam taksi sangatlah nyaman. Kali ini, aku sangat beruntung mendapatkan taksi yang super duper bersih dan wangi.


Ada beberapa taksi yang jorok namun, sampai saat ini aku belum pernah bertemu dengan yang seperti itu dan berharap tidak akan pernah bertemu.

__ADS_1


Alamat sudah tertera seperti yang ada di aplikasi. Jadi, aku tak perlu repot-repot menjelaskan atau menunjukkan arah pada sopir taksi ini. Sopir taksi ini sangat pandai mengambil hati dari pelanggannya.


Di dalam taksi ini aku tidak merasa bosan karena sopir taksi ini menyuguhkan aku dengan lagu-lagu yang rileks, siapapun yang ada di dalam mobil ini pasti merasa tenang dan tidak akan merasakan jauhnya perjalanan yang akan di tempuh.


Jarak sekolah ke apartemenku hanya sekitar dua kilometer. Jarak ini lumayan jauh dan apabila berjalan kaki bisa saja kelelahan di tengah perjalanan.


Jika berjalan kaki waktu tempuh sekitar dua jam tapi jika mengendarai mobil hanya sekitar setengah jam tetapi apabila kondisi jalanan tidak sedang macet. Jalan menuju apartemen sebenarnya jarang sekali ada kemacetan kecuali jika ada perbaikan jalan saja baru kondisi jalanan menjadi macet atau terganggu.


Ketika aku berada di tengah perjalanan Bibi menelepon diriku berkali-kali. Ponsel yang aku pegang sekarang dalam keadaan diam jadi aku tidak bisa mendengar nada dering ponsel ini. Untungnya aku ingin sekali membuka handphone untuk melihat berita baru.


Aku hendak menghidupkan handphone lalu ada telepon masuk dari Bibi, aku langsung buru-buru mengangkatnya dan memberi tau pada Bibi bahwa aku sudah di perjalanan pulang agar Bibi tidak cemas padaku.


"Halo Bi, aku sedang di perjalanan pulang. Bibi tidak perlu khawatir, sekitar lima menit lagi aku sudah sampai tunggu saja." Aku langsung memberi tau pada Bibi tanpa basa-basi.


"Baiklah Nona, saya akan memasakkan makanan kesukaan Nona sekarang. Jika sudah berada di depan apartemen tolong telefon saya lagi," cakap Bibi.


Hai all 🤗


Terimakasih sudah mampir 😘


Jangan lupa like, komen, rate 5 dan vote buat aku 😊


Tinggalkan jejak biar mudah feedback-nya 😍


Salam hangat dari author pemula ❤️

__ADS_1


__ADS_2