Maju Selangkah Mati

Maju Selangkah Mati
Apartemen Baru


__ADS_3

Bibi kemudian, menutup teleponnya denganku. Baru saja Bibi memutuskan sambungan telepon denganku, aku malah sudah berada di depan apartemen yang ayah belikan untukku.


"Aduh, kenapa aku malah sudah sampai haruskah aku menelepon Bibi lagi ini sungguh lucu sekali kenapa takdir mempermainkan aku saat ini." Aku menepuk jidatku.


Mau tidak mau aku harus turun dan membayar tagihan taksiku, akupun membayar uang tagihan taksiku lalu masuk ke dalam apartemen. Beruntungnya aku apartemen yang ayah belikan berada di lantai empat jadi aku bisa mengulur waktu seakan-akan berada di perjalanan agar Bibi tidak kaget.


Aku memelankan langkah kakiku agar terasa sedikit lambat dan seperti berada di perjalanan. Sejujurnya, aku sangat tidak suka dengan keleletan tapi mau gimana lagi demi Bibi aku akan melakukannya meskipun aku sendiri tidak suka sama sekali.


Tak lama Bibi malah menelfonku kembali, untung saat itu aku masih berada di lantai dua. Aku sengaja tidak menggunakan lift agar dapat mengulur waktu menjadi lebih lama.


"Hello, Nona sudah berada di mana biar Bibi menunggu Nona di luar ya." Bibi mengatakan ini seperti sedang tertawa gembira.


Mendengar hal ini, aku tentu saja tidak ingin merusak kebahagiaan Bibi. Aku berbohong bahwa aku baru saja sampai dan masih di lantai dua saat ini.


"Bibi, aku sudah ada di lantai dua baru saja aku keluar dari lift. Bibi tidak usah repot-repot untuk menjemputku di luar apartemen. Bibi cukup menunggu saja di dalam apartemen biar aku yang datang menyapa dan memeluk erat dirimu wahai Bibiku tersayang." Ujarku sambil berjalan.


"Baiklah, Nona manis saya tidak akan menunggu di luar. Saya akan menunggu Nona di dalam sini dan menyajikan makanan supaya saat Nona tiba tinggal duduk dan makan saja," kata Bibi dan terdengar sangat riang gembira saat ini.


Kini malah aku duluan yang memutuskan telepon dari Bibi, langkah kaki ini tiada hentinya melangkah untuk bergegas ke apartemenku. Aku sangat kesusu untuk datang dan memeluk Bibiku tercinta lalu meminta maaf padanya.


"Aku rasa kali ini, aku harus meminta maaf pada Bibi karena aku tidak ingin Bibi sakit hati lalu meninggalkan aku sendirian. Bibi aku mohon jangan marah aku tidak sengaja melakukannya." Gumamku dalam hati kecilku.


Kini aku mulai menaiki lift agar lebih cepat dan tidak membuang-buang waktu yang aku punya, lift baru saja terbuka ternyata ada tetangga sebelah yang menggunakannya aku tidak tau siapa namanya tapi aku kenal dengan wajahnya.


Tetanggaku ini malah menyapa diriku yang sedang buru-buru.


"Eh kamu Kimmy ya? Tetangga sebelahku yang baru saja pindah kemaren ya?" tanya tetangga ini dengan sikap ramahnya.


"Iya Tante, tapi aku minta maaf saat ini aku sedang terburu-buru Bibiku sudah menungguku sekarang. Bye Tante." Aku menyapa dan melambaikan tanganku kemudian menekan tombol lift ke lantai empat.

__ADS_1


"Baiklah sampai jumpa." Balas Tante ini kepadaku.


Aku kini sudah berada di dalam lift dan sudah berada di lantai tiga saat ini, aku hanya berdiam diri sambil menonton film di dalam handphoneku walaupun film yang aku tonton tidak terlalu aku suka namun aku hanya suka animasi dan suaranya.


Ada yang bilang aku ini pencinta enime tapi aku tidak pernah menanggapi ini dengan serius karena semua orang berhak berpendapat tanpa adanya pengaruh dari siapapun.


