
Perjalanan kali ini memang sedikit jauh tapi tidak membosankan, tentu saja tak membosankan karena bibi dan aku tidak ada hentinya bercanda sehingga perjalanan yang aku rasakan sangatlah dekat. Namun saat ini aku teringat pada seseorang yang dulunya selalu mengantar jemput diriku setiap hari tanpa ada kata ‘Bosan,’ ya benar dia adalah Paman Riko alias paman sopir kesayanganku.
Bila waktu dapat di putar kembali aku ingin bahkan aku berharap bisa menjadi orang yang mengisi salah satu tawanya walaupun Paman Riko sedikit menyebalkan aku tidak dapat memungkirinya bahwa paman merupakan orang yang pernah membuat aku bahagia dan tersenyum akibat tingkah konyolnya ketika bersama dengan diriku ini.
“Non, kenapa murung? Ada masalah atau pikiran mengganjal apa hingga mempengaruhi fokusmu saat ini?” tanya bibi yang tak sengaja melihat aku yang sedang melamunkan Paman Riko.
“Aku merindukan Paman Riko Bibi, aku tak tau kenapa otakku mengajak diriku ke sana padahal aku juga sebenarnya tidak pernah menebak hal ini akan terjadi,” tuturku sembari memulihkan fokusku pada kenyataan atau menghilangkan dunia haluku.
“Nona sepertinya masih menyalahkan diri sendiri karena itu Nona tidak bisa melupakan Pak Riko, Bibi sudah mengenal Nona dari lama makanya saya bisa mengatakan hal ini pada Nona tanpa ada rasa ragu sedikitpun untuk mengutarakannya,” cakap bibi mengutarakan semua rasa yang menurutnya benar meskipun itu memang benar.
“Mungkin inilah rasanya kehilangan orang yang sangat berarti bagiku Bi. Namun, waktu untuk menyadarinya benar-benar terlambat. Aku harap orang lain tidak akan pernah melakukan kebodohan yang sama seperti yang aku lakukan saat ini.” Kataku dengan nada melow atau biasa di kenal dengan sebutan sedih.
“Bibi hanya bisa mendampingi saja agar Nona merasa lebih baik, tetapi untuk masalah memaksa agar Nona melupakan ini saya tidak punya hak sedikitpun agar Nona melakukan apa yang saya mau apalagi yang saya kehendaki,” balas bibi dan memberitahukan tentang kesadarannya bahwa dirinya tidak pantas untuk mengajakku melakukan apa yang bibi mau.
"Bibi kenapa berkata seperti ini, aku tidak akan pernah mengabaikan kata-kata Bibi. Bibi bagiku adalah orang tuaku lalu apa alasan dari Bibi untuk tidak ikut campur dalam hal ini, Bibi pantas dan berhak terhadapku!" seruku mengatakan semuanya pada bibi.
"Gadis manis yang dulunya adalah anak kecil sekarang sudah berubah menjadi anak yang mulai tumbuh dewasa." Bibi mengatakan ini dengan senyuman manisnya.
Aku sudah tidak sanggup lagi mengatakan apapun jadi aku langsung memeluk bibi tanpa basa-basi. Aku memang orang yang lemah di hadapan bibi, aku tidak bisa melawannya walaupun dalam ucapan, diriku sangat menyayanginya tanpa ada penghalang sedikitpun untukku.
Kasih sayang bibi memang melebihi kasih sayang orang tuaku tapi aku tidak bisa memungkiri bahwa aku adalah anak dari keluarga Xi.
"Pak belok kanan setelah itu lurus ya aja." Titah bibi pada sopir taksi.
"Siap Bu." Memutar setir ke kanan.
__ADS_1
Aku saat ini masih berada di pelukan hangat dari sang bibi tercinta, rasanya nyaman sekali ini adalah kehangatan yang tidak pernah di berikan oleh ibu padaku.
Mataku menangis, tentu saja aku menangis siapa yang tidak ingin mendapatkan kehangatan dari keluarga yang utuh. Tetapi, aku bukan orang yang beruntung seperti keluarga lain.
Sekarang aku hanya bisa bersyukur dan menjaga dengan baik apa yang masih ada di sisiku dan melupakan semua yang mengabaikanku.
Hidup ini memang tak selamanya seperti dongeng kerajaan pasti ada manis dan pahitnya juga. Jadi, tak seharusnya aku mempercayai orang sepenuhnya kecuali pada bibi.
Bibi mengelus lembut rambutku membuatku hanyut dalam belai kasih sayangnya yang tulus.
"Nona lebih baik istirahat dulu, jika kita sudah sampai saya akan membangunkan Nona nanti." Bibi semakin erat memelukku.
"Tapi, kalau aku istirahat Bibi dengan siapa? Apa Bibi tidak apa-apa aku tinggal sendiri seperti itu. Aku masih sangat ingin menemani Bibi." Aku merayu pada bibi agar aku bisa tetap merasakan kehangatan yang bibi berikan.
Bibi hanya menatapku lalu setelah itu bibi memejamkan matanya, aku sangat kebingungan melihat ini. Tapi beberapa menit sesudah bibi memejamkan matanya, bibi menjawab obrolan tadi.
"Aku istirahat dulu Bibi, jaga Bibi baik-baik Paman saat aku sedang tertidur lelap nantinya." Pintaku pada sopir taksi dan berpamitan pada bibi untuk istirahat di dekapan manjanya.
"Pasti saya jaga Bibimu, aku bisa jamin Bibi ini akan baik-baik saja selagi Anda tertidur pulas Anak Imut." Jawab paman sopir taksi ini dengan sangat ramah dan memuaskan hati orang yang mendengarnya.
"Terimakasih Paman."
Kupejamkan mata ini suara jalan terdengar jelas namun suara bibi dan paman sopir taksi sudah lenyap. Suasana hening tak ada satupun yang ingin memecahkan keheningan di dalam mobil ini.
Baru saja aku tertidur ternyata tempat yang di maksud oleh bibi sudah terlihat di mata indah sang bibi. Akhirnya, aku dan bibi sudah sampai di tempat ini.
__ADS_1
Tempat ini sangat indah dan ramai sekali orang-orang yang mendatangi tempat ini, banyak sekali juga orang yang menjual sesuatu di sini seperti balon, minuman, makanan dann mainan. Ini adalah pasar malam, tempat ini menyediakan mainan seperti mobil-mobil, pancing ikan dan sebagainya.
Anak-anak yang mendatangi tempat ini terlihat sangat bahagia karena yang aku lihat rata-rata anak yang ada di sini semuanya membawa ayah dan ibunya untuk bermain bersama dirinya.
Memang benar anak-anak tidak pernah bohong soal perasaannya. Jika senang anak-anak akan tertawa bahagia namun jika sedih anak-anak akan menangis. Beda halnya dengan orang dewasa di mana saat bersedih orang dewasa tertawa dan saat bahagia orang dewasa menangis.
Perbedaan ini memang bukan suatu hal yang tidak wajar. Orang dewasa memang pandai dalam menutupi rasa kesedihannya.
"Nona mau bermain apa?" tanya bibi yang sedang menatap banyak permainan di hadapan kami berdua.
"Tak tau Bi, Bibi suka main yang mana?" jawabku dan bertanya balik.
"Saya suka main mobil-mobil saat kecil tapi aku rasa ini sudah tidak cocok lagi dengan usia saya sekarang Nona." Balas bibi.
"Kalo gitu naik kuda-kudaan aja Bi gimana? Kita tinggal duduk aja tanpa melakukan apapun asik juga kalo sambil ngobrol saat menaiki ini." Aku menunjuk salah satu permainan yang lumayan menarik perhatianku saat ini.
Aku tidak memberi kesempatan kepada bibi untuk bicara, aku menarik bibi untuk pergi ke tempat kuda-kudaan berada.
Hi all 🤗
Selamat datang di lapakku 😊
Jangan lupa like, komen, rate 5 dan vote ya 😍
Buat yang belum di feedback aku mohon maaf, masih sibuk di real nanti sore aku feedback.
__ADS_1
Terimakasih sudah mampir 😉
Salam hangat dari author pemula ❤️