Hal yang paling aku suka dari orang lain adalah pemikirannya bukan omongannya karena omongan bisa saja di ingkari atau di lupakan begitu saja oleh orang lain dan tentu saja aku paling benci orang yang seperti itu, semakin luas pemikiran orang maka akan semakin bagus tapi jika pemikiran satu orang sempit ini akibatnya sangat buruk.


Aku sudah sampai di lantai empat saat ini aku juga sudah berada di depan pintu apartemen yang di belikan oleh ayah.


Tintong, tintong!


Aku membunyikan bel masuk apartemen milikku. Aku hanya membunyikan bel hanya dua kali saja tapi Bibi sudah membuka pintu apartemen.


"Tunggu sebentar, Bibi datang Nona Muda yang paling manis." Teriakkan Bibi di balik pintu.


"Iya Bibi, aku tau Bibi akan membuka pintunya. Aku pasti akan menunggu Bibi," ucapku sambil teriak.


"Hoh, sedih sekali hidupku ini. Kenapa setiap hari aku selalu merasa tubuhku seperti patah semua." Aku mengeluh di hadapan diriku sendiri.


Pintu apartemen akhirnya terbuka. Bibi menyambut diriku dengan senyuman manis dan langsung memelukku dengan erat.


"Nonaku sayang, entah kenapa aku sangat merindukan Nonaku yang bawel dan sedikit manja ini," ucap Bibi dengan sambil memelukku.


"Bibi aku, aku, aku minta maaf tadi aku menutup teleponnya lebih dulu. Seharusnya aku menunggu Bibi yang menutup teleponnya," aku memeluk dan membalas perkataan Bibi.


"Nona hari ini apakah tidak ada telepon dari Tuan Besar?" tanya Bibi.


"Ada tadi sebelum sampai di sini Bibi tapi aku tidak mengangkat telepon dari Ayah." Jawabku lalu melepaskan pelukanku dengan Bibi.

__ADS_1


"Sudah, sudah ayo kita masuk dan makan jika tidak nanti makanannya jadi dingin lalu Nona tidak memiliki selera untuk makan. Apa Nona tidak kasian pada Bibi yang sudah tua ini?" Bibi mengajakku masuk untuk makan.


"Let's go Bibiku yang paling baik nan paling menyayangi diriku ini." Aku masuk sambil menggendong tasku dan menggenggam tangan Bibi.


Bibi dan aku masuk ke apartemen setelah itu aku mengunci pintu kembali agar tak ada satupun orang yang mengganggu apalagi mengacau acara yang Bibi buat untukku.


Masakan Bibi sudah tercium aroma masakan Bibi, Bibi sungguh adalah chef yang paling aku suka sampai saat ini dan aku menjamin tidak akan ada satupun orang yang bisa menggantikan masakkan Bibi di lidahku ini.


"Nyam,nyam,nyam, sungguh masakkan Bibi tidak ada tandingannya bahkan restoran kelas atas tidak akan mampu menyaingi masakkan Bibiku yang satu ini." Aku memuji Bibi di depan meja makan.


"Nona tercinta, tolong gantilah bajumu terlebih dahulu agar terhindar dari noda yang tidak sengaja menempel di baju Nona nanti. Apa Nona mau seragam baru ini malah kotor akibat noda makanan." Bibi menyuruhku mengganti bajuku terlebih dahulu.


"Baik Bibi, aku akan mengganti pakaianku terlebih dahulu dengan pakaian santaiku." Aku membawa tas sekolaku dan menaiki tangga lalu menghaturkan bajuku dengan pakaian biasa.


"Dasar anak ini," gumam Bibi sambilalu mengelap meja dapur.


"Aku sungguh sudah sabar untuk mencicipi masakan Bibi kali ini, Bibi masakkanmu adalah yang paling terbaik diantara yang lain." Aku terus saja memikirkan masakan Bibi.


"Nona apakah sudah berganti pakaian, Ayo cepat turun nanti makanannya dingin." Sekali lagi Bibi meneriakiku lagi.


"Aku datang Bibi." Aku berlari kencang keluar dan mengurangi kecepatanku saat berada di tangga.


Hi all 🤗


Selamat datang di lapakku 😊


Semoga kalian semua suka 😍


Jangan lupa like, komen, rate 5 dan vote 😘

__ADS_1


Tinggalkan jejak agar lebih mudah untuk feedback 😙


Salam hangat dari author pemula ❤️


__ADS_